Iran Vs Amerika Memanas
Daftar Negara yang Masuk ‘NATO Baik’ dan ‘NATO Nakal’ Versi Trump
Donald Trump disebut menyusun daftar anggota NATO “baik” dan “nakal” berdasarkan kontribusi dan sikap terhadap perang Iran.
Ringkasan Berita:
- Donald Trump disebut menyusun daftar anggota NATO “baik” dan “nakal” berdasarkan kontribusi dan sikap terhadap perang Iran.
- Negara seperti Polandia dan Rumania dinilai mendukung AS, sementara Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia bersikap kritis atau menolak keterlibatan militer.
- Ketegangan ini memicu ancaman Trump untuk mengurangi komitmen AS di NATO, termasuk kemungkinan penarikan pasukan dari Eropa.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menyusun daftar anggota NATO yang dianggap “baik” dan “nakal”, seiring perbedaan sikap di dalam aliansi terkait perang di Iran.
Dari 32 anggota NATO, siapa saja yang masuk dalam kategori tersebut?
Politico melaporkan bahwa ide ini berasal dari usulan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Hegseth disebut mengemukakan gagasan tersebut dalam sebuah forum pertahanan pada September lalu.
Dalam forum itu, ia menyatakan bahwa “sekutu teladan” akan mendapat perlakuan khusus dari AS, sementara negara yang dinilai tidak berkontribusi akan menghadapi konsekuensi.
“Sekutu teladan yang meningkatkan kinerja, seperti Israel, Korea Selatan, Polandia, semakin banyak Jerman, negara-negara Baltik, dan lainnya, akan menerima perlakuan khusus kami,” ujarnya.
“Sekutu yang masih gagal menjalankan perannya dalam pertahanan kolektif akan menghadapi konsekuensinya.”
Para pejabat Eropa dan pertahanan menyebut daftar tersebut merangkum kontribusi anggota terhadap aliansi, serta mengelompokkan mereka berdasarkan tingkat kontribusi.
Siapa Saja yang Masuk Daftar?
Gedung Putih belum mengungkap daftar resmi tersebut.
Namun, menurut India Today, Polandia dan Rumania kemungkinan masuk dalam kategori “baik”.
Polandia dinilai memberikan kontribusi signifikan bagi NATO.
Baca juga: NATO Gaspol! Belanda Gelontorkan Rp4,7 T Drone ke Ukraina, Rusia Bereaksi Keras
Sementara itu Rumania mengizinkan penggunaan pangkalan udaranya oleh pasukan AS untuk operasi terkait perang Iran.
Sebaliknya, negara seperti Inggris dan Prancis kemungkinan masuk kategori “nakal” karena menolak bergabung dalam blokade AS di Selat Hormuz.
Kedua negara menyatakan tidak ingin terlibat dalam konflik dan memilih mendorong inisiatif pembukaan jalur pelayaran tersebut, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
“Kami tidak mendukung blokade,” kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer kepada BBC.
“Keputusan saya sangat jelas bahwa apa pun tekanannya, dan memang ada tekanan besar, kami tidak akan terseret ke dalam perang.”
Sikap tersebut disebut memicu kemarahan Trump dan pejabat tinggi Gedung Putih.
“Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya menginginkan bantuan Anda dua bulan lalu, tetapi sekarang saya benar-benar tidak menginginkannya lagi karena Anda sama sekali tidak berguna saat kami membutuhkan Anda,” kata Trump dalam sebuah acara di Arizona.
“Namun, sebenarnya kami tidak pernah membutuhkan mereka. Mereka yang membutuhkan kami,” tambahnya.
Negara Lain yang Bersikap Kritis
Spanyol dan Italia juga menunjukkan sikap kritis terhadap aksi militer AS di Timur Tengah.
Mengutip dnaindia.com, Spanyol secara tegas menolak mengizinkan AS menggunakan pangkalan udara bersama untuk serangan ofensif terhadap Iran.
Trump bahkan dilaporkan mengancam akan mengambil langkah perdagangan sebagai respons atas penolakan tersebut.
Pemerintah Spanyol menyebut perang terhadap Iran sebagai “sangat ilegal dan tidak adil”.
Italia juga menolak memberikan izin penggunaan pangkalan udara Sigonella di Sisilia untuk operasi militer AS yang berkaitan dengan Iran.
Selain itu, Spanyol sebelumnya telah berselisih dengan pemerintahan Trump karena menolak target pengeluaran pertahanan NATO sebesar 5 persen pada KTT Den Haag tahun lalu.
Di sisi lain, negara-negara Baltik seperti Lithuania, Latvia, Estonia, serta Polandia dipuji karena konsisten berada di peringkat atas dalam hal pengeluaran militer.
Ancaman Trump terhadap NATO
Kepala kebijakan Pentagon, Elbridge Colby, mengatakan bahwa Trump mengharapkan sekutu NATO meningkatkan kontribusi mereka, termasuk dalam mengamankan jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Trump bahkan mengancam akan keluar dari NATO dan mempertimbangkan penarikan sebagian pasukan AS dari Eropa setelah sejumlah negara menolak penggunaan wilayah udara mereka untuk operasi militer terhadap Iran.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyatakan bahwa Trump menginginkan komitmen konkret dari negara-negara Eropa dalam waktu dekat.
Rutte mengakui adanya frustrasi dari pihak AS, tetapi menegaskan bahwa banyak negara Eropa tetap memberikan dukungan terhadap operasi tersebut.
Usai pertemuan dengan Rutte pada 8 April, Trump menulis di media sosial:
“NATO tidak ada ketika kita membutuhkan mereka, dan mereka tidak akan ada ketika kita membutuhkannya lagi.”
Gedung Putih juga menyatakan bahwa Trump mempertimbangkan kemungkinan keluar dari NATO secara penuh.
Namun, penarikan pasukan dari Eropa dinilai sebagai opsi yang lebih realistis dalam jangka pendek, meskipun langkah tersebut dapat memicu persoalan hukum konstitusional.
Saat ini, AS memiliki lebih dari 80.000 personel militer di Eropa, dengan lebih dari 30.000 di antaranya ditempatkan di Jerman, serta sejumlah besar lainnya di Italia, Inggris, dan Spanyol.
Respons Eropa
Meski isu daftar “NATO baik” dan “nakal” mencuat, para pejabat Eropa tampaknya tidak terlalu khawatir.
“Mereka tampaknya belum memiliki rencana konkret untuk menghukum sekutu yang dianggap buruk,” ujar seorang pejabat Eropa kepada Politico.
“Pemindahan pasukan mungkin menjadi salah satu opsi, tetapi pada akhirnya itu justru lebih merugikan AS sendiri,” tambahnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.