Iran Vs Amerika Memanas
Gencatan Senjata Gagal, Israel Bersiap Hadapi Konflik Baru dengan Iran
Israel Defense Forces siaga hadapi Iran usai negosiasi gagal. Ancaman konflik dan blokade Hormuz bayangi stabilitas global
Ringkasan Berita:
- Militer Israel Defense Forces bersiap menghadapi potensi konflik baru dengan Iran usai perundingan dengan Amerika Serikat gagal
- Kesiapsiagaan ditingkatkan di tengah wacana blokade Selat Hormuz dan opsi serangan terbatas
- Ketegangan ini berisiko meluas serta mengguncang stabilitas keamanan dan pasar energi global
TRIBUNNEWS.COM, ISRAEL - Militer Israel (Israel Defense Forces) dilaporkan tengah bersiap menghadapi kemungkinan konflik baru dengan Iran setelah perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Informasi ini muncul dari laporan tiga jaringan televisi utama berbahasa Ibrani yang diduga bersumber dari kebocoran terkoordinasi pejabat pertahanan.
Persiapan tersebut berlangsung kurang dari sepekan setelah gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan diberlakukan, serta sehari setelah negosiasi di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Dikutip dari Timesofisrael, Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir disebut telah memerintahkan peningkatan status kesiapsiagaan militer dan menginstruksikan pasukan untuk bersiap melanjutkan pertempuran.
Selain itu, militer juga diantisipasi menghadapi kemungkinan serangan mendadak dari Iran.
Baca juga: Gencatan Senjata Iran-Israel Hanya Jeda, Sikap Trump Ingin Amankan Pemilu Sela
Sejumlah pejabat pertahanan Israel menyebut negara tersebut mempertimbangkan kembali opsi militer karena konflik sebelumnya dinilai berakhir terlalu cepat tanpa memberikan tekanan maksimal terhadap program nuklir dan rudal balistik Iran.
Israel juga dilaporkan menunggu keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kemungkinan dimulainya kembali konflik.
Jika itu terjadi, IDF diperkirakan akan menargetkan infrastruktur energi Iran sebagai upaya menekan program nuklirnya.
Di sisi lain, Trump bersama para penasihatnya dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas ke Iran, selain kebijakan blokade di Selat Hormuz, guna memecah kebuntuan diplomatik.
Meski demikian, Trump disebut lebih cenderung menghindari perang besar berkepanjangan.
Sebagai langkah awal, militer AS menyatakan akan memberlakukan blokade laut terhadap Iran mulai Senin pukul 10.00 waktu setempat.
Kebijakan ini muncul di tengah situasi di mana Iran sebelumnya telah membatasi lalu lintas di Selat Hormuz sejak akhir Februari, yang berdampak signifikan terhadap pasar energi global.
Pakistan masih berupaya memediasi kedua pihak agar kembali ke meja perundingan. Namun, perbedaan utama tetap berkisar pada program nuklir Iran, khususnya terkait pengayaan uranium.
Amerika Serikat menetapkan sejumlah syarat utama, termasuk penghentian pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir, penghentian dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan, serta pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa pungutan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai kegagalan perundingan disebabkan oleh tuntutan berlebihan dari pihak AS.
Ia menyebut perubahan posisi dan kebijakan blokade sebagai penghambat tercapainya kesepakatan.
Garda Revolusi Iran menegaskan pihaknya menguasai penuh Selat Hormuz dan memperingatkan akan mengambil tindakan tegas terhadap setiap ancaman.
Di tengah ketegangan tersebut, militer AS juga telah memulai operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz guna memastikan keamanan jalur pelayaran internasional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Operasi-Militer-Israel.jpg)