Imbas Krisis BBM, Warga Thailand Ramai Berhijrah Pakai Kendaraan Listrik
Sebagai salah satu negara paling terdampak oleh krisis BBM, Warga Thailand kini mulai ramai berhijrah menggunakan mobil listrik
"Berapa banyak orang yang akan beralih ke EV tidak dapat disimpulkan pada saat ini, karena harga minyak tetap fluktuatif," ujarnya pada Selasa (31/3/2026).
Langkah strategis ini diambil saat Thailand merasakan dampak tidak langsung dari konflik Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak mentah dan olahan.
Diperparah dengan menipisnya cadangan Dana Bahan Bakar Minyak, pemerintah terpaksa menaikkan harga BBM domestik, di mana harga solar melonjak menjadi 40,74 baht (sekitar Rp 17.700) per liter pada 31 Maret.
"Subsidi dari dana tersebut dapat meningkat, dan pemerintah mungkin perlu meminjam uang untuk mendukungnya," tambah ML Peekthong, mengindikasikan bahwa situasi krisis ini dapat mendorong lebih banyak masyarakat membeli mobil listrik.
Menghadapi perubahan lanskap energi ini, PTT OR telah menyiapkan anggaran investasi sebesar 58 miliar baht (sekitar Rp 25,2 triliun) untuk periode 2026-2030, di mana 38 miliar baht (sekitar Rp 16,5 triliun) di antaranya akan dialokasikan untuk operasional minyak dan penambahan SPKLU.
"Kami ingin fokus pada pengembangan infrastruktur, transportasi minyak dan pengisian daya EV," kata ML Peekthong.
Melalui ekspansi SPKLU ini, perusahaan menargetkan peningkatan jumlah pengguna layanan pengisian daya menjadi 7.000 pengendara dengan rata-rata waktu pengisian 7 jam per hari pada 2030.
Angka ini menunjukkan peningkatan tajam dari 1.600 pengguna dengan rata-rata 4 jam per hari pada 2023.
"Layanan pengisian daya EV berkembang sangat cepat, mencerminkan bahwa listrik menjadi bahan bakar utama," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Bobby)