Rabu, 3 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ulah Trump di Iran Buat Harga BBM di AS Melonjak, Tembus Rp68 Ribu, Tertinggi sejak 2022

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, Amerika Serikat (AS) diguncang dengan kenaikan harga BBM yang cukup fantastis.

Tayang:
Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Febri Prasetyo

Ringkasan Berita:
  • Ulah Presiden AS, Donald Trump yang menyerang Iran sejak 28 Februari 2026 lalu, membuat negaranya terpuruk.
  • Bagaimana tidak, akibat tindakan Trump tersebut, Iran menutup Selat Hormuz, jalur yang menjadi penyaluran minyak ke seluruh dunia.
  • Kini, AS terkena dampaknya dengan harga BBM di Negeri Paman Sam tembus di angka US$4 atau sekitar Rp68.000 per galon per Senin (30/3/2026).

TRIBUNNEWS.COM - Warga Amerika Serikat (AS) mulai panik setelah harga bahan bakar minyak (BBM) di Negeri Paman Sam melonjak drastis.

Harga rata-rata BBM di AS menembus angka US$4 atau sekitar Rp68.000 per galon per Senin (30/3/2026).

Kenaikan harga BBM ini terjadi akibat ulah Presiden AS Donald Trump yang melancarkan serangan ke Iran sejak 28 Februari 2026 lalu.

Ketegangan di Timur Tengah tersebut telah memicu kekacauan pada rantai pasokan energi global, mirip dengan situasi saat Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 silam.

"Perang yang pecah tiba-tiba ini langsung memukul harga bensin."

"Situasinya hampir sama dengan tahun 2022, di mana harga minyak dunia meroket dan cadangan darurat harus mulai dikerahkan," ungkap Pavel Molchanov, analis dari Raymond James, mengutip Reuters.

Bagi warga AS, angka US$4 per galon bukan sekadar statistik, melainkan beban nyata.

Survei terbaru dari Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa sekitar 55 persen responden mulai merasakan dampak kenaikan harga ini terhadap keuangan rumah tangga mereka.

Bahkan, 21 persen di antaranya mengaku sangat terpukul.

Ekonom Jeremy Siegel dari WisdomTree menyebutkan bahwa bensin adalah indikator ekonomi yang paling terlihat oleh konsumen.

Begitu harganya melonjak, psikologi pasar akan langsung bereaksi negatif.

Baca juga: Trump Bersedia Akhiri Perang dengan Iran meski Selat Hormuz Ditutup, AS Ingin Capai Tujuan Utamanya

Untuk menghadapi tekanan ini, pemerintahan Trump tidak tinggal diam.

Pemerintah AS telah mengeluarkan kebijakan darurat berupa penangguhan Jones Act selama 60 hari.

Langkah ini mengizinkan kapal asing untuk mengangkut bahan bakar antarpelabuhan di AS demi memperlancar distribusi.

Namun, banyak pihak meragukan efektivitas kebijakan tersebut.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved