Iran Vs Amerika Memanas
Iran Semakin Perketat Upaya Menutup Selat Hormuz: Mustahil bagi Negara Lain untuk Lewat
Iran membatasi kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz, mempersulit upaya mediasi yang dipimpin Pakistan.
Meskipun gencatan senjata telah bertahan, kebuntuan di selat tersebut mengancam akan menjerumuskan kawasan itu kembali ke dalam perang yang telah menewaskan sedikitnya 3.000 orang di Iran, lebih dari 2.290 di Lebanon, 23 di Israel, dan lebih dari selusin di negara-negara Teluk Arab.
Lima belas tentara Israel di Lebanon dan 13 anggota militer AS di seluruh wilayah tersebut telah tewas.
2 Kapal Dagang Ditembak Iran
Penutupan Selat Hormuz menyebabkan kapal-kapal menghentikan upaya untuk melintasi jalur air tersebut.
Kapal-kapal dagang yang mencoba menyeberangi Selat Hormuz pada hari Sabtu menerima pesan radio dari angkatan laut Iran yang memberitahu mereka, mereka tidak diizinkan untuk lewat, sementara dua kapal melaporkan terkena tembakan.
Beberapa kapal komersial mencoba melintasi selat tersebut setelah menerima pemberitahuan kepada para pelaut sehari sebelumnya yang menyatakan bahwa pelayaran akan diizinkan, tetapi dibatasi pada jalur yang dianggap aman oleh Iran.
Pada Sabtu, setidaknya dua kapal melaporkan kapal-kapal Iran melepaskan tembakan, menurut sumber-sumber perkapalan dan keamanan maritim kepada Reuters.
Insiden tersebut dilaporkan terjadi di perairan antara pulau Qeshm dan Larak.
"Kapal-kapal tersebut berbalik arah tanpa menyelesaikan penyeberangan," kata sumber-sumber tersebut.
Baca juga: Korsel Laporkan Korea Utara Luncurkan Rudal Saat Iran Tutup Selat Hormuz
Sementara itu, pasukan AS telah mengirim 23 kapal kembali ke Iran sejak blokade dimulai pada hari Senin, kata Komando Pusat AS pada hari Sabtu.
“Amerika Serikat mempertaruhkan komunitas internasional, mempertaruhkan ekonomi global melalui, dapat saya katakan, kesalahan perhitungan ini,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh kepada Associated Press, menambahkan bahwa AS “mempertaruhkan seluruh paket gencatan senjata.”
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengeluarkan pernyataan yang menyebut blokade tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata dan mengatakan Iran akan mencegah “pembukaan kembali selat secara bersyarat dan terbatas”.
Dewan tersebut baru-baru ini bertindak sebagai badan pembuat keputusan tertinggi de facto di Iran.
Karena sebagian besar pasokan ke pangkalan militer AS di wilayah Teluk melewati selat tersebut, "Iran bertekad untuk mempertahankan pengawasan dan kendali atas lalu lintas melalui selat tersebut hingga perang benar-benar berakhir," kata dewan tersebut.
Itu berarti rute yang ditentukan Iran, pembayaran biaya, dan penerbitan sertifikat transit.
Pernyataan angkatan laut Garda Revolusi kemudian mengindikasikan bahwa tidak ada kapal yang boleh mencoba melakukan transit sama sekali.
(Tribunnews.com/Nuryanti)