Iran Vs Amerika Memanas
AS Evaluasi Kerusakan Pangkalannya di Timur Tengah usai Diserang Iran 40 Hari
Pentagon mengevaluasi kerusakan pangkalan militernya di Timur Tengah setelah diserang Iran selama 40 hari sebagai tanggapan agresi AS-Israel.
Ringkasan Berita:
- Pentagon menyebut belum mengetahui pasti kerusakan pangkalan di Timur Tengah usai perang selama 40 hari dengan Iran.
- Setidaknya 17 fasilitas militer AS di Timur Tengah terkena serangan Iran, dengan korban 13 tewas dan 415 terluka.
- Iran dan AS dikabarkan akan melanjutkan perundingan pada hari Rabu di Pakistan, namun Iran belum mengonfirmasi untuk mengirim delegasi.
- Sebelumnya, Presiden AS Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu pada hari Selasa.
TRIBUNNEWS.COM - Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mengatakan mereka belum memiliki angka pasti mengenai besarnya kerusakan pada pangkalan dan fasilitas militer mereka di Timur Tengah akibat perang dengan Iran yang berlangsung sekitar 40 hari.
Dalam konferensi pers kementerian mengenai anggaran tahun depan, Jules W. Hurst III, yang menjabat sebagai pengawas keuangan Departemen Pertahanan, menjelaskan pendanaan untuk perbaikan fasilitas di pangkalan militer di Timur Tengah tidak termasuk dalam permintaan anggaran tahun 2027.
Dia menghubungkan hal ini dengan penilaian Washington terhadap posisi militernya di Timur Tengah.
"Kita perlu memastikan bahwa kita memahami apa yang ingin kita ciptakan di masa depan," katanya, Selasa (21/4/2026).
Dia mengindikasikan Pentagon mungkin akan mengubah cara membangun pangkalan di Timur Tengah berdasarkan konflik ini, dan perbaikan pangkalan yang rusak akan menjadi bagian dari permintaan di masa mendatang.
"Kami belum memiliki perkiraan akurat tentang berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun kembali fasilitas-fasilitas ini, maupun angka pasti mengenai besarnya kerusakan pada fasilitas-fasilitas kami di luar negeri," kata Hurst mengenai besarnya kerusakan pada pangkalan-pangkalan Amerika.
"Itu tergantung pada bagaimana bangunan itu dibangun kembali, atau apakah kita akan membangunnya kembali sama sekali, dan mitra kita mungkin akan berkontribusi sebagian dari biaya pembangunan ini," lanjutnya.
Departemen Pertahanan AS mengumumkan usulan anggaran tahun 2027 sebesar 1,5 triliun USD, peningkatan sebesar 42 persen, yang terbesar dalam sejarah.
Selama perang, Iran mengumumkan akan melancarkan serangan drone dan rudal intensif terhadap pasukan dan fasilitas AS di wilayah Timur Tengah, seperti diberitakan Al Jazeera.
Baca juga: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu, tapi Iran Tak Mau Hadiri Pembicaraan dengan AS
17 Fasilitas Militer AS di Timur Tengah Mengalami Kerusakan
Pada tanggal 11 Maret, analisis data citra satelit oleh New York Times (NYT) mengungkapkan setidaknya 17 lokasi Amerika di wilayah Timur Tengah mengalami kerusakan signifikan akibat pemboman tersebut.
New York Times mengatakan temuannya didasarkan pada citra berkualitas tinggi yang diperoleh dari perusahaan satelit, video yang didokumentasikan dari media sosial, dan pernyataan resmi dari pihak Amerika dan Iran.
Pada saat itu, para pejabat militer AS mengatakan kepada NYT intensitas serangan balasan yang dilancarkan oleh Teheran menunjukkan mereka lebih siap berperang daripada yang diperkirakan oleh banyak orang di pemerintahan Presiden Donald Trump.
Menurut para pejabat militer AS, Washington dan sekutunya di kawasan itu mencegat sebagian besar serangan Iran, tetapi beberapa rudal dan drone berhasil mengenai setidaknya 11 pangkalan atau fasilitas militer AS, hampir setengah dari semua situs dan fasilitas AS di kawasan tersebut.
Di antara kepentingan Amerika yang menjadi sasaran serangan militer Iran di kawasan itu adalah fasilitas komunikasi dan pertahanan udara serta markas diplomatik. Kedutaan Besar Amerika di Baghdad juga menjadi sasaran serangan roket.
New York Times mengutip seorang pejabat kongres yang tidak disebutkan namanya pada saat itu yang mengatakan sulit untuk memperkirakan biaya penuh kerusakan yang disebabkan oleh serangan balasan Iran.
Senin lalu, data dari Departemen Pertahanan AS mengungkapkan 13 anggota militer Amerika telah tewas dan 415 terluka selama perang melawan Iran.
Perang AS-Israel Vs Iran
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menandai perang baru di kawasan Timur Tengah.
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, dan posisinya kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan dari Majelis Ahli Ulama Iran.
Serangan gabungan AS dan Israel itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran yang berlangsung di Jenewa.
Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata untuk kepentingan energi sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Selain itu, Iran menghentikan perundingan nuklir dan melakukan blokade terhadap Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia, yang menyebabkan lonjakan harga minyak serta memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
Memasuki hari ke-40 konflik pada 7 April, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang dimulai pada 8 April.
Kedua pihak kemudian kembali melakukan perundingan pada 11 April 2026 di Islamabad, namun belum mencapai kesepakatan damai karena masih adanya isu-isu sensitif yang belum terselesaikan.
Hingga saat ini, konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.900 orang, berdasarkan laporan Al Jazeera.
Setelah kegagalan perundingan pada 11 April, Donald Trump mengancam akan memblokade jalur pelayaran bagi kapal-kapal Iran di Selat Hormuz.
Perwakilan kedua negara dijadwalkan kembali bertemu di Islamabad, Pakistan, kemungkinan pada Rabu, 22 April 2026.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Teheran belum membuat keputusan akhir mengenai apakah akan berpartisipasi dalam negosiasi dengan Pakistan atau tidak.
"Blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran merupakan pelanggaran hukum internasional, dan pihak lawan memulai perang lalu mengingkari janjinya, sementara Iran selalu menepati janjinya," kata kementerian itu pada Selasa.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan Selasa malam bahwa gencatan senjata dengan Iran telah diperpanjang tanpa batas waktu.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/q4t4r-2342343223.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.