Konflik Rusia Vs Ukraina
Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.490, Zelenskyy Klaim Rusia Bantu Iran
Presiden Ukraina Zelenskyy mengatakan Rusia bantu Iran dalam menghadapi serangan AS dan Israel, berdasarkan informasi intelijen Ukraina.
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.490, Presiden Ukraina Zelenskyy mengungkap bukti baru dukungan intelijen Rusia ke Iran yang dinilai memperburuk konflik global.
- Tuduhan ini mencakup berbagi data militer dan kerja sama drone yang memicu ketegangan di Timur Tengah.
- Sementara itu, Rusia juga disebut menyiapkan basis drone di Belarus dan merencanakan serangan besar ke Ukraina.
- Di tengah konflik, AS dan sekutu tetap mendorong negosiasi damai meski situasi global kian kompleks.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.490 pada Selasa (24/3/2026).
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa pihaknya menemukan bukti baru terkait dukungan intelijen Rusia kepada Iran.
Dalam pidatonya pada 23 Maret, ia menegaskan bahwa kerja sama ini berpotensi memperburuk situasi global.
“Ada semakin banyak bukti bahwa Rusia terus memberikan dukungan intelijen kepada rezim Iran. Ini jelas merupakan aktivitas yang merusak dan harus dihentikan,” ujarnya, Senin (23/3/2026).
Zelenskyy menjelaskan bahwa bantuan tersebut tidak hanya meningkatkan ketegangan di Timur Tengah, tetapi juga berdampak pada stabilitas dunia, termasuk sektor energi.
“Pasar sudah bereaksi negatif, dan ini secara signifikan memperumit situasi bahan bakar di banyak negara," lanjutnya.
Menurutnya, langkah Rusia ini secara tidak langsung memperpanjang konflik yang sedang berlangsung di berbagai wilayah.
Ia pun mengajak negara-negara dunia untuk bersama-sama mencegah krisis yang lebih besar akibat kerja sama tersebut.
Sementara itu, laporan media internasional menyebut Rusia diduga membagikan informasi terkait posisi kapal dan pesawat militer Amerika Serikat di Timur Tengah kepada Iran.
Kerja sama intelijen dan militer antara kedua negara ini disebut semakin intens demi mendukung kepentingan strategis mereka di kawasan, lapor Pravda.
Baca juga: AS Longgarkan Sanksi Minyak, Yakin Rusia Tak Untung Besar
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang antara Rusia dan Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan serangan militer ke berbagai kota di Ukraina, menandai puncak ketegangan panjang di antara keduanya.
Perselisihan ini sebenarnya sudah berakar sejak runtuhnya Uni Soviet, ketika Ukraina mulai mendekat ke Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang membuat Rusia merasa pengaruhnya terancam.
Situasi semakin memanas pada 2014 melalui Revolusi Maidan di Kyiv yang mengubah arah politik Ukraina menjadi pro-Barat.
Sebagai respons, Rusia mencaplok wilayah Krimea, sementara konflik bersenjata juga pecah di Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang diduga didukung Rusia.
Ketegangan yang terus membara akhirnya meledak menjadi invasi besar-besaran setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer pada 2022.
Rusia berdalih langkah ini untuk melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas sekaligus menahan ekspansi NATO.
Aksi tersebut menuai kecaman global. Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia dan memberikan bantuan militer serta finansial kepada Ukraina.
Sejak saat itu, perang Rusia–Ukraina menjadi salah satu konflik paling krusial di dunia dengan dampak luas di berbagai sektor global.
AS mengambil peran sebagai penengah dalam perundingan Ukraina dan Rusia yang bertujuan untuk mengakhiri perang, namun proses tersebut terhambat setelah AS menyerang Iran, yang menyebabkan fokus AS sedikit teralihkan dari Ukraina.
Hingga saat ini, perang masih berlanjut dan AS berupaya mendorong kedua negara untuk melanjutkan perundingan.
Perang Rusia dan Ukraina masih berlangsung dengan berbagai perkembangan dalam rangkuman berita di bawah ini:
-
Rusia Siapkan Basis Drone di Belarus, Zelenskyy Ancam Balasan Keras
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengungkap rencana Rusia membangun empat stasiun kendali drone jarak jauh di Belarus.
Ia menegaskan Ukraina akan memberikan respons tegas yang “akan terasa”, seraya menginstruksikan intelijen untuk memberi tahu sekutu Kyiv.
Zelenskyy juga mengingatkan bahwa dukungan Belarus sebelumnya telah memperparah dampak serangan Rusia sebelum Ukraina mengambil langkah balasan.
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri Belarus belum memberikan tanggapan resmi, seperti diberitakan The Guardian.
-
Uni Eropa Desak Klarifikasi Hongaria, Diduga Bocorkan Rahasia ke Rusia
Uni Eropa menuntut penjelasan dari Hongaria setelah muncul tuduhan bahwa Menlu Peter Szijjarto membagikan informasi sensitif kepada Rusia.
Laporan media menyebut ia rutin berkomunikasi dengan Sergei Lavrov selama jeda pertemuan Uni Eropa.
Tuduhan ini memicu kemarahan di Brussels, terutama karena sikap Viktor Orbán yang dinilai dekat dengan Rusia.
Meski dibantah sebagai “berita palsu”, Jerman menilai isu tersebut sangat serius dan menegaskan pentingnya kerahasiaan dalam forum Uni Eropa.
Perwakilan Tetap Ukraina untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Andriy Melnyk, menuding kerja sama militer antara Rusia dan Iran sebagai eskalasi berbahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada 23 Maret, ia menyebut produksi massal dan pengiriman drone Shahed oleh Rusia ke Teheran berpotensi menimbulkan korban besar dan memperluas konflik.
Melnyk mengungkapkan bahwa Ukraina bahkan telah mengirim ratusan spesialis ke negara-negara Teluk untuk membantu menghadapi ancaman udara, termasuk mencegat drone buatan Iran.
Ia menilai langkah ini penting karena drone Shahed yang kini digunakan Iran justru diproduksi di Rusia berdasarkan lisensi dari Teheran.
Perwakilan tersebut mengatakan drone yang sama sebelumnya dikirim Iran ke Rusia sejak awal invasi 2022 untuk menyerang Ukraina, kini “berbalik arah” dan digunakan dalam konflik di Timur Tengah.
Menurut Melnyk, hal ini menunjukkan hubungan yang semakin erat dan berbahaya antara kedua negara.
Ia juga menuduh Moskow bukan hanya sekutu utama Iran, tetapi juga berperan aktif dalam mendukung serangan terhadap infrastruktur sipil di kawasan Teluk.
Dukungan tersebut, kata Melnyk, mencakup pemberian intelijen seperti citra satelit yang membantu Iran menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat.
Tak hanya itu, Rusia disebut pernah mengirim helikopter serang ke Iran yang diduga melanggar pembatasan senjata PBB.
Melnyk pun menyebut hubungan militer antara Moskow dan Teheran sebagai “aliansi kejahatan” yang menjadi ancaman serius bagi stabilitas dan keamanan global, lapor Suspilne.
Volodymyr Zelenskyy menyebut Ukraina memiliki bukti kuat bahwa Rusia terus menyalurkan intelijen kepada Iran.
Menurutnya, dukungan ini memperpanjang konflik di Timur Tengah dan memperburuk stabilitas global, termasuk sektor energi.
Ia menilai tindakan tersebut sebagai ancaman serius yang harus segera dihentikan oleh komunitas internasional.
Sementara itu, Kremlin membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai informasi tidak benar.
-
AS-Ukraina Genjot Dana Rekonstruksi, Target Investasi Capai 200 Juta Dolar
Pejabat tinggi Amerika Serikat mengunjungi Kyiv untuk membahas percepatan proyek dalam Dana Investasi Rekonstruksi AS-Ukraina.
Dana yang fokus pada sektor strategis seperti mineral, energi, dan teknologi ini ditargetkan mencapai 200 juta dolar pada akhir tahun.
Ukraina berharap tiga proyek awal segera disetujui dalam waktu dekat.
Kedua pihak optimistis kerja sama ini dapat mempercepat pemulihan ekonomi di tengah konflik yang masih berlangsung.
-
Zelenskyy Peringatkan Serangan Besar Rusia, Upaya Pembunuhan Berhasil Digagalkan
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengungkap adanya potensi serangan besar Rusia yang diperkirakan terjadi pada malam 23–24 Maret.
Dalam pidatonya, ia meminta masyarakat tetap waspada terhadap peringatan serangan udara.
“Harap perhatikan peringatan serangan udara hari ini. Ada informasi dari intelijen kami bahwa Rusia mungkin sedang mempersiapkan serangan skala besar,” ujar Zelenskyy, Senin (23/3/2026).
Zelenskyy memastikan bahwa sistem pertahanan udara telah disiagakan untuk menghadapi kemungkinan tersebut.
Ia juga mengingatkan warga agar tetap berhati-hati di tengah situasi yang semakin tegang.
“Perintah yang diperlukan telah diberikan kepada pasukan pertahanan udara kami. Harap jaga diri Anda dan Ukraina,” tambahnya.
Selain ancaman serangan, Ukraina juga mengklaim berhasil menggagalkan rencana pembunuhan yang diduga disusun oleh pihak Rusia.
Sejumlah tersangka telah diamankan, meski detail operasi tersebut belum diungkap ke publik.
Zelenskyy menegaskan bahwa upaya melawan jaringan agen Rusia terus dilakukan, termasuk yang beroperasi melalui komunitas tertentu.
“Upaya melawan jaringan agen musuh juga terus berlanjut,” katanya, seraya mengapresiasi peran aparat keamanan yang berhasil mencegah ancaman tersebut, lapor Pravda.
-
Lebih dari 15 Ribu Warga Sipil Tewas, PBB Desak Akhir Perang Ukraina
United Nations melaporkan sedikitnya 15.364 warga sipil, termasuk ratusan anak-anak, tewas sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Amerika Serikat menyatakan tetap berkomitmen mendorong negosiasi damai antara kedua pihak.
Upaya diplomasi terus dilakukan, termasuk pembicaraan bilateral terbaru di Miami.
Namun, konflik lain di Timur Tengah turut membayangi proses perdamaian yang diharapkan segera tercapai.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Volodymyr-Z3l3nskyy-253465346t34t34t4.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.