Jumat, 1 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS Gunakan AI untuk Mendeteksi Ranjau Iran di Selat Hormuz

Angkatan Laut AS dikabarkan sedang berupaya menjalin kerjasama dengan perusahaan AI untuk mendeteksi ranjau Iran di Selat Hormuz.

Tayang:
Editor: Nuryanti
HO/IST/dok. Roland Berger
TERTUTUP UNTUK AS DAN ISRAEL - Iran menolak Selat Hormuz kembali ke status quo yang dinikmati sebelum pecah perang AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari 2026. Selat Hormuz tertutup bagi AS dan sekutunya, tetapi kapal dari negara lain tetap dapat menggunakannya. - Angkatan Laut AS dikabarkan sedang berupaya menjalin kerjasama dengan perusahaan AI untuk mendeteksi ranjau Iran di Selat Hormuz. 

Ringkasan Berita:
  • Angkatan Laut AS meningkatkan penggunaan AI untuk mendeteksi ranjau Iran di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
  • Presiden AS Donald Trump menegaskan pembersihan ranjau penting bagi stabilitas energi global.
  • Melalui kerja sama dengan Domino Data Lab, Angkatan Laut AS akan lebih cepat mendeteksi ranjau.
  • Teknologi ini memangkas waktu analisis dari berbulan-bulan menjadi hitungan hari serta mengurangi risiko bagi personel.

TRIBUNNEWS.COM - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah meningkatkan kemampuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi dan memburu ranjau laut yang diduga dipasang Iran di Selat Hormuz.

Jalur pelayaran ini merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia, sehingga gangguan di kawasan tersebut berpotensi mengguncang ekonomi global.

Presiden AS, Donald Trump, menyatakan pihaknya saat ini sedang melakukan upaya pembersihan ranjau di selat tersebut.

Ia menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz sangat penting bagi kelancaran distribusi energi dunia.

Namun, proses pembersihan ranjau bawah laut bukanlah pekerjaan mudah.

Para ahli memperkirakan operasi ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh antara AS dan Iran setelah konflik yang berlangsung beberapa pekan terakhir.

Untuk mempercepat proses tersebut, Angkatan Laut AS menggandeng perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan, Domino Data Lab.

Perusahaan yang berbasis di San Francisco ini mendapatkan kontrak hingga hampir 100 juta dolar AS untuk mengembangkan sistem AI yang mampu melatih drone bawah laut dalam mengidentifikasi berbagai jenis ranjau dengan cepat.

Thomas Robinson, Kepala Operasional Domino Data Lab, menjelaskan bahwa pendekatan ini menandai perubahan besar dalam strategi militer laut.

“Perburuan ranjau dulunya adalah pekerjaan kapal. Sekarang ini menjadi pekerjaan untuk AI,” ujarnya dalam wawancara dengan Reuters, Jumat (1/5/2026).

Baca juga: Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara untuk Lawan Drone Pengintai, Situasi Kembali Normal

“Angkatan Laut membayar platform yang memungkinkan mereka melatih, mengatur, dan menerapkan AI dengan kecepatan yang dibutuhkan di perairan yang diperebutkan," jelasnya.

Program ini merupakan bagian dari Proyek AMMO (Accelerated Machine Learning for Maritime Operations), sebuah inisiatif Angkatan Laut AS untuk meningkatkan kemampuan deteksi ranjau secara lebih cepat, akurat, dan minim keterlibatan manusia.

Teknologi yang dikembangkan Domino mampu mengintegrasikan data dari berbagai sensor, seperti sonar pemindaian samping dan sistem pencitraan visual. 

Dengan sistem ini, Angkatan Laut dapat memantau kinerja model AI secara real-time, mengidentifikasi kesalahan, serta melakukan pembaruan sistem secara cepat.

Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah efisiensi waktu.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved