Iran Vs Amerika Memanas
Donald Trump Blokir Selat Hormuz dan 2 Kapal Perang AS Mendekat, Pengamat: Iran Siap Hadapi Serangan
Setelah negosiasi AS-Iran di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) berakhir gagal, Presiden AS Donald Trump mengancam, AS akan memblokade Selat Hormuz.
Ringkasan Berita:
- Setelah negosiasi AS-Iran di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026) lalu berakhir gagal, Presiden AS Donald Trump mengancam bahwa AS akan memblokade Selat Hormuz.
- Sebelumnya, saat negosiasi masih berlangsung, dua kapal perang AS sudah memasuki Selat Hormuz.
- Melihat dua hal ini, pengamat intelijen Stepi Anriani menilai, ada kemungkinan besar AS akan melakukan serangan sewaktu-waktu, tetapi Iran tetap siap menghadapinya.
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Intelijen dan Keamanan Nasional, Stepi Anriani, menyoroti langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memblokir Selat Hormuz, pasca-negosiasi AS-Iran di Pakistan yang digelar pada Sabtu (11/4/2026) lalu berakhir buntu.
Donald Trump telah menyatakan, AS akan memblokade Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama pasukan energi dunia, lewat platform Truth Social
“Mulai berlaku segera, Angkatan Laut AS akan memulai proses blokade terhadap seluruh kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Donald Trump, dilansir laman Bloomberg, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan, blokade akan terus berlangsung sampai Iran membuka Selat Hormuz untuk semua lalu lintas laut.
Dalam unggahan lebih lanjut, Donald Trump menambahkan, aksi blokade jalur laut yang terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman itu akan dimulai pada Senin (13/4/2026) pukul 10.00 pagi waktu setempat atau 21.00 WIB.
"AS akan memblokir kapal-kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April pukul 10.00 Waktu Timur (ET). Terima kasih atas perhatian Anda tentang hal ini!" kata Donald Trump.
Sebelum ancaman pemblokiran Selat Hormuz dilontarkan Donald Trump, dua unit kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut AS telah memasuki Selat Hormuz pada Sabtu (11/4/2026), ketika negosiasi AS-Iran di Pakistan masih berlangsung.
Dua unit kapal tersebut, adalah USS Frank E. Petersen (DDG-121) dan USS Michael Murphy (DDG-112).
Keduanya merupakan kapal perang AS pertama yang melintasi selat tersebut sejak agresi militer Operation Epic Fury dilancarkan AS-Israel terhadap Iran sejak Sabtu (28/2/2026).
Dua kapal ini menjadi bagian dari rencana AS untuk “memastikan selat tersebut sepenuhnya bebas dari ranjau laut,” menurut siaran pers Komando Pusat AS (CENTCOM/US Central Command), Sabtu, dikutip dari laman US Naval Institute News, news.usni.org.
Pengamat: Iran Siap Hadapi Serangan
Baca juga: Tak Takut dengan Ancaman AS, Iran Tanggapi Santai Gertakan Trump: Kami Siap Bertarung
Terkait ancaman blokade Selat Hormuz dan mendekatnya dua kapal perang AS, Stepi Anriani menilai, ada kemungkinan besar AS akan melakukan serangan terhadap Iran dalam waktu dekat.
Sebab, militer AS tetap akan menjalankan perintah dari Donald Trump.
Namun, akademisi yang juga Direktur Eksekutif wadah pemikir Intelligence and National Security Studies (INSS) ini menilai, Iran tetap siap menghadapi segala serangan.
"Sangat mungkin [AS menyerang Iran dalam waktu dekat]," kata Stepi, dalam program Kompas Siang, Senin (13/4/2026).
"Kalau kita lihat, mau bagaimanapun, walaupun tentara Amerika atau publik atau para tokoh ini memiliki sense of crisis dan merasa menjadi bagian warga negara dunia, tapi ketika panglima tertingginya, President of the United States, memerintahkan sesuatu, pasti harus diikuti."
"Jadi, kita tidak bisa membaca kebatinan strategi militer di sana, tapi saya pastikan di sini bahwa Iran akan selalu siap dengan berbagai kemungkinan."
Lantas, Stepi menyoroti riwayat pelanggaran gencatan senjata yang berkali-kali dilakukan AS dan Israel, yang menunjukkan bahwa kata-kata dari pejabat dua negara itu tidak bisa dipegang.
Melihat catatan tersebut, kata Stepi, Iran tentu akan bersiap menghadapi segala kemungkinan serangan.
"Dengan awalnya euforia hari pertama ada gencatan senjata, ternyata kemudian Hizbullah dan Lebanon Selatan diserang, itu kan menunjukkan bahwa ini tidak bisa dipegang sepenuhnya, perjanjian-perjanjian dan kesepakatan ini," ujar Stepi.
"Sehingga menurut saya, kalau ada gempuran di sisi baru, apakah itu nanti navy-nya, atau air force-nya, atau nanti darat, Iran saya rasa sudah siap."
Baca juga: Prabowo Temui Putin di Rusia, Komisi I DPR Dorong Gencatan Senjata Permanen Iran-AS
Stepi juga memandang, meski kekuatan militer AS dan Iran sangat jauh perbandingannya, Iran berhasil membuat dunia tercengang ketika terus melawan dan memperpanjang perang menjadi lebih dari 40 hari.
Kekuatan Iran semakin disorot ketika proksi dan siber bersatu, hingga ada lebih dari 14 juta rakyat Iran yang, sebagaimana disampaikan oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian di akun @drpezeshkian di media sosial X (dulu Twitter) pada Selasa (7/4/2026), telah menyatakan rela berkorban demi negara di tengah eskalasi konflik dengan AS dan Israel.
"Tentunya kalau dilihat head to head, Amerika adalah negara superpower, juara satu dari military capability, Iran ke-16, tentunya jomplang," papar Stepi.
"Tapi lagi-lagi, di sini ada hal-hal yang selama 44 hari ini kita juga terkaget-kaget, masyarakat dunia, baik akademisi maupun para pengamat."
"Bagaimana proxy-nya [Iran] all out, cyber-nya maju, sukarelawannya sampai 14 juta, itu yang tidak terbayangkan."
(Tribunnews.com/Rizki A.)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.