Kamis, 23 April 2026

Bukan Sekadar Filosofi, Ikigai Jepang Terbukti Turunkan Risiko Kematian

Ikigai terbukti turunkan risiko kematian dan tingkatkan kinerja kerja. Rahasianya ada pada makna hidup dan tujuan yang selaras

Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Richard Susilo
PETA IKIGAI - Ikigai Jepang ternyata memiliki efek positif bahkan telah diteliti oleh berbagai ahli di Jepang memang benar. Ikigai (生き甲斐) adalah konsep dari Jepang yang berarti “alasan untuk hidup” atau “hal yang membuat hidup terasa bermakna.” (Richard Susilo) 

Ringkasan Berita:
  • Konsep Ikigai terbukti memberi dampak positif bagi kesehatan dan kinerja kerja, dengan risiko kematian lebih rendah serta engagement lebih tinggi 
  • Praktik di perusahaan menunjukkan bahwa makna kerja, bukan sekadar work-life balance, mendorong produktivitas dan kepuasan 
  • Ikigai dapat ditemukan melalui makna pribadi, relasi, dan keselarasan tujuan individu dengan organisasi

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –  Ikigai Jepang ternyata memiliki efek positif bahkan telah diteliti oleh berbagai ahli di Jepang memang benar.

Ikigai (生き甲斐) adalah konsep dari Jepang yang berarti “alasan untuk hidup” atau “hal yang membuat hidup terasa bermakna.”

"Dalam sebuah studi epidemiologi berskala besar yang dilakukan di Jepang (2008), ditemukan bahwa orang yang menjawab memiliki ikigai cenderung memiliki risiko kematian lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak memilikinya,"  ungkap Toshiya Kondo, CEO Link and Motivation Singapore Pte. Ltd di Jepang baru-baru ini.

Selain itu, penelitian psikologi organisasi di luar negeri (2017) juga melaporkan bahwa orang yang menemukan makna dan tujuan dalam pekerjaan (≒ memiliki ikigai) cenderung memiliki tingkat keterlibatan (engagement) yang lebih tinggi serta tingkat keluar kerja (turnover) yang lebih rendah.

"Di perusahaan di Singapura yang kami dukung, perubahan serupa juga mulai terlihat."

Sebuah perusahaan sebelumnya menekankan work-life balance dengan memisahkan secara jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Baca juga: Modus Tilang Sepeda di Jepang, Lansia Tertipu Polisi Gadungan dan Serahkan Uang Rp5 Juta

 Namun, pendekatan ini justru menyebabkan keterlambatan dalam merespons permintaan pelanggan, karena karyawan cenderung menunda hal yang tidak langsung menguntungkan diri mereka.

Sebagai solusi, perusahaan tersebut tidak hanya meningkatkan fleksibilitas kerja, tetapi juga menciptakan ruang dialog untuk membahas pertanyaan seperti “mengapa kita melakukan pekerjaan ini?” dan “nilai apa yang saya ciptakan dalam organisasi?”

Hasilnya, setiap individu mulai mengaitkan pekerjaan mereka dengan tujuan perusahaan (purpose) dan merasakan kebahagiaan dalam mewujudkannya dengan berbagai cara.

Perubahan ini menunjukkan bahwa motivasi tidak hanya berasal dari pemisahan antara kerja dan kehidupan, tetapi dari titik di mana keduanya saling bertemu. 

"Inilah esensi dari pengelolaan organisasi berbasis ikigai, yang mampu memperluas potensi bisnis," katanya.

Tiga Langkah Menemukan Kembali Ikigai

Lalu, bagaimana kita menemukan ikigai dalam pekerjaan? Dari berbagai praktik global, ada tiga poin utama:

(1) Memberi Makna Pribadi pada Pekerjaan

Ikigai tidak datang begitu saja. Ia muncul dari usaha untuk menemukan makna dalam pekerjaan.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved