Konflik Rusia Vs Ukraina
Zelensky Ungkap Kekecewaan: AS Dinilai Sibuk Urus Perang Iran, Ukraina Mulai Ditinggalkan
Zelensky kecewa AS dinilai lebih fokus ke Iran. Negosiasi damai mandek, bantuan senjata terancam berkurang, Ukraina mulai cari dukungan baru global.
Ringkasan Berita:
- Zelensky kecewa AS dinilai lebih fokus ke konflik Iran, sehingga negosiasi damai Ukraina–Rusia melambat dan Ukraina merasa mulai tidak diprioritaskan.
- Gencatan senjata gagal dan konflik kembali memanas, ditandai saling serang drone antara Rusia dan Ukraina, membuat upaya perdamaian semakin buntu.
- Ukraina khawatir bantuan senjata AS berkurang, sehingga mulai mencari dukungan baru lewat kerja sama pertahanan dengan negara Timur Tengah untuk memperkuat posisi militer.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyoroti perubahan fokus diplomasi Amerika Serikat yang menurutnya kini lebih banyak tersita oleh ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik Iran.
Hal ini membuat upaya perdamaian antara Ukraina dan Rusia dinilai berjalan lebih lambat dan kurang mendapat perhatian penuh.
Pernyataan tersebut disampaikan Zelensky dalam wawancara dengan media Jerman ZDF, Rabu (15/4/2026).
Dalam pernyataan resminya, Zelensky menyebut bahwa dua tokoh yang terlibat dalam proses negosiasi, yaitu Steve Witkoff dan Jared Kushner, saat ini lebih sering terlibat dalam pembicaraan terkait Iran.
Kondisi itu membuat Ukraina merasa kurang diprioritaskan dalam agenda diplomasi Amerika Serikat.
Meski begitu, ia tetap menggambarkan para negosiator tersebut sebagai pihak yang “pragmatis” dan masih berupaya mencari jalan untuk membuka komunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin demi mengakhiri perang.
Negosiasi Damai Ukraina-Rusia Mandek
Diketahui sebelumnya, Rusia dan Ukraina sempat menyepakati gencatan senjata singkat saat perayaan Paskah Ortodoks yang berlangsung selama 32 jam.
Gencatan senjata tersebut dimulai pada Sabtu, 11 April 2026 pukul 16.00 waktu setempat, dan berakhir pada Minggu, 12 April 2026. Namun, kesepakatan itu langsung diikuti dengan saling tuduh pelanggaran antara kedua pihak.
Militer Ukraina melaporkan bahwa Rusia melancarkan serangan menggunakan 98 drone tempur ke wilayahnya. Dari jumlah tersebut, 87 drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina.
Sebaliknya, Rusia juga mengklaim bahwa pada 13 April 2026, sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan 33 pesawat tanpa awak milik Ukraina.
Laporan saling serang ini menunjukkan bahwa gencatan senjata tidak berjalan efektif dan kembali memperburuk situasi di lapangan.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.511: Front Utara Panas, Ukraina Lakukan Reposisi Pasukan
Kegagalan mempertahankan gencatan senjata ini memperpanjang konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun. Perang Rusia–Ukraina kini tercatat sebagai salah satu konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II.
Situasi yang terus memburuk, menambah kekhawatiran komunitas internasional terhadap masa depan proses perdamaian.
Presiden Zelensky menilai, jika fokus Washington bergeser dan pendekatan diplomasi terhadap Rusia menjadi terlalu lunak, maka posisi Ukraina dalam konflik akan semakin tertekan.
“Jika Amerika Serikat tidak menekan Putin dan hanya berdialog lembut, Rusia tidak akan takut,” tegas Zelensky, mengutip dari Dawn.