Iran Vs Amerika Memanas
Media Israel Haaretz: 8 dari 10 Rudal yang Diluncurkan Iran Berhasil Menghantam Target
Dalam laporan terbarunya, Haaretz menyebutkan, delapan dari sepuluh rudal balistik yang diluncurkan Iran berhasil mencapai target.
Ringkasan Berita:
- Media Israel Haaretz dalam laporan terbarunya mengungkap fakta mengejutkan terkait efektivitas serangan rudal Iran ke wilayah Israel.
- Disebutkan bahwa delapan dari sepuluh rudal balistik Iran berhasil mencapai target, memperlihatkan kelemahan sistem pertahanan rudal Israel dan Amerika Serikat.
- Para analis militer menilai keberhasilan ini meningkat karena sistem pertahanan udara Israel mengalami kelelahan akibat intensitas serangan yang tinggi dan berkelanjutan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Media Israel Haaretz mengungkap fakta mengejutkan terkait efektivitas serangan rudal Iran ke wilayah Israel.
Haaretz adalah salah satu surat kabar harian tertua dan paling berpengaruh di Israel, dikenal dengan sikap editorial yang liberal dan progresif.
Media ini sering dianggap sebagai suara kritis terhadap kebijakan pemerintah Israel, dengan fokus pada isu politik, budaya, dan hubungan internasional.
Dalam laporan terbarunya, Haaretz menyebutkan, delapan dari sepuluh rudal balistik yang diluncurkan Iran berhasil mencapai target.
Temuan ini memperkuat berbagai laporan lapangan dan rekaman visual yang menunjukkan kegagalan sistem pertahanan rudal Israel dan Amerika Serikat dalam menghadapi serangan intensif tersebut.
Para analis militer Israel menilai tingkat keberhasilan ini terus meningkat seiring semakin tertekannya sistem pertahanan udara.
Jaringan pertahanan rudal yang sebelumnya menjadi andalan kini mengalami kelelahan sistemik akibat intensitas serangan yang tinggi dan berkelanjutan. Kondisi ini diperparah oleh rusaknya sejumlah radar penting milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Radar-radar tersebut, termasuk yang berada di negara sekutu seperti Qatar dan Uni Emirat Arab, sebelumnya berperan penting dalam memberikan data deteksi dini.
Namun, kehancuran sistem radar ini mengurangi kemampuan Israel dan AS dalam mengantisipasi arah serta waktu datangnya rudal. Akibatnya, respons pertahanan menjadi lebih lambat dan kurang efektif.
Selain itu, serangan masif yang dilakukan kelompok Hezbollah dari Lebanon juga turut memperparah situasi.
Serangan simultan dari berbagai arah membuat sistem pertahanan Israel dan AS kewalahan, sehingga meningkatkan peluang rudal Iran untuk menembus pertahanan dan menghantam target strategis.
Sebelum pecahnya serangan besar pada 28 Februari, Amerika Serikat sebenarnya telah mengerahkan berbagai sistem pertahanan canggih ke wilayah Israel dan sekitarnya.
Sistem seperti THAAD milik Angkatan Darat AS ditempatkan di Israel dan Yordania, sementara Angkatan Laut mengoperasikan kapal perusak dengan sistem AEGIS yang mampu meluncurkan rudal pencegat seperti SM-2, SM-3, dan SM-6.
Namun demikian, stok rudal pencegat yang dimiliki AS dan Israel mengalami penurunan drastis. Persediaan tersebut bahkan belum sepenuhnya pulih sejak konflik singkat selama 12 hari dengan Iran pada Juni 2025.
Hal ini membuat kemampuan pertahanan semakin terbatas di tengah intensitas serangan yang terus meningkat.
Iran sendiri menggunakan berbagai jenis rudal balistik dengan kemampuan penetrasi tinggi. Salah satunya adalah Fattah 2 yang dilengkapi teknologi hipersonik, serta varian sebelumnya, Fattah, yang menggunakan kendaraan masuk ulang bermanuver.
Teknologi ini memungkinkan rudal menghindari sistem pencegat dan tetap mengenai target dengan akurasi tinggi.
Rekaman yang beredar menunjukkan rudal-rudal Iran mampu menghindari beberapa lapis intersepsi sebelum akhirnya menghantam sasaran.
Selain itu, penggunaan hulu ledak ganda juga semakin menyulitkan sistem pertahanan dalam melakukan pencegatan secara efektif.
Serangan Iran juga diklaim berhasil menghancurkan sistem radar bernilai tinggi milik AS, termasuk AN/FPS-132 di Qatar serta dua radar AN/TPY-2 di Yordania dan Uni Emirat Arab.
Kehilangan ini membuat sistem pertahanan semakin bergantung pada radar berbasis kapal dan satu stasiun radar tersisa di Turki.
Rudal Tomahawk
Di sisi lain, kekhawatiran besar muncul dari dalam Pentagon terkait cepatnya pengurasan stok rudal jelajah BGM-109 Tomahawk milik Angkatan Laut Amerika Serikat.
Dalam empat minggu pertama konflik, diperkirakan sekitar 900 hingga 1.000 rudal telah digunakan dari total persediaan yang berkisar antara 3.000 hingga 4.500 unit.
Penggunaan dalam jumlah besar ini dipicu oleh sulitnya menembus pertahanan udara Iran.
Berbeda dengan konflik sebelumnya di Irak atau Libya, di mana pertahanan musuh dapat dengan cepat dilumpuhkan, Iran justru mampu mempertahankan sistem pertahanannya, sehingga memaksa AS menggunakan rudal jarak jauh yang mahal secara terus-menerus.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait keberlanjutan operasi militer AS. Dengan biaya per unit mencapai sekitar 3,6 juta dolar AS, penggantian rudal yang telah digunakan diperkirakan menelan biaya hingga miliaran dolar.
Bahkan, sejumlah pejabat menyebut stok yang tersisa di kawasan Timur Tengah berada pada level yang mengkhawatirkan.
Jika konflik berkepanjangan, dampaknya tidak hanya terbatas pada perang melawan Iran, tetapi juga pada kesiapan militer AS di kawasan lain seperti Arktik, Selat Taiwan, hingga Semenanjung Korea.
Pengurasan besar-besaran ini mencerminkan tantangan serius dalam mempertahankan dominasi militer global di tengah perang berintensitas tinggi yang berkepanjangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/GAME-CHANEGR-Peluncuran-rudal-Qassem-Basir-oleh-militer-Iran.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.