Minggu, 26 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Mengapa Trump Selalu Berubah Sikap di Perang Iran? Analis Sebut AS Bisa Terjebak

Gaya plin-plan kembali ditunjukkan oleh Presiden AS, Donald Trump soal perang di Iran. Analis menyebut AS bisa terjebak karena gayanya.

Lantas, pertanyaannya mengapa Trump selalu berubah sikap terkait perang Iran ini?

Sejumlah pakar kebijakan luar negeri menyoroti bahwa pesan-pesan Trump yang berubah-ubah mencerminkan gaya pengambilan keputusan yang lebih mengandalkan intuisi pribadi ketimbang data intelijen resmi.

"Ada dua perang yang terjadi saat ini: satu perang di lapangan oleh militer, dan satu lagi perang di dalam pikiran Donald Trump," ungkap seorang analis senior dalam laporan PBS.

Para analis di Chatham House dan Council on Foreign Relations memperingatkan bahwa strategi plin-plan ini bisa menjebak AS ke dalam jebakan eskalasi.

Tanpa adanya tujuan akhir yang jelas, Iran bisa merasa tidak memiliki pilihan selain terus melawan.

"Trump adalah seorang penjudi, tapi dia bukan orang yang ingin bunuh diri"

"Masalahnya, dia menyukai tangga eskalasi karena dia merasa paling nyaman di sana," tulis pengamat di The Guardian.

Baca juga: Iran Siap Lanjutkan Perang, Ancam Lumpuhkan Minyak Negara Teluk jika Teheran Ikut Diserang

Iran Masih Belum Mau Berunding

Pemerintah Iran menegaskan hingga kini belum ada keputusan final terkait rencana kehadiran delegasi mereka dalam meja perundingan dengan AS di Pakistan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran tidak ingin sekadar "formalitas" dalam diplomasi.

Menurutnya, setiap langkah diplomatik yang diambil Iran harus memberikan keuntungan nyata bagi kepentingan nasional mereka.

"Datang dan pergi ke meja perundingan bukanlah ukuran kesuksesan."

"Bagi kami, yang terpenting adalah apakah partisipasi tersebut benar-benar sejalan dengan kepentingan nasional kita atau tidak," ujar Baghaei, mengutip WANA News Agency.

Dalam pernyataannya, Baghaei juga melontarkan kritik pedas terhadap AS.

Ia menilai ada jurang pemisah yang lebar antara retorika manis diplomatik Washington dengan tindakan mereka di lapangan.

Baghaei mengingatkan kembali bagaimana Iran tetap patuh pada kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) bahkan setahun setelah AS secara sepihak keluar dari perjanjian tersebut di era Trump.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved