Jumat, 1 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Militer Amerika Ajukan 3 Opsi Serangan 'Singkat dan Ampuh' ke Iran

Gedung Putih masih mempertimbangkan opsi militer untuk memecah kebuntuan atau memberikan pukulan telak sebelum mengakhiri konflik.

Tayang:
Tribunnews.com
Kapal rudal Amerika Serikat (AS) bertengger di perairan dekat pantai Israel pada Jumat (12/4/2024). 

Militer Amerika Ajukan 3 Opsi Serangan 'Singkat dan Ampuh' ke Iran

TRIBUNNEWS.COM - Para komandan militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan akan menyampaikan ke Presiden AS Donald Trump sebuah rencana "singkat dan ampuh" untuk potensi aksi militer AS terhadap Iran.

Kabar ini muncul di tengah ketegangan yang tetap tinggi dan negosiasi masih buntu.

Pengarahan yang dijadwalkan pada Kamis (30/4/2026) dan dipimpin oleh kepala Komando Pusat AS (US CENTCOM), Brad Cooper, menggarisbawahi kalau Gedung Putih masih mempertimbangkan opsi militer untuk memecah kebuntuan atau memberikan pukulan telak sebelum mengakhiri konflik.

Baca juga: Perang Amerika-Israel Vs Iran, Pemenangnya Adalah Rusia, Berikut Ini Alasannya


 
Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Axios kalau usulan tersebut mencakup operasi terarah yang berfokus pada infrastruktur utama Iran.

"Tujuan dari opsi serangan terukur ini dirancang untuk menggeser momentum setelah beberapa putaran pembicaraan yang gagal," tulis laporan WN, Kamis. 

Di antara opsi yang akan diajukan adalah rencana untuk merebut kendali sebagian Selat Hormuz guna memulihkan pelayaran komersial.

Langkah seperti itu dapat memerlukan pengerahan pasukan darat dan secara signifikan meningkatkan konflik.

Usulan lain melibatkan misi pasukan khusus untuk mengamankan persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.

Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine juga diperkirakan akan menghadiri pengarahan tingkat tinggi tersebut, menurut laporan itu.

Para pejabat militer sedang mempertimbangkan risiko pembalasan Iran, memperingatkan bahwa Teheran dapat menargetkan pasukan AS di wilayah tersebut jika blokade atau serangan dilakukan.

KAPAL INDUK AS - Foto yang dirilis situs resmi Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy) memperlihatkan kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) melakukan latihan putaran kecepatan tinggi di Samudra Atlantik selama uji coba laut di Samudra Atlantik, 11 Mei 2017.
KAPAL INDUK AS - Foto yang dirilis situs resmi Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy) memperlihatkan kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) melakukan latihan putaran kecepatan tinggi di Samudra Atlantik selama uji coba laut di Samudra Atlantik, 11 Mei 2017. (US Navy)

Stok Rudal AS Menipis

Perkembangan ini terjadi sehari setelah Trump menginstruksikan para asistennya  untuk bersiap menghadapi blokade berkepanjangan di Selat Hormuz.

Ini dianggap Trump sebagai strategi utama untuk meningkatkan tekanan pada Iran dengan membatasi ekspor minyak dan pelayaran komersialnya. 

Baca juga: Bikin Boncos, AS Enggan Lanjut Ngebom Iran: Trump Perintahkan Blokade Berkepanjangan

Meskipun opsi lain, seperti menghentikan perang atau melanjutkan pemboman skala besar, dipertimbangkan, sumber-sumber mengindikasikan bahwa presiden melihat blokade tersebut memiliki risiko yang relatif lebih rendah.

Namun, ia tidak mengesampingkan tindakan militer jika Iran terus melawan.
Kekhawatiran juga muncul di dalam pemerintahan.

Wakil Presiden JD Vance dilaporkan khawatir bahwa Pentagon mungkin menyajikan gambaran yang terlalu optimis tentang konflik tersebut.

Menurut laporan The Atlantic, Vance mempertanyakan keakuratan pengarahan dan menyatakan kekhawatiran bahwa Trump hanya diperlihatkan ringkasan singkat yang menggambarkan operasi AS lebih sukses daripada kenyataannya.

Ia juga menyuarakan kekhawatiran tentang potensi penipisan persediaan rudal AS jika konflik berlanjut.
  
Sementara itu, biaya finansial perang terus meningkat.

Seorang pejabat senior Pentagon mengatakan AS telah menghabiskan sekitar $25 miliar untuk konflik ini sejauh ini, dengan sebagian besar dialokasikan untuk amunisi.

Perang, yang kini memasuki minggu ke-8 pada hari Kamis (30 April), tetap berada pada tahap yang rapuh, dengan gencatan senjata yang lemah, ketegangan yang meningkat atas kemungkinan blokade, dan tidak ada negosiasi aktif yang sedang berlangsung.

 

 

(oln/WN/*)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved