5 Populer Internasional: Popularitas Trump Anjlok ke Level Kritis - Zelensky Curhat Soal Ukraina
Rangkuman berita populer internasional, di antaranya Trump mengalami penurunan popularitas hingga kisaran 30 persen akibat perang Iran
Ringkasan Berita:
- Trump mengalami penurunan popularitas hingga kisaran 30 persen akibat perang Iran dan krisis ekonomi.
- Zelensky mengeluhkan isu Ukraina mulai terlupakan karena perhatian dunia tersedot ke konflik Iran.
- Ia menegaskan Ukraina tidak bisa menunggu perang Iran selesai untuk mendapat dukungan internasional.
TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.
Popularitas Donald Trump anjlok ke kisaran 30-an persen di berbagai jajak pendapat, dipicu dampak perang Iran dan tekanan ekonomi.
Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menyebut isu agresi Rusia ke negaranya mulai terlupakan akibat perang di Iran.
Berikut berita selengkapnya.
1. Popularitas Trump Anjlok ke Level Kritis, Perang Iran Picu Ketidakpuasan Publik AS Meluas
Popularitas Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dilaporkan merosot tajam ke titik terendah selama masa jabatan keduanya di tengah tekanan perang Iran dan krisis ekonomi domestik.
CNN melaporkan sejumlah jajak pendapat terkini menunjukkan tingkat dukungan terhadap Trump merosot ke sekitar 30 persen.
Survei Reuters-Ipsos mencatat angka 36 persen, sementara survei Strength in Numbers-Verasight menunjukkan 35 persen dan AP-NORC sebesar 33 persen.
Hasil ini memperpanjang tren penurunan konsisten yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Bahkan, delapan dari sembilan jajak pendapat utama menempatkan Trump di level yang sama rendahnya.
Ketidakpuasan Publik Meningkat
Rata-rata penolakan publik terhadap Trump kini berada di kisaran 62 persen menurut agregasi survei nasional.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode krisis sebelumnya, termasuk awal masa jabatan 2017 dan pasca peristiwa January 6 United States Capitol attack.
Kondisi tersebut menunjukkan semakin luasnya penolakan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump.
Perang Iran Jadi Faktor Kunci
Penurunan ini disebut semakin tajam sejak pecahnya konflik dengan Iran.
Isu perang kini menjadi salah satu faktor utama yang menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Survei menunjukkan sekitar dua pertiga warga Amerika tidak setuju dengan cara Trump menangani konflik tersebut.
Selain itu, kebijakan luar negeri ini dinilai memperburuk ketidakstabilan global sekaligus menekan ekonomi domestik.
2. Bush, Obama, Biden Tolak Rencana Perang Melawan Iran dari Netanyahu, Hanya Trump yang Setuju
Mantan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pernah mengusulkan perang dengan Iran kepada beberapa presiden AS sebelumnya, tetapi semuanya menolak.
Klaim itu diucapkan saat ia menjadi tamu di acara The Late Show With Stephen Colbert pada Selasa (21/4/2026).
Mengutip India Today, Kerry mengatakan Netanyahu telah menyampaikan usulan perang dengan Iran kepada Amerika Serikat pada pemerintahan sebelumnya, tetapi AS menolak untuk melanjutkannya.
“Netanyahu pernah menyampaikan usulan perang dengan Iran kepada kami. Tanggapannya adalah tidak,” kata Kerry.
Ia menambahkan bahwa usulan tersebut didasarkan pada prediksi bahwa perubahan rezim akan terjadi dan rakyat akan melakukan pemberontakan.
“Tidak satu pun dari hal itu terjadi,” ujarnya.
Menurut Kerry, mantan Presiden Barack Obama, George W. Bush, dan Joe Biden semuanya menolak rencana tersebut.
Ia juga menuduh bahwa alasan di balik perang semacam itu telah disalahartikan.
“Kita telah dibohongi tentang apa sebenarnya perang itu,” kata Kerry.
Dengan membandingkannya dengan konflik masa lalu, Kerry mengutip pelajaran dari Perang Vietnam dan Perang Irak.
Ia memperingatkan agar tidak menyesatkan publik serta menekankan dampak kemanusiaan dari aksi militer.
“Pelajaran dari Vietnam dan Irak adalah: jangan berbohong kepada rakyat Amerika. Jangan meminta mereka mengirim putra dan putri mereka untuk berperang,” katanya.
3. Ucapan Trump Soal Keretakan di Iran Terbukti, Pejabat Teheran Adu Argumen: Perang atau Damai?
Ucapan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tentang pemerintah Iran terbukti.
Iran kini berada di persimpangan jalan yang krusial pasca-keputusan Trump untuk perpanjang gencatan senjata.
Internal Teheran dilaporkan tengah memanas terkait masa depan perang yang berlangsung hampir dua bulan ini.
Para petinggi negara itu dikabarkan tengah berdebat sengit soal apakah harus melunak demi mencabut blokade ekonomi, atau justru membalas serangan dari Washington.
Menurut pemberitaan Al Jazeera, di koridor kekuasaan Teheran, suara tidak lagi bulat.
Pihak berwenang Iran kembali menggelar aksi pembangkangan pada Selasa (21/4/2026) malam hingga Rabu (22/4/2026) dengan parade militer di jalan-jalan Teheran.
Parade militer yang digelar di Lapangan Enghelab, Teheran ini terjadi bertepatan dengan pengumuman gencatan senjata Trump.
Sebuah rudal balistik Khorramshahr-4, salah satu proyektil jarak jauh Iran, diarak melewati kerumunan orang yang bersorak-sorai untuk mendukung pemerintahan Iran.
Media Iran juga merilis lebih banyak rekaman dan wawancara dengan orang-orang bersenjata, termasuk perempuan, yang mengatakan mereka siap bertempur di jalanan.
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk PBB, Saeed Iravani mengatakan bahwa putaran negosiasi selanjutnya dapat berlangsung di Pakistan.
Iravani menegaskan kembali bahwa Iran mau bernegosiasi jika AS mencabut blokade yang telah diberlakukannya.
4. 2 Teknisi Angkatan Udara Israel Didakwa Jadi Mata-mata untuk Iran, Dituduh Bantu Musuh Selama Perang
Dua teknisi pesawat yang bertugas di militer Israel akan didakwa melakukan spionase untuk Iran, Rabu (22/4/2026) waktu setempat.
Spionase merupakan aksi memata-matai untuk mengumpulkan informasi mengenai sebuah organisasi atau lembaga yang dianggap rahasia tanpa mendapatkan izin dari pemilik yang sah dari informasi tersebut.
Stasiun televisi pemerintah Israel, KAN, melaporkan bahwa para tersangka adalah anggota Angkatan Udara Israel yang bekerja sebagai teknisi F-15 di Pangkalan Udara Tel Nof dekat Ashdod, Israel.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa mereka dituduh "membantu musuh selama masa perang," dengan salah satu tersangka berpotensi menghadapi tuduhan yang setara dengan pengkhianatan.
Laporan itu menambahkan bahwa delapan tentara lain di pangkalan tersebut sedang diselidiki karena dicurigai gagal melaporkan aktivitas yang diduga tersebut meskipun mereka mengetahuinya.
Menurut laporan tersebut, para tersangka diduga diminta untuk mengumpulkan informasi tentang Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan mantan Kepala Staf Herzi Halevi.
Mereka juga dituduh memberikan dokumen yang berkaitan dengan skema mesin pesawat Israel serta foto seorang instruktur penerbangan.
Tuduhan Spionase di Iran
Sementara itu, Iran menggantung seorang pria pada Rabu setelah dinyatakan bersalah karena memiliki hubungan dengan badan intelijen Israel, Mossad, kata pihak kehakiman.
Dua LSM yang berbasis di luar negeri mengatakan bahwa pria tersebut bekerja untuk organisasi energi atom Iran.
Eksekusi Mehdi Farid adalah yang terbaru dari sejumlah hukuman gantung terhadap narapidana kelas kakap dalam tren yang semakin meningkat dan telah membuat kelompok hak asasi manusia khawatir.
“Mehdi Farid digantung pagi ini karena kerja sama yang luas dengan badan intelijen teroris Mossad setelah kasusnya diperiksa dan putusan akhir disetujui,” demikian pernyataan situs web Mizan Online milik lembaga peradilan, menambahkan bahwa ia telah dinyatakan bersalah atas tindak pidana berat “korupsi di muka bumi”.
5. Curhatan Zelensky Soal Ukraina: Kami Tak Bisa Tunggu hingga Perang Iran Selesai
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky kembali mengungkapkan kegalauannya terkait masa depan negaranya.
Zelensky merasa isu agresi Rusia ke Ukraina mulai terlupakan lantaran perhatian dunia kini tersedot sepenuhnya ke konflik bersenjata di Iran.
Dalam wawancara eksklusif bersama CNN, Rabu (22/4/2026), Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak bisa mengantre dan menunggu perang di Iran usai untuk mendapatkan bantuan atau perhatian diplomatik.
Bagi Kyiv, menunda upaya perdamaian hingga isu Timur Tengah reda adalah sebuah pertaruhan nyawa yang sangat berisiko.
"Ukraina itu bukan urusan 'nanti'. Kami sedang berada di tengah tragedi besar."
"Kita harus bisa mengelola kedua konflik ini secara paralel," tegas Zelensky.
Zelensky menyoroti kendala teknis di mana tim negosiator Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner, kini harus "berbagi otak" untuk menangani dua konflik besar sekaligus.
Kondisi ini membuat pertemuan-pertemuan strategis untuk Ukraina menjadi tertunda karena AS masih fokus membereskan urusan dengan Iran.
Tak hanya soal diplomasi, dampak perang Iran juga merembet ke urusan dapur pacu militer Ukraina.
Zelensky mengakui pasokan senjata vital, seperti sistem pertahanan udara, mulai tersendat.
Kapasitas produksi industri pertahanan AS dikabarkan kewalahan memenuhi permintaan yang datang dari dua front berbeda.
(Tribunnews.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.