Selasa, 28 April 2026

Dampak Perang Tekan Industri Katsuobushi di Kagoshima, Pekerja WNI Ikut Terdampak

Krisis energi picu pabrik katsuobushi Jepang tutup sementara, pekerja termasuk WNI terdampak, industri tradisional terancam

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Richard Susilo
DAMPAK PERANG - Nishio Yuuki Direktur perusahaan Kanenishi, menyayangkan perang di Timur Tengah berkepanjangan pengaruhi produksi Katsuobushi (Tribunnews.com/Richard Susilo) 

Ringkasan Berita:
  • Lonjakan harga energi akibat ketegangan Timur Tengah memukul industri katsuobushi di Kagoshima, Jepang
  • Lebih dari separuh pabrik menghentikan produksi sementara karena biaya membengkak dan harga jual sulit naik 
  • Dampaknya, pekerja termasuk WNI ikut dirumahkan, mengancam keberlanjutan industri tradisional ini

 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, KAGOSHIMA – Dampak ketegangan di Timur Tengah mulai merambat hingga ke industri pangan tradisional Jepang.

Di Kota Ibusuki, Prefektur Kagoshima, lebih dari separuh pabrik katsuobushi memutuskan menghentikan operasional sementara usai libur panjang Golden Week akibat lonjakan harga energi.

Sejumlah pekerja WNI pun ikut diistirahatkan.

Berdasarkan laporan MBC TV, sebanyak 11 dari 16 perusahaan anggota koperasi pengolahan hasil laut di kawasan Yamakawa akan menghentikan produksi sementara.

Keputusan ini terbilang tidak biasa karena diambil di luar situasi darurat seperti pandemi COVID-19.

Katsuobushi—ikan bonito kering yang menjadi bahan utama kaldu Jepang (dashi)—merupakan produk khas wilayah selatan Semenanjung Satsuma.

Baca juga: Wanita Pemagang Indonesia Hamil di Luar Nikah di Jepang, Dorong Legalisasi Persalinan Rahasia

Namun, industri ini kini menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga energi.

Direktur perusahaan pengolahan Kanenishi, Nishio Yuuki, mengungkapkan dilema yang dihadapi pelaku usaha.

“Produksi rugi, tidak produksi juga rugi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, biaya bahan bakar minyak berat yang digunakan untuk proses perebusan ikan meningkat signifikan.

Jika sebelumnya sekitar 1,5 juta yen per bulan, sejak Februari melonjak menjadi sekitar 2 juta yen.

Kenaikan ini membuat beban biaya tahunan bertambah hingga sekitar 10 juta yen.

Harga Tak Bisa Naik, Tenaga Kerja Terdampak

Di tengah lonjakan biaya produksi, produsen katsuobushi tidak dapat dengan mudah menaikkan harga jual.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved