Jepang Gandeng OECD Dukung Industri Perkapalan Asia Tenggara, Hadapi Ekspansi China
OECD akan melakukan survei langsung di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Indonesia untuk membantu pengembangan industri kapal
Ringkasan Berita:
- Jepang menggandeng OECD untuk memperkuat industri perkapalan Asia Tenggara melalui survei dan laporan komprehensif yang didukung pendanaan
- Program ini mencakup analisis rantai pasok, ekspor, serta rekomendasi modernisasi dan dukungan teknis.
- Langkah ini juga menjadi strategi menghadapi dominasi China sekaligus memperkuat pengaruh Jepang di kawasan
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Pemerintah Jepang mulai mengambil langkah strategis dengan menggandeng OECD guna memperkuat industri perkapalan di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini tidak hanya bertujuan mendorong pembangunan industri regional, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menghadapi semakin kuatnya ekspansi China di sektor tersebut.
"OECD akan melakukan survei langsung di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Indonesia untuk membantu pengembangan industri perkapalan di sana," papar sumber Tribunnews.com di pemerintahan Jepang Jumat (10/4/2026).
Hasil survei tersebut akan dituangkan dalam laporan komprehensif yang ditargetkan rampung sekitar Maret tahun depan. Jepang sendiri akan memberikan dukungan pendanaan sekitar 250.000 euro (sekitar 46 juta yen) untuk mendukung proses tersebut.
Laporan itu akan menganalisis berbagai aspek penting industri perkapalan di kawasan, termasuk fondasi industri, rantai pasok, hingga kemampuan ekspor. Data tersebut kemudian akan dibandingkan dengan standar negara-negara anggota OECD guna mengidentifikasi kekuatan dan tantangan masing-masing negara.
Selain itu, rekomendasi modernisasi industri juga akan disusun sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi kawasan.
Baca juga: Iran Kenakan Tarif Kapal di Selat Hormuz, Trump: Iran Langgar Perjanjian
Ke depan, OECD juga diproyeksikan memberikan dukungan teknis kepada negara-negara Asia Tenggara berdasarkan hasil laporan tersebut. Jepang berencana memanfaatkan kerja sama ini untuk berbagi keunggulan teknologinya, khususnya di bidang dekarbonisasi, yang kini menjadi fokus global dalam industri maritim.
Langkah ini sekaligus membuka peluang bagi Jepang untuk mempererat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara serta memperluas ekspansi industri perkapalannya di kawasan tersebut.
Di balik inisiatif ini, terdapat kekhawatiran Jepang terhadap dominasi China yang semakin besar di sektor perkapalan global.
Data OECD menunjukkan bahwa China saat ini menguasai lebih dari 50 persen produksi kapal dunia.
Selain itu, melalui proyek ambisius Belt and Road Initiative, China tampaknya memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara, termasuk dengan memperoleh hak pengelolaan pelabuhan di berbagai negara.
Seorang sumber diplomatik menyebut bahwa laporan OECD tersebut juga berpotensi menjadi peringatan terhadap risiko investasi dari China di kawasan.
Dengan demikian, kerja sama Jepang dan OECD ini tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi geopolitik yang kuat dalam menjaga keseimbangan pengaruh di Asia Tenggara.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kapaljepang2122222.jpg)