Senin, 13 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pakar: Meski Perang Iran Benar Berakhir dalam 2 Minggu, Masalah BBM Tidak Bisa Langsung Selesai

Meski Donald Trump menyebut perang bisa selesai dalam 2–3 minggu, pemulihan sektor energi global butuh waktu jauh lebih lama.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Febri Prasetyo

Ringkasan Berita:
  • Meski Donald Trump menyebut perang bisa selesai dalam 2–3 minggu, pemulihan sektor energi global butuh waktu jauh lebih lama.
  • Produksi minyak, distribusi tanker, hingga keamanan Selat Hormuz diperkirakan baru normal dalam 6–8 minggu atau lebih.
  • Biaya pengiriman, ranjau laut, dan kerusakan infrastruktur membuat krisis energi bisa berlanjut meski perang berakhir.


TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump menyampaikan dalam pidatonya pada Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat bahwa perang di Iran akan segera berakhir.

“Berkat kemajuan yang telah kita capai, saya dapat mengatakan malam ini bahwa kita berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan semua tujuan militer Amerika dalam waktu singkat, sangat singkat,” ujar Trump, dikutip dari WhiteHouse.gov.

“Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan.”

“Kita akan membawa mereka kembali ke ‘zaman batu’, tempat mereka seharusnya berada. Sementara itu, diskusi masih berlangsung. Kita memiliki semua kartu; mereka tidak memiliki satu pun.”

Baca juga: 10 Poin yang Disampaikan Donald Trump dalam Pidato Terbarunya tentang Perang Iran

Produksi Minyak Tidak Bisa Langsung Kembali Normal

Mengutip NDTV, dengan asumsi perang benar-benar berakhir dalam dua minggu, masih dibutuhkan 6 hingga 8 minggu sebelum produksi minyak kembali ke tingkat sebelum perang dan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz kembali normal.

Hal ini karena, seperti dicatat dalam laporan Thomson Reuters pada awal perang, terdapat jeda minimal dua hingga empat minggu dalam dampaknya.

Artinya, dampak dari kapal tanker yang saat ini masih tertahan belum sepenuhnya terasa.

BLOKADE SELAT HORMUZ - Lalulintas kapal di Selat Hormuz sebelum blokade militer oleh Iran dampak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selat ini menjadi jalur vital bagi lalulintas kapal pengangkut minyak dari produsen-produsen minyak dunia yang berada di kawasan Timur Tengah.
BLOKADE SELAT HORMUZ - Lalulintas kapal di Selat Hormuz sebelum blokade militer oleh Iran dampak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selat ini menjadi jalur vital bagi lalulintas kapal pengangkut minyak dari produsen-produsen minyak dunia yang berada di kawasan Timur Tengah. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

“Dua Minggu sebelum Normalisasi Dimulai”

Strategis Macquarie Group, Vikas Dwivedi, mengatakan:

“Mungkin akan memakan waktu beberapa minggu sebelum semuanya mulai normal."

"Minyak yang tersimpan, yang telah menumpuk dalam jumlah besar, harus dipindahkan ke kapal terlebih dahulu agar produksi dapat dipulihkan."

"Proses ini sendiri akan memakan waktu beberapa minggu lagi.”

Ia juga memperingatkan bahwa perbaikan dan pembangunan kembali infrastruktur energi yang rusak akibat serangan udara Iran, AS, atau Israel akan memakan waktu lebih lama, terutama karena tingkat kerusakannya belum sepenuhnya diketahui.

“Sebagian kerusakan bisa diperbaiki dengan cepat, seperti kerusakan akibat drone, dalam hitungan hari hingga beberapa minggu."

"Namun, jika menyangkut unit proses besar, perbaikannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun,” katanya kepada Yahoo Finance.

Tantangan Pembersihan Ranjau Pascaperang

Proses pemulihan juga akan semakin kompleks karena adanya kebutuhan pembersihan ranjau, yang merupakan pekerjaan berbahaya dan memakan waktu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved