Konflik Rusia Vs Ukraina
Curhatan Zelensky Soal Ukraina: Kami Tak Bisa Tunggu hingga Perang Iran Selesai
Berbicara dengan CNN, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut negaranya tak bisa menunggu hingga perang Iran selesai.
Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menyebut isu agresi Rusia ke negaranya mulai terlupakan akibat perang di Iran.
- Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak bisa mengantre dan menunggu perang di Iran usai untuk mendapatkan bantuan atau perhatian diplomatik.
- Bagi Kyiv, menunda upaya perdamaian hingga isu Timur Tengah reda adalah sebuah pertaruhan nyawa yang sangat berisiko.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky kembali mengungkapkan kegalauannya terkait masa depan negaranya.
Zelensky merasa isu agresi Rusia ke Ukraina mulai terlupakan lantaran perhatian dunia kini tersedot sepenuhnya ke konflik bersenjata di Iran.
Dalam wawancara eksklusif bersama CNN, Rabu (22/4/2026), Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak bisa mengantre dan menunggu perang di Iran usai untuk mendapatkan bantuan atau perhatian diplomatik.
Bagi Kyiv, menunda upaya perdamaian hingga isu Timur Tengah reda adalah sebuah pertaruhan nyawa yang sangat berisiko.
"Ukraina itu bukan urusan 'nanti'. Kami sedang berada di tengah tragedi besar."
"Kita harus bisa mengelola kedua konflik ini secara paralel," tegas Zelensky.
Zelensky menyoroti kendala teknis di mana tim negosiator Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner, kini harus "berbagi otak" untuk menangani dua konflik besar sekaligus.
Kondisi ini membuat pertemuan-pertemuan strategis untuk Ukraina menjadi tertunda karena AS masih fokus membereskan urusan dengan Iran.
Tak hanya soal diplomasi, dampak perang Iran juga merembet ke urusan dapur pacu militer Ukraina.
Zelensky mengakui pasokan senjata vital, seperti sistem pertahanan udara, mulai tersendat.
Kapasitas produksi industri pertahanan AS dikabarkan kewalahan memenuhi permintaan yang datang dari dua front berbeda.
Baca juga: Zelensky Serukan Pembangunan Sistem Pertahanan Anti-Balistik Eropa dalam Setahun
Kemudian dalam wawancara tersebut, Zelensky menyinggung soal pinjaman dari Uni Eropa sebesar 90 miliar Euro atau sekitar Rp1.500 triliun.
Zelensky menyebut pinjaman dari Uni Eropa bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan urusan hidup dan mati.
"Ini benar-benar soal kelangsungan hidup kami. Kami butuh dana tersebut untuk bertahan dan mempertahankan wilayah kami," tambahnya.
Meski Ukraina sudah berupaya menggenjot produksi alutsista mandiri, seperti drone interseptor yang mencapai 1.000 unit per hari, Zelensky mengaku keterbatasan dana tetap menjadi tembok besar.
Ia berharap para sekutu Barat tidak kehilangan fokus dan tetap melihat Ukraina sebagai prioritas utama di tengah memanasnya situasi geopolitik global.
Kabar Putin Mau Temui Zelensky
Kabar mengejutkan datang dari Kremlin.
Presiden Rusia, Vladimir Putin dikabarkan menyatakan kesiapannya untuk bertemu empat mata dengan Zelensky.
Namun, tawaran ini tidak datang cuma-cuma karena ada "syarat dan ketentuan" yang dianggap banyak pihak sebagai jebakan diplomatik.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengonfirmasi sinyal hijau dari Putin tersebut pada Rabu (22/4/2026).
Meski begitu, Peskov menegaskan bahwa Rusia tidak ingin pertemuan tersebut hanya sekadar formalitas atau obrolan kosong tanpa hasil nyata.
Baca juga: Perang Rusia-Ukraina Hari Ke-1515: Zelensky Bidik Selat Hormuz, Tawarkan Pengalaman Perang Laut
"Putin siap bertemu di Moskow kapan saja. Namun, poin utamanya adalah pertemuan itu harus produktif dan bertujuan untuk memfinalisasi kesepakatan yang sudah disiapkan sebelumnya," tegas Peskov dalam wawancaranya dengan media Rusia, Vesti.
Sinyal dari Kremlin ini secara tersirat menunjukkan bahwa Putin hanya mau bertemu jika Ukraina sudah siap menyerah atau menyetujui draf perdamaian yang disusun Rusia.
Lokasi pertemuan yang diminta di Moskow juga dinilai sebagai taktik untuk menunjukkan dominasi Rusia di atas meja perundingan.
Di sisi lain, Zelensky merespons dengan tegas.
Meski ia sangat ingin menghidupkan kembali perundingan damai trilateral yang melibatkan AS, ia mengharamkan Moskow sebagai lokasi pertemuan.
"Kami siap kapan pun dan dalam format apa pun. Kami tidak takut bertemu di negara mana pun, asalkan bukan di Rusia atau Belarusia," ujar Zelensky, mengutip Kyiv Independent.
Sementara itu, Putin menolak bertemu dengan Presiden Ukraina di negara ketiga yang tidak terlibat dalam perang, seperti Turki.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.