Iran Vs Amerika Memanas
Demi Iran, Houthi Siap Tutup Selat Bab al-Mandeb, Perdagangan Global Terancam Kacau
Houthi ancam tutup Selat Bab al-Mandeb demi dukung Iran. Jalur vital dunia terancam lumpuh, minyak bisa melonjak, ekonomi global di ambang krisis.
Ringkasan Berita:
- Houthi memperluas peran dalam konflik Iran vs AS-Israel dan mengancam menutup Selat Bab al-Mandeb sebagai bagian strategi tekanan, meski belum resmi diblokade.
- Keterlibatan Houthi didorong kedekatan dengan Iran serta solidaritas dengan sekutu seperti Hezbollah, dengan tujuan meningkatkan tekanan terhadap AS dan Israel.
- Jika ditutup, jalur vital yang dilalui 10 persen perdagangan dunia ini bisa memicu lonjakan harga minyak, gangguan rantai pasok, inflasi global, hingga krisis ekonomi luas.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi Yaman memperluas tekanan dengan menutup Selat Bab al-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Kelompok Houthi menegaskan bahwa serangan terhadap Israel akan terus berlanjut hingga agresi dihentikan.
Pernyataan tersebut menandai potensi terbukanya front baru dalam konflik kawasan yang semakin kompleks dan berisiko meluas.
Meski belum secara resmi mengumumkan blokade, sinyal yang disampaikan para pejabat Houthi menunjukkan bahwa opsi tersebut tetap terbuka sebagai bagian dari strategi eskalasi berikutnya.
Seorang pejabat Houthi bahkan menyebut penutupan Selat Bab al-Mandeb sebagai “salah satu pilihan strategis” yang bisa diambil.
Pernyataan ini mempertegas bahwa ancaman tersebut bukan sekadar retorika, melainkan bagian dari kalkulasi geopolitik yang sedang disiapkan.
Namun di sisi lain, langkah itu juga dinilai berisiko tinggi karena berpotensi memicu respons militer besar-besaran terhadap Yaman, baik dari Amerika Serikat (AS) maupun sekutunya.
Adapun keterlibatan Houthi dalam konflik Iran melawan AS dan Israel bukan hal mengejutkan, kedekatan strategis dengan Iran menjadi alasan utama.
Houthi merupakan bagian dari jaringan aliansi regional yang sering disebut sebagai “poros perlawanan”, yang dibangun Iran untuk menghadapi pengaruh Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
Meski tidak sepenuhnya berada di bawah kendali Iran, hubungan keduanya cukup erat, terutama dalam dukungan militer dan politik.
Solidaritas terhadap sekutu regional juga mendorong keterlibatan Houthi. Hal ini ditegaskan oleh pejabat Houthi, Mohammed Mansour, yang menyatakan bahwa kelompoknya berkoordinasi dengan Iran, Lebanon, dan Irak.
Ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dan kelompok seperti Hezbollah yang juga terlibat dalam konflik.
Apakah Houthi Benar-Benar Akan Menutup Selat?
Dengan terlibat langsung dalam konflik besar, Houthi berupaya memperkuat posisinya sebagai aktor penting di Timur Tengah, tidak hanya di dalam konflik domestik Yaman, tetapi juga dalam dinamika geopolitik internasional.
Situasi tersebut lantas memicu kekhawatiran, terutama setelah munculnya ancaman dari kelompok Houthi untuk menutup Selat Bab al-Mandeb.
Kendati demikian, para analis menilai bahwa keterlibatan Houthi saat ini masih berada pada tahap terbatas.
Baca juga: Perang Iran Hari ke-31, Ancaman Invasi Hambat Upaya Damai, Harga Minyak Naik, Pasar Asia Terpukul