Kamis, 11 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Konflik Iran di Luar Skenario AS, Trump Dinilai Tak Siap Perang Jangka Panjang

Strategi awal Amerika Serikat dinilai tidak dirancang untuk perang jangka panjang dengan Iran. Washington semula mengincar perubahan rezim.

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Strategi awal AS dinilai gagal, Iran tidak mudah diintervensi seperti negara lain
  • Minim dukungan global, langkah blokade Selat Hormuz disebut cerminkan frustrasi Amerika Serikat
  • Trump dinilai hindari perang panjang, blokade jadi tekanan tanpa eskalasi besar

 

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Timur Tengah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudhi, menilai strategi awal Amerika Serikat (AS) tidak dirancang untuk perang jangka panjang.

Ia menyebut Washington semula mengincar perubahan rezim di Iran melalui tekanan militer.

Meski serangan AS menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, dalam perkembangannya skenario tersebut dinilai tidak berjalan sesuai dengan rencana.

“Iran bukan seperti Irak atau Afghanistan yang mudah diintervensi. Ini di luar skenario Amerika,” ujar Nostalgiawan dalam dialog Overview Tribunnews, Rabu (15/4/2026).

Menurut dia, ketidaksiapan Amerika menghadapi konflik berkepanjangan terlihat dari upaya Washington mencari dukungan internasional, termasuk dari NATO, Uni Eropa, hingga negara-negara Timur Tengah.

Namun, dukungan tersebut dinilai tidak signifikan. Bahkan, sejumlah negara disebut enggan terlibat langsung dalam konflik.

Di sisi lain, Nostalgiawan menilai kebijakan blokade di Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dapat dibaca sebagai indikasi frustrasi dan kepanikan akibat minimnya dukungan global.

“Ketika Iran menutup Selat Hormuz, harapannya dunia akan melihat Iran sebagai ancaman. Tapi faktanya, dukungan terhadap Amerika tetap kecil,” jelasnya.

Situasi ini juga tercermin dari dinamika global, di mana sejumlah negara justru melakukan pendekatan diplomatik kepada Iran demi menjaga stabilitas pasokan energi.

Bahkan, dalam perkembangan terbaru, Iran disebut masih menjadikan akses Selat Hormuz sebagai alat tawar dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.

Nostalgiawan menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa langkah Amerika dalam melakukan blokade tidak sepenuhnya bertujuan memperpanjang perang.

Baca juga: Setelah Trump, Iran Bakal Longgarkan Selat Hormuz dengan Syarat Konsesi dari AS

Sebaliknya, kebijakan itu bisa diartikan sebagai upaya menekan Iran sambil menghindari konflik jangka panjang.

“Penutupan Selat Hormuz oleh Amerika bisa juga diartikan bahwa mereka masih menghindari opsi perang berkepanjangan,” katanya.

Perkembangan Terkini dan Peluang Perang Berakhir

Sementara itu, para negosiator Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved