Selasa, 5 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Tak Takut dengan Ancaman AS, Iran Tanggapi Santai Gertakan Trump: Kami Siap Bertarung

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menanggapi santai gertakan Presiden AS Donald Trump yang ingin memblokade Selat Hormuz.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menanggapi santai ancaman Presiden AS Donald Trump yang memblokade Selat Hormuz akibat gagalnya perundingan di Pakistan.
  • Ghalibaf menyatakan bahwa Iran tidak akan sedikit pun goyah meski dibayangi ancaman blokade ekonomi maupun militer dari pemerintahan Donald Trump.
  • Ia mengingatkan bahwa Iran memiliki sejarah panjang dalam menghadapi tekanan militer dan ekonomi tanpa pernah menyerah.

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah perundingan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran di Pakistan gagal menemui titik terang.

Setelah perundingan gagal, Presiden AS, Donald Trump mengerahkan armadanya untuk memblokade Selat Hormuz.

Menanggapi ancaman tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menanggapi dengan santai.

Ghalibaf menyatakan Iran tidak akan sedikit pun goyah meski dibayangi ancaman blokade ekonomi maupun militer dari pemerintahan Donald Trump.

Dalam keterangannya usai kembali dari Pakistan, Ghalibaf menyebut kekuatan Iran di meja perundingan berakar pada dukungan masif rakyat Iran di dalam negeri.

Menurutnya, solidaritas publik menjadi "senjata" diplomatik yang membuat posisi Iran kian diperhitungkan oleh pihak lawan.

"Kami datang dengan niat baik dan inisiatif maju, namun masalah utamanya tetap satu: krisis kepercayaan yang sudah berlangsung selama 77 tahun," tegas Ghalibaf, mengutip Al Mayadeen.

Menyinggung ancaman Trump yang ingin memblokade Selat Hormuz, Ghalibaf menanggapinya dengan dingin.

Ia mengingatkan, Iran memiliki sejarah panjang dalam menghadapi tekanan militer dan ekonomi tanpa pernah menyerah.

"Jika Anda memilih perang, kami siap bertarung. Jika Anda menggunakan logika, kami akan membalas dengan logika."

"Pilihan ada di tangan Washington," ujarnya memberi peringatan keras.

Baca juga: AS Mulai Blokade Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini, Teheran Siapkan Respons Keras

Senada dengan Ghalibaf, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam komunikasi telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menyatakan Teheran pada dasarnya terbuka untuk kesepakatan yang adil dan seimbang.

Namun, ia menekankan adanya "garis merah" yang tidak boleh dilanggar.

"Kepentingan nasional dan hak-hak rakyat Iran adalah harga mati."

"Kami siap untuk stabilitas kawasan, tetapi tidak akan mentoleransi standar ganda yang terus diterapkan Amerika Serikat," tegas Pezeshkian.

Perundingan di Islamabad dilaporkan berlangsung sengit dan melelahkan.

Delegasi Iran, yang dinamakan "Minab 168", terlibat dalam diskusi maraton selama lebih dari 20 jam.

Nama delegasi tersebut diambil sebagai penghormatan bagi siswa sekolah dasar di Minab yang menjadi korban serangan AS di masa lalu.

Meski atmosfer perundingan penuh tantangan, Ghalibaf memuji soliditas timnya yang tetap teguh mempertahankan hak-hak kedaulatan Iran di hadapan delegasi AS.

Trump Marah Tak Bisa Capai Kesepakatan dengan Iran

Sementara di Washington, Trump dilaporkan marah lantaran tak bisa mencapai kesepakatan dengan Iran.

Sebagai respons kegagalan tersebut, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk "mengunci" Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak global.

Baca juga: Gencatan Senjata Gagal, Israel Bersiap Hadapi Konflik Baru dengan Iran

"Blokade ini akan diterapkan secara ketat terhadap kapal mana pun, dari negara mana pun, yang mencoba masuk atau keluar dari wilayah perairan Iran," tulis pernyataan resmi Komando Pusat AS (CENTCOM) kepada Reuters.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut Washington telah memberikan tawaran terbaik namun ditolak oleh pihak Iran.

"Kami meninggalkan Islamabad karena tidak ada titik temu," tegasnya.

Sementara itu, pihak Iran melalui Kementerian Luar Negerinya menuding AS sengaja memasang target yang mustahil dicapai.

Teheran pun memperingatkan, masuknya kapal perang asing ke dekat wilayah mereka akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan direspons dengan tindakan setimpal.

Dampak dari kebijakan ini langsung memukul ekonomi global.

Pantauan harga minyak dunia menunjukkan jenis Brent telah menembus angka psikologis US$ 102 per barel, melonjak lebih dari 7 persen hanya dalam hitungan jam setelah pengumuman blokade.

Bursa saham di kawasan Asia juga memerah.

Indeks Nikkei Jepang dan Nifty 50 India rontok akibat kekhawatiran investor terhadap potensi perang terbuka yang lebih luas.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved