Jepang Luncurkan Power Asia Senilai 10 Miliar Dolar AS, Indonesia Masuk Prioritas Energi dan FOIP
Jepang luncurkan Power Asia 10 miliar dolar AS untuk energi Asia. Indonesia masuk prioritas, bersama dorongan digital, perdagangan dan keamanan
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Jepang di bawah PM Sanae Takaichi meluncurkan inisiatif “Power Asia” senilai US$10 miliar untuk memperkuat ketahanan energi di Asia, dengan Indonesia, Vietnam, dan Filipina sebagai proyek awal
- Program ini mencakup pembiayaan energi, penguatan konektivitas digital, serta dorongan integrasi perdagangan melalui TPP
- Jepang juga memperluas kerja sama keamanan dan rantai pasok mineral strategis guna memperkuat kawasan Indo-Pasifik
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Pemerintah Jepang di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi resmi meluncurkan inisiatif besar bertajuk “Power Asia” senilai sekitar 10 miliar dolar AS atau 1,6 triliun yen, untuk memperkuat ketahanan energi di kawasan Asia. Indonesia, Vietnam, dan Filipina ditetapkan sebagai proyek awal dalam skema strategis tersebut.
Program ini difokuskan pada dukungan pembiayaan pengadaan minyak dan produk energi, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasokan global akibat dinamika geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah.
"Jepang menilai diversifikasi sumber energi menjadi kunci stabilitas ekonomi kawasan Indo-Pasifik, khususnya penting bagi tiga negara tersebut," ungkap sumber pejabat pemerintah Jepang kepada Tribunnews.com Minggu (3/5/2026)..
Selain sektor energi, Jepang juga memperkenalkan inisiatif “FOIP Digital Corridor” yang mencakup pembangunan infrastruktur kabel bawah laut guna memperkuat konektivitas digital antarnegara.
Baca juga: Tiba di Lanud Halim, Menhan Jepang dan Sjafrie Sjamsoeddin Bakal Teken Kerja Sama Pertahanan
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat transformasi ekonomi berbasis data di kawasan khususnya di Asia Tenggara.
Dalam bidang perdagangan, Tokyo mendorong percepatan keanggotaan Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) bagi negara-negara strategis seperti Indonesia, Filipina, dan Uni Emirat Arab.
"Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat integrasi ekonomi dan memperluas pasar bebas berbasis aturan. Kami ingin negara-negara di Asia Tenggara semakin dekat dengan Jepang," tambahnya.
Di sektor keamanan, Jepang juga berencana memperluas program “Official Security Assistance” (OSA), yakni bantuan peningkatan kapasitas pertahanan negara mitra, termasuk dalam penguatan kemampuan pengawasan dan keamanan maritim.
Sementara itu, Vietnam mendapat sorotan khusus sebagai mitra strategis Jepang dalam rantai pasok global. Negara tersebut merupakan pemasok rare earth terbesar kedua bagi Jepang setelah China.
Dalam pidatonya, Takaichi menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam pengembangan sumber daya mineral tersebut guna mengurangi ketergantungan terhadap satu negara.
Menutup pidatonya, Takaichi menegaskan visi Jepang untuk membangun kawasan Indo-Pasifik yang kuat dan sejahtera secara bersama.
“Jepang, ASEAN, dan negara-negara Indo-Pasifik dapat tumbuh kuat dan makmur bersama,” ujarnya, sembari menyerukan kerja sama berbasis nilai bersama demi mewujudkan kawasan yang bebas dan terbuka serta semakin dekat dengan Jepang.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/TKC2.jpg)