Kamis, 16 April 2026

Konflik Rusia Vs Ukraina

Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.512, AS Cabut Kelonggaran Sanksi Minyak Rusia

AS dikabarkan mulai mencabut kelonggaran sanksi terhadap industri minyak Rusia setelah masa berlaku kelonggaran tersebut berakhir pada akhir pekan.

Editor: Nuryanti
Kremlin
PRESIDEN RUSIA PUTIN - Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh (tidak terlihat dalam foto) pada 25 Maret 2026 (Foto: Kristina Solovyova, RIA Novosti). Pada 15 April 2026, AS dikabarkan mulai mencabut kelonggaran sanksi terhadap industri minyak Rusia setelah masa berlaku kelonggaran tersebut berakhir pada akhir pekan. 

Ringkasan Berita:
  • Perang Rusia–Ukraina memasuki hari ke-1.512, AS kembali memberlakukan sanksi penuh terhadap minyak Rusia setelah masa pengecualian berakhir.
  • Kebijakan ini dipicu situasi global, meski Rusia masih mencari cara menjual minyaknya.
  • Sementara itu, dukungan Barat untuk Ukraina terus berlanjut, termasuk bantuan militer dan kerja sama pertahanan.
  • Namun, perhatian AS dinilai mulai terbagi karena agresinya di Iran, sehingga upaya perdamaian semakin terhambat.

TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.512 pada Rabu (15/4/2026).

Sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap minyak Rusia kembali berlaku setelah pemerintahan Presiden Donald Trump membiarkan pengecualian tersebut berakhir pada akhir pekan lalu.

Departemen Keuangan AS tidak menanggapi pertanyaan dari Politico, tetapi merujuk pada pernyataan Menteri Keuangan Scott Bessent, yang menggambarkan pelonggaran sanksi terhadap Rusia sebagai langkah jangka pendek yang dirancang secara khusus.

Pada bulan Maret, pembatasan dicabut untuk minyak Rusia yang telah dimuat ke kapal pada tanggal 12 Maret.

Sumber-sumber di Senat AS mencatat bahwa berakhirnya pengecualian tersebut bukanlah alasan untuk merayakan, karena Rusia terus menggunakan berbagai jalur alternatif untuk menjual minyaknya.

"Bahkan sebelum izin dikeluarkan, minyak Rusia yang dikenai sanksi tetap masuk ke pasar karena pemerintahan Trump tidak memberlakukan sanksi anti-penghindaran pajak terhadap Rusia, baik pada penjualan minyak maupun pengadaan penting untuk mesin perang Kremlin, selama lebih dari setahun," kata seorang ajudan Senat dari Partai Demokrat yang tidak ingin disebutkan namanya.

Washington membenarkan pelonggaran sanksi terhadap Rusia dengan mengutip kenaikan harga minyak global akibat perang AS dan Israel melawan Iran dan serangan Iran terhadap banyak negara Teluk, yang secara efektif melumpuhkan ekspor minyak dari kawasan tersebut.

Keputusan serupa juga diambil terkait minyak Venezuela dan Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent kemudian menyatakan pelonggaran sanksi Washington terhadap minyak Rusia akan memberikan keuntungan "tidak signifikan" bagi Moskow, yaitu sekitar 2 miliar USD.

Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka dengan satu atau lain cara.

Baca juga: Prabowo Tiba di Jakarta Usai Lawatan ke Rusia-Prancis, 2 Negara Veto PBB

Pada 10 April, ia kembali menyatakan hal ini akan terjadi dalam waktu yang cukup singkat, lapor Politico.

Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina

Perang antara Rusia dan Ukraina secara resmi pecah pada 24 Februari 2022 saat Rusia melancarkan invasi besar-besaran. Namun, akar masalahnya sudah muncul sejak lama, terutama karena Ukraina semakin mendekat ke Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang dianggap mengancam posisi Rusia.

Ketegangan sebenarnya sudah meningkat sejak Revolusi Maidan tahun 2014, yang membuat arah politik Ukraina berubah menjadi pro-Barat. Sebagai respons, Rusia mengambil alih Krimea dan konflik bersenjata pun terjadi di wilayah Donbas, melibatkan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.

Situasi memanas pada 2022 ketika Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer. Rusia mengklaim langkah ini untuk melindungi warga berbahasa Rusia dan mencegah perluasan NATO, meskipun tindakan tersebut mendapat kecaman keras dari dunia internasional.

Sebagai tanggapan, negara-negara Barat memberikan sanksi ekonomi kepada Rusia serta bantuan militer dan keuangan kepada Ukraina. Hingga sekarang, perang masih berlangsung dan berdampak besar pada ekonomi global serta stabilitas dunia, sementara upaya perdamaian masih menghadapi banyak hambatan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved