Iran Vs Amerika Memanas
Tak Takut dengan Ancaman AS, Iran Tanggapi Santai Gertakan Trump: Kami Siap Bertarung
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menanggapi santai gertakan Presiden AS Donald Trump yang ingin memblokade Selat Hormuz.
Perundingan di Islamabad dilaporkan berlangsung sengit dan melelahkan.
Delegasi Iran, yang dinamakan "Minab 168", terlibat dalam diskusi maraton selama lebih dari 20 jam.
Nama delegasi tersebut diambil sebagai penghormatan bagi siswa sekolah dasar di Minab yang menjadi korban serangan AS di masa lalu.
Meski atmosfer perundingan penuh tantangan, Ghalibaf memuji soliditas timnya yang tetap teguh mempertahankan hak-hak kedaulatan Iran di hadapan delegasi AS.
Trump Marah Tak Bisa Capai Kesepakatan dengan Iran
Sementara di Washington, Trump dilaporkan marah lantaran tak bisa mencapai kesepakatan dengan Iran.
Sebagai respons kegagalan tersebut, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk "mengunci" Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak global.
Baca juga: Gencatan Senjata Gagal, Israel Bersiap Hadapi Konflik Baru dengan Iran
"Blokade ini akan diterapkan secara ketat terhadap kapal mana pun, dari negara mana pun, yang mencoba masuk atau keluar dari wilayah perairan Iran," tulis pernyataan resmi Komando Pusat AS (CENTCOM) kepada Reuters.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut Washington telah memberikan tawaran terbaik namun ditolak oleh pihak Iran.
"Kami meninggalkan Islamabad karena tidak ada titik temu," tegasnya.
Sementara itu, pihak Iran melalui Kementerian Luar Negerinya menuding AS sengaja memasang target yang mustahil dicapai.
Teheran pun memperingatkan, masuknya kapal perang asing ke dekat wilayah mereka akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan direspons dengan tindakan setimpal.
Dampak dari kebijakan ini langsung memukul ekonomi global.
Pantauan harga minyak dunia menunjukkan jenis Brent telah menembus angka psikologis US$ 102 per barel, melonjak lebih dari 7 persen hanya dalam hitungan jam setelah pengumuman blokade.
Bursa saham di kawasan Asia juga memerah.
Indeks Nikkei Jepang dan Nifty 50 India rontok akibat kekhawatiran investor terhadap potensi perang terbuka yang lebih luas.
(Tribunnews.com/Whiesa)