Iran Vs Amerika Memanas
Unilever Stop Rekrut Karyawan Baru Secara Global, Perang Iran Jadi Biangnya
Unilever menyebutkan bahwa pembekuan rekrutmen ini dilakukan segera setelah mempertimbangkan efek domino dari ketegangan di Iran.
Kebenaran terkait beredarnya isi memo internal perusahaan tersebut akhirnya juga dikonfirmasi secara resmi oleh pihak manajemen Unilever pada Senin awal pekan ini (30/3/2026).
"Karena lingkungan eksternal yang tidak pasti, kami telah memutuskan untuk memberlakukan penghentian sementara pada rekrutmen kami, perusahaan akan selalu menyesuaikan rencana sesuai kebutuhan." terang pihak Unilever seperti yang dilansir dari Reuters.
Program Efisiensi dan Pengurangan Karyawan
Kebijakan penghentian rekrutmen ini menambah panjang daftar upaya efisiensi yang telah dilakukan Unilever sejak tahun 2024.
Unilever diketahui tengah menjalankan program penghematan biaya yang ditargetkan mencapai sekitar 800 juta euro atau setara Rp13,7 triliun selama tiga tahun ke depan.
Rencana efisiensi tersebut sebelumnya diprediksi akan berdampak pada sekitar 7.500 posisi pekerjaan di seluruh dunia, yang mayoritas berbasis di kantor.
Data menunjukkan bahwa jumlah karyawan Unilever saat ini mencapai 96.000 orang, turun secara signifikan dibandingkan dengan tahun 2020 yang mencapai sekitar 149.000 orang.
Baca juga: Makin Berani Lawan Trump, Spanyol Tutup Wilayah Udaranya bagi Pesawat AS dalam Perang Iran
Unilever juga dilaporkan sedang berjuang untuk meningkatkan volume penjualan di seluruh unit bisnisnya pascapandemi Covid-19.
Sebagai bagian dari perombakan besar di bawah kepemimpinan CEO Fernando Fernandez, Unilever juga sedang dalam pembicaraan untuk menjual bisnis makanannya kepada kompetitor, McCormick & Company.
Dalam skema kombinasi bisnis yang diusulkan tersebut, pemegang saham grup asal Inggris ini kemungkinan besar akan tetap memegang saham mayoritas dalam entitas baru tersebut.
(Tribunnews.com/Bobby)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/unilever-gedung-new.jpg)