Iran Vs Amerika Memanas
Konflik Iran-AS Picu Risiko bagi Strategi China di Timur Tengah
Risiko kerugian, baik secara ekonomi maupun geopolitik, di tengah eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Ringkasan Berita:
- Konflik Iran vs AS–Israel mengancam investasi besar China di Iran (infrastruktur, energi, BRI).
- Proyek strategis seperti jalur kereta, koridor perdagangan, dan ekspansi BRI di Iran dan Timur Tengah terancam tertunda atau terganggu, sekaligus meningkatkan risiko bagi aset China di negara lain seperti UEA dan Arab Saudi.
- China juga melindungi kepentingannya di Timur Tengah sambil menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai pihak, di tengah perubahan dinamika kekuatan global akibat konflik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - China disebut menghadapi risiko kerugian, baik secara ekonomi maupun geopolitik, di tengah eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Dikutip dari Asian News Post, Kamis (2/4/2026), kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kepentingan strategis Beijing di Timur Tengah, khususnya yang terkait dengan investasi dan keamanan energi.
Timur Tengah selama ini menjadi kawasan penting dalam strategi global China, mengingat posisinya sebagai jalur perdagangan utama serta pusat investasi strategis.
Sejak 2005, China telah menanamkan investasi di Iran.
Hubungan kedua negara semakin diperkuat setelah kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Teheran pada 2016, yang diikuti penandatanganan kerja sama dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI).
Pada 2021, Beijing dan Teheran menandatangani kemitraan strategis komprehensif yang mencakup rencana investasi jangka panjang senilai US$400 miliar, termasuk di sektor infrastruktur dan energi.
Namun, konflik yang berkembang saat ini dinilai menimbulkan ketidakpastian terhadap proyek-proyek tersebut, termasuk risiko terhadap aset tetap serta pasokan minyak dari Iran.
Selain itu, kemungkinan perubahan politik di Iran juga dinilai dapat memengaruhi rencana China dalam membangun koridor perdagangan menuju Afrika dan Eropa melalui wilayah tersebut.
Dampak terhadap Jaringan Regional
Selama ini, China tidak hanya berinvestasi di Iran, tetapi juga memperluas kehadirannya ke negara-negara Timur Tengah lainnya, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Israel.
Namun, meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk potensi serangan balasan Iran terhadap negara-negara tertentu, dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap investasi China di wilayah tersebut.
Kondisi ini menciptakan tantangan bagi Beijing dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda di kawasan.
China memiliki keterlibatan besar dalam pembangunan infrastruktur di Iran, khususnya di sektor perkeretaapian.
Iran menargetkan perluasan jaringan rel hingga 25.000 kilometer, dengan nilai proyek sekitar US$25 miliar. Sejumlah perusahaan milik negara China terlibat dalam pembiayaan dan pelaksanaan proyek tersebut.
Selain itu, terdapat kontrak sebelumnya senilai US$13 miliar untuk pembangunan jalur rel sepanjang lebih dari 5.000 kilometer.
Proyek ini dinilai penting dalam menghubungkan Iran dengan jaringan transportasi regional yang lebih luas, termasuk Asia Tengah, China, dan Eropa.
Di luar sektor transportasi, perusahaan China juga terlibat dalam pembangunan rumah sakit, sistem metro, industri otomotif, pertambangan, serta infrastruktur jalan.
Kerja Sama Energi dan Teknologi
China juga bekerja sama dengan Iran dalam berbagai proyek energi, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir dan reaktor air berat di Arak.
Namun, sejak penerapan kembali sanksi Amerika Serikat terhadap Iran pada 2018, sejumlah proyek tersebut mengalami perlambatan.
Dalam kerangka BRI, China juga mengembangkan inisiatif Digital Silk Road dan Green Silk Road di Iran.
Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, serta energi terbarukan seperti tenaga surya dan air.
China juga berperan dalam pengembangan konsep kota pintar di Iran, termasuk infrastruktur digital seperti Wi-Fi publik dan sistem pembayaran elektronik.
Menurut sejumlah analisis, proyek-proyek BRI di Iran memiliki potensi pengembalian investasi yang tinggi bagi China dibandingkan negara lain.
Namun, konflik yang terjadi saat ini meningkatkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan proyek-proyek tersebut.
Selain Iran, China juga memiliki investasi besar di negara-negara Timur Tengah lainnya.
Data PwC menunjukkan bahwa pada 2023, investasi China di UEA mencapai sekitar US$9 miliar, sementara di Arab Saudi lebih dari US$3 miliar. Lebih dari 8.000 perusahaan China tercatat beroperasi di UEA.
China juga terlibat dalam berbagai proyek energi dan teknologi di kawasan, termasuk di Irak dan Israel.
Perubahan Keseimbangan Strategis
Di tengah konflik yang berlangsung, China sejauh ini disebut belum mengambil langkah langsung untuk terlibat secara aktif, selain menyerukan penghentian serangan.
Sejumlah analis menilai Beijing menghadapi dilema strategis, antara melindungi kepentingannya di kawasan dan menjaga posisi dalam dinamika geopolitik global.
Sebagian pandangan menyebut konflik yang berkepanjangan dapat mengalihkan perhatian Amerika Serikat dari kawasan Indo-Pasifik.
Namun, di sisi lain, situasi ini juga berpotensi merugikan kepentingan China di Timur Tengah.
Perkembangan terbaru di Iran, termasuk kerusakan infrastruktur dan tekanan terhadap sektor energi, dinilai dapat mengubah perhitungan strategis di kawasan.
Sejumlah proyek yang terkait dengan pelabuhan, jalur kereta api, dan energi kini menghadapi risiko keamanan yang meningkat.
Selain itu, koridor energi darat yang direncanakan sebagai alternatif terhadap jalur laut juga menjadi tidak pasti.
Baca juga: China Resmi Gabung Pakistan Jadi Mediator Tak Terduga di Perang AS-Israel vs Iran
Para analis menilai bahwa perubahan ini dapat memengaruhi posisi China dalam persaingan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Indo-Pasifik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/LEBIH-PRESISI-Peluncuran-rudal-Sejjil-milik-Iran.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.