5 Populer Internasional: Gencatan Senjata AS-Iran - Daftar 37 Pesawat AS yang Hancur Selama Perang
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran rapuh karena serangan Israel ke Lebanon memicu balasan rudal dari Iran.
Ringkasan Berita:
- Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran rapuh karena serangan Israel ke Lebanon memicu balasan rudal dari Iran.
- Konflik selama 39 hari membuat militer AS kehilangan 37 pesawat dengan kerugian sekitar Rp28 triliun.
- Donald Trump mengancam tarif 50 persen bagi negara yang memasok senjata ke Iran, sementara situasi di Selat Hormuz masih penuh ketidakpastian.
TRIBUNNEWS.COM - Gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi isu utama di kanal Internasional Tribunnews.
Langkah Donald Trump selanjutnya kini menjadi sorotan, apakah melanjutkan perang atau memilih jalur diplomasi.
Di sisi lain, militer AS juga mengalami banyak kerugian dalam perang yang berlangsung lebih dari 40 hari ini.
Selengkapnya, berikut rangkuman berita populer internasional dalam 24 jam terakhir.
1. Gencatan Senjata Kacau, Israel Serang Lebanon, Iran Membalas, Apa Langkah Trump Selanjutnya?
Serangan Israel di Lebanon pada Rabu (8/4/2026), berupa rentetan sekitar 100 rudal yang menewaskan 254 orang, terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata AS-Iran.
Mengutip NDTV, situasi ini membuat Presiden AS Donald Trump dihadapkan pada tiga pilihan: melanjutkan perang, mendorong diplomasi, atau menekan PM Israel Benjamin Netanyahu untuk mundur.
Iran menembakkan rudal ke Israel dan negara-negara Teluk sebagai respons atas serangan Israel, sekaligus melanjutkan blokade Selat Hormuz, jalur yang menangani seperlima perdagangan minyak mentah dunia melalui laut.
Iran bersikeras bahwa setiap kesepakatan harus mencakup Lebanon, tetapi AS dan Israel tidak sependapat.
Trump mengatakan kepada stasiun televisi Amerika, PBS News, pada Rabu (8/4/2026) pagi waktu setempat, bahwa ia memandang setiap serangan terhadap Beirut sebagai konflik kecil yang terpisah.
Ia menambahkan bahwa Lebanon dikecualikan dari gencatan senjata karena keberadaan Hizbullah.
Israel juga tegas menyatakan apa yang diklaimnya sebagai ancaman eksistensial.
Para pejabat menekankan tujuan Netanyahu untuk melemahkan sepenuhnya kemampuan nuklir dan rudal Iran, serta menargetkan Lebanon hingga Hizbullah dilumpuhkan.
Akibatnya, Trump juga harus menghadapi kemarahan dan ketidakpercayaan di dalam Iran.
Kelompok garis keras melihat tindakan Israel sebagai “pengkhianatan” terhadap upaya perdamaian jangka panjang.
Mereka merujuk pada serangan Juni 2025 dan Februari 2026 yang terjadi saat pembicaraan kesepakatan nuklir dan rudal baru, yang kemudian dicap sebagai negosiasi tidak jujur.