Iran Vs Amerika Memanas
Iran Resmi Menutup Pintu Diplomasi Nuklir, Selat Hormuz Makin Diperketat
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dengan tegas menyebut Teheran telah menutup rapat pintu diplomasi terkait nuklir.
Ringkasan Berita:
- Menlu Iran, Abbas Araghchi dengan tegas menyatakan bahwa Teheran telah menutup pintu rapat-rapat untuk diplomasi nuklir dengan Amerika Serikat (AS).
- Fokus Teheran kini beralih sepenuhnya pada kedaulatan wilayah, termasuk rencana pemberlakuan mekanisme keamanan baru di Selat Hormuz yang akan memperketat lalu lintas kapal asing.
- Menurutnya, ketangguhan militer Iran saat ini telah menjadi penangkal yang membuat negara-negara lain tidak akan berani melakukan agresi terhadap Iran dalam waktu lama.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan bahwa saat ini tidak ada agenda untuk melanjutkan pembicaraan nuklir dengan negara-negara Barat.
Fokus Teheran kini beralih sepenuhnya pada kedaulatan wilayah, termasuk rencana pemberlakuan mekanisme keamanan baru di Selat Hormuz yang akan memperketat lalu lintas kapal asing.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa peta kekuatan global telah berubah setelah "Perang 40 Hari".
Menurutnya, ketangguhan militer Iran saat ini telah menjadi penangkal yang membuat negara-negara lain tidak akan berani melakukan agresi terhadap Iran dalam waktu lama.
"Dunia harus sadar bahwa Iran adalah kekuatan yang berpengaruh."
"Era di mana pihak luar bisa mendikte kebijakan kami sudah berakhir," ujar juru bicara komite, Ebrahim Rezaei, mengutip pernyataan Araghchi, Senin (4/5/2026), sebagaimana diberitakan WANA News Agency.
Salah satu poin paling krusial adalah rencana Iran untuk merombak total aturan pengelolaan Selat Hormuz.
Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke status quo seperti sebelum perang.
Iran sedang menyusun mekanisme baru yang secara tegas akan melarang kapal-kapal dari negara yang dianggap musuh untuk melintasi jalur perdagangan energi paling strategis di dunia tersebut.
Langkah ini diprediksi akan memicu reaksi keras dari Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang selama ini mengandalkan prinsip kebebasan navigasi.
Baca juga: Reaksi Arab Saudi setelah UEA Diserang Iran: Desak Semua Pihak Menahan Diri, Dukung Upaya Mediasi
Selat Hormuz Memanas
Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terkena serangan proyektil di Selat Hormuz pada Senin (4/5/2026) waktu setempat.
Saat merespons insiden tersebut, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa militer AS akan segera bertindak untuk membebaskan kapal-kapal komersial yang terjebak di jalur vital perdagangan dunia tersebut.
"Saat ini banyak kapal yang terdampar di sana, dan kami akan membantu mereka keluar," tegas Trump di hadapan media di Gedung Putih, mengutip Reuters.
Meski tidak merinci strategi militer yang akan digunakan, Trump sesumbar bahwa AS memiliki "kekuatan tempur yang luar biasa" yang sudah bersiaga di kawasan tersebut.
Insiden ini memicu alarm bahaya bagi ekonomi global.