Iran Vs Amerika Memanas
Gas Langka Ini Jadi Rebutan Buntut Konflik Timur Tengah, Industri Terancam Lumpuh
Dampak konflik Timur Tengah buat pasokan helium langka, industri teknologi, medis, hingga ekonomi dunia kini terancam lumpuh dan harga melonjak.
Ringkasan Berita:
- Gangguan ekspor dari Qatar dan jalur Selat Hormuz membuat pasokan helium dunia menipis dan diperebutkan.
- Kelangkaan helium mengganggu produksi chip AI, operasional MRI, riset ilmiah, hingga industri luar angkasa.
- Pasokan terbatas picu lonjakan harga, inflasi, dan tekanan pada rantai pasok global serta pertumbuhan ekonomi.
TRIBUNNEWS.COM - Konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah selama lebih dari satu bulan kini mulai berdampak luas ke sektor energi global.
Tidak hanya minyak dan gas alam, krisis juga mulai menghantam pasokan gas helium dunia, komoditas vital yang selama ini luput dari perhatian publik.
Gas helium yang dikenal sebagai pengisi balon ternyata memiliki peran krusial dalam mendinginkan mesin pembuat chip kecerdasan buatan (AI) serta menjaga stabilitas magnet superkonduktor pada alat pemindai MRI di rumah sakit.
Mengutip dari Wall Street Journal, krisis helium dipicu oleh terhentinya ekspor gas alam dari Qatar yang selama ini menyumbang sekitar sepertiga pasokan helium dunia.
Sebagian besar ekspor tersebut diketahui melewati Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang kini ditutup Iran sebagai bentuk balasan atas serangan AS dan Israel yang menargetkan sejumlah pimpinan tinggi Teheran
Situasi semakin memburuk setelah serangan terhadap fasilitas liquefied natural gas (LNG) Ras Laffan di awal Maret yang menyebabkan kerusakan signifikan.
Dampaknya, kapasitas ekspor helium Qatar dipangkas hingga 14 persen dan diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk pulih sepenuhnya, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal.
Alhasil perusahaan-perusahaan yang biasanya bergantung pada kontrak jangka panjang kini berebut untuk mengamankan kargo jangka pendek yang sangat terbatas.
Pemasok gas industri asal AS, Airgas, bahkan menyatakan status force majeure atau kondisi luar biasa yang terjadi di luar kendali manusia yang menyebabkan badan usaha tidak mampu untuk memenuhi kewajiban yang telah disepakati dalam kontrak
Dalam suratnya kepada pelanggan, Airgas menyatakan hanya mampu memenuhi separuh dari permintaan bulanan normal dan menerapkan biaya tambahan sebesar 13,50 dollar AS per seratus kaki kubik di atas harga kontrak.
Baca juga: Bos AirAsia Jamin Tarif Maskapainya Tetap Terjangkau meski Ada Krisis BBM
Kelangkaan Helium Ancam Industri Teknologi hingga Layanan Medis
Kelangkaan gas helium yang dipicu oleh gangguan pasokan global kini mulai menimbulkan dampak serius di berbagai sektor strategis.
Tidak hanya terbatas pada industri energi, krisis ini kini merembet ke bidang teknologi tinggi, kesehatan, hingga riset ilmiah, yang semuanya sangat bergantung pada ketersediaan helium.
Di sektor teknologi, helium memiliki peran vital dalam proses produksi semikonduktor, termasuk chip untuk kecerdasan buatan (AI).
Gas ini digunakan sebagai pendingin dalam proses manufaktur yang membutuhkan suhu sangat rendah dan stabil.
Tanpa pasokan helium yang memadai, produksi chip berisiko terganggu, yang pada akhirnya dapat memperlambat perkembangan teknologi digital global serta memicu kenaikan harga perangkat elektronik.