Senin, 4 Mei 2026

Dorong Kemandirian Ekonomi dan Hadapi Dominasi Cina, PM Jepang Tegaskan Evolusi FOIP

Sanae Takaichi dorong evolusi FOIP di Hanoi untuk hadapi tekanan China dan perkuat ketahanan ekonomi Indo-Pasifik

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribunnews.com/Kantor PM Jepang
KUNJUNGAN KE VIETNAM - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang tengah melakukan kunjungan ke Hanoi, Republik Sosialis Vietnam, mengadakan pertemuan dengan Ketua Majelis Nasional Tran Thanh Man. 

Ringkasan Berita:
  • Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan evolusi konsep FOIP di Hanoi untuk menjaga stabilitas Indo-Pasifik di tengah dinamika global
  • Kebijakan ini merespons meningkatnya tekanan ekonomi China sekaligus mendorong kemandirian rantai pasok 
  • Jepang juga meluncurkan inisiatif energi dan digital guna memperkuat kerja sama kawasan

 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, HANOI  –  Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pidato diplomatik di Hanoi, Vietnam, dengan menegaskan evolusi konsep “Free and Open Indo-Pacific” (FOIP), Sabtu (2/5/2026.

Langkah ini ditujukan untuk menghadapi meningkatnya sikap hegemonik China serta memperkuat keamanan ekonomi dengan mengurangi ketergantungan pada negara tersebut, ungkap sumber Tribunnews.com seorang pejabat pemerintah Jepang Minggu (3/5/2026).

Pidato tersebut disampaikan di universitas ternama di Vietnam yang sebelumnya juga pernah menjadi tempat pidato Bill Clinton dan Li Keqiang.

Dalam kesempatan itu, Takaichi menegaskan bahwa “10 tahun sejak diperkenalkan, relevansi FOIP tetap tidak tergoyahkan,” meski situasi global terus berubah.

Konsep FOIP sendiri pertama kali diperkenalkan pada 2016 oleh mantan PM Jepang Shinzo Abe, dengan menekankan prinsip supremasi hukum, kebebasan navigasi, dan perdagangan bebas guna menciptakan kawasan Indo-Pasifik yang damai dan sejahtera.

Baca juga: 100 Perusahaan Pertahanan Jepang Bangkrut dalam 23 Tahun Terakhir, Dilema Kebijakan Ekspor Senjata

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, tekanan ekonomi dari China—seperti pembatasan ekspor mineral penting—meningkatkan kekhawatiran terhadap ketergantungan global.

Menanggapi hal ini, Takaichi menekankan pentingnya “kemandirian” dan “ketahanan” (resilience), serta mengingatkan agar negara-negara tidak bergantung secara berlebihan pada satu negara tertentu.

Sebagai langkah konkret, Jepang menetapkan tiga bidang prioritas utama dalam evolusi FOIP:

Membangun ekosistem ekonomi di era AI dan data, termasuk penguatan rantai pasok energi dan material penting untuk kolaborasi sektor publik dan swasta dalam menciptakan frontier ekonomi baru serta berbagi aturan.

Demikian pula untuk memperluas kerja sama di bidang keamanan demi stabilitas kawasan.

Selain itu, Jepang meluncurkan inisiatif “Power Asia” senilai sekitar 100 miliar dolar AS untuk mendukung pengadaan minyak dan produk energi di negara-negara Asia. Vietnam Filipina dan Indonesia menjadi proyek pertama dalam skema ini.

Inisiatif lain mencakup pembangunan kabel bawah laut melalui “FOIP Digital Corridor”, dukungan percepatan keanggotaan TPP bagi negara strategis seperti Filipina, Indonesia, dan UEA, serta perluasan program bantuan peningkatan kapasitas keamanan (OSA).

Vietnam juga memiliki posisi strategis bagi Jepang sebagai pemasok rare earth terbesar kedua setelah China. Takaichi menekankan pentingnya kerja sama pemerintah dan swasta dalam pengembangan sumber daya tersebut guna memperkuat diversifikasi rantai pasok.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved