Wawancara Eksklusif
VIDEO EKSKLUSIF Dubes Iran Ungkap Kondisi Pemimpin Tertinggi Iran: Terluka tapi Mampu Memimpin
"Dunia bungkam saat kami diserang, namun justru mengutuk saat kami melakukan pembelaan diri." Dubes Iran
Ringkasan Berita:
- Mohammad Boroujerdi menegaskan kepemimpinan Iran tetap stabil meski Mojtaba Khamenei sempat terluka akibat serangan.
- Ia mengkritik Dewan Keamanan PBB yang dinilai menerapkan standar ganda terhadap serangan ke Iran.
- Iran memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi negara sahabat, dengan syarat koordinasi ketat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah eskalasi konflik yang telah memasuki hari ke-38, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan stabilitas kepemimpinan di Teheran tetap kokoh.
Dalam wawancara eksklusif di Jakarta, Senin (6/4/2026), Boroujerdi mengklarifikasi spekulasi mengenai kondisi Mojtaba Khamenei pascaserangan lawan yang menyasar kantor Pemimpin Tertinggi Iran.
"Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei memang sempat mengalami cedera dalam serangan yang dilakukan pihak musuh terhadap kantor Pemimpin Tertinggi Iran," ungkap Boroujerdi saat sesi wawancara eksklusif dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra di Studio Tribunnews, Jakarta, Senin (6/4/2026).
Meski demikian, Boroujerdi menegaskan kondisi tersebut tidak mengganggu jalannya pemerintahan.
Ia merujuk pada mekanisme konstitusional Iran sebagai indikator stabilitas.
Menurutnya, tidak adanya sidang darurat oleh Majelis Ahli Iran, lembaga yang berwenang memantau dan menentukan kepemimpinan, menjadi bukti bahwa kepemimpinan nasional tetap berjalan normal.
"Hal ini membuktikan fungsi kepemimpinan nasional tetap berjalan tanpa kendala strategis," tegasnya.
Kritik Standar Ganda PBB
Boroujerdi mengkritik tajam "standar ganda" respons komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB terkait pelanggaran Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB.
Ia menyoroti ironi global di mana serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap infrastruktur sipil Iran—termasuk serangan di Minab yang menewaskan 175 siswi SD—tidak pernah dikutuk.
"Dunia bungkam saat kami diserang, namun justru mengutuk saat kami melakukan pembelaan diri. Pembiaran ini adalah tragedi kemanusiaan yang membuat agresor kian berani," tegasnya.
Ia memaparkan dampak kemanusiaan yang memilukan, termasuk serangan terhadap sekolah dasar di kota Minab yang menewaskan 175 siswi, serta jatuhnya korban dari lingkaran keluarga Pemimpin Tertinggi.
Menurutnya, pembiaran terhadap kejahatan perang yang diumumkan secara terbuka oleh pihak musuh merupakan tragedi bagi kemanusiaan global.
"Mereka menyerang anak-anak tidak berdosa, objek sipil, infrastruktur industri, hingga industri nuklir. Tentu pembiaran ini membuat pihak musuh makin ganas dan berani. Ini merupakan sebuah musibah terhadap kemanusiaan," tuturnya.
Selat Hormuz: Terbuka untuk Sahabat, Tertutup bagi Musuh