Iran Vs Amerika Memanas
Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Air dan Energi Timur Tengah Jika AS Serang Pembangkit Listrik
Iran mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi dan air di seluruh Timur Tengah jika Amerika Serikat menyerang pembangkit listrik Iran.
Ringkasan Berita:
- Iran mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi dan air di seluruh Timur Tengah jika Amerika Serikat menyerang pembangkit listrik Iran.
- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Minggu menyalahkan perusahaan asuransi atas gangguan navigasi di Selat Hormuz.
- Setidaknya 1.444 orang tewas dan 18.551 luka-luka dalam serangan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026.
TRIBUNNEWS.COM - Iran memperingatkan akan menargetkan infrastruktur energi dan air di seluruh Timur Tengah jika Amerika Serikat menyerang pembangkit listrik Iran seperti ancaman Presiden AS Donald Trump yang dia tulis di akun media sosialnya.
Trump Sabtu lalu, 21 Maret 2026 mengancam akan menghancurkan infrastruktur pembangkit listrik Iran jika dalam 2x24 jam tak segera membuka Selat Hormuz untuk alur pelayaran internasional.
Iran telah menutup jalur pelayaran Selat Hormuz yang amat vital bagi transportasi minyak dan gas dari Timur Tengah ke berbagai negara sebagai aksi balasan atas serangan perdana AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
Meskipun Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang beberapa kapal tanker yang mencoba menyeberangi selat tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Minggu menyalahkan perusahaan asuransi atas gangguan navigasi tersebut.
Perang Iran vs Amerika-Israel memasuki minggu keempat pada hari Senin, dengan kedua pihak tidak menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi dan harga energi global terus melonjak.
Trump menolak gencatan senjata pada akhir pekan, dengan alasan bahwa AS hampir secara signifikan mengurangi kemampuan rudal dan nuklir Iran. Namun, Teheran tetap menantang, bersumpah untuk melanjutkan pertempuran.
Israel mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka akan memperluas operasi darat melawan Hizbullah di Lebanon selatan, di mana IDF telah menghancurkan beberapa jembatan di atas Sungai Litani yang strategis.
Baca juga: Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran Jika Tak Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam
Setidaknya 1.444 orang tewas dan 18.551 luka-luka dalam serangan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari, kata Kementerian Kesehatan Iran.
Serangan balasan Iran menewaskan 15 orang di Israel dan tujuh anggota militer AS di pangkalan-pangkalan di wilayah tersebut. Enam anggota militer AS lainnya tewas dalam kecelakaan yang melibatkan pesawat pengisian bahan bakar.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengguncang pasokan seperlima kebutuhan minyak dunia dan memicu melonjaknya harga minyak mentah di pasar internasional lebih tinggi lagi.
Penutupan selat tersebut meningkatkan kekhawatiran akan guncangan pasokan global yang berkepanjangan.
Arab Saudi telah mengusir beberapa staf Kedutaan Besar Iran, termasuk atase militer, dan memerintahkan mereka untuk meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam karena serangan berkelanjutan Teheran di wilayah Teluk.
Baca juga: Iran Kantongi 2 Juta Dolar dari Bea Kapal yang Melintas Selat Hormuz
Sementara di Iran, ledakan dahsyat dilaporkan terjadi di seluruh Teheran, tak lama setelah Israel mengatakan telah meluncurkan "gelombang serangan besar-besaran" yang menargetkan infrastruktur pemerintah di kota tersebut.
Koresponden Al Jazeera Arab, Suhaib al-Asa, menggambarkan skala dan intensitas ledakan di bagian timur ibu kota Iran sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya."
Serangan udara juga dilaporkan di kota Bushehr di selatan, tempat pembangkit listrik tenaga nuklir satu-satunya Iran berada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pipa-minyak-Ras-Tanura-Saudi-Aramco-ok.jpg)