Iran Vs Amerika Memanas
Situasi Mencekam di UEA: 19 Rudal dan Drone Iran Meluncur, Aktivitas Sekolah Pindah ke Daring
UEA klaim 19 rudal & drone Iran dicegat, sekolah kembali daring hingga 8 Mei di tengah eskalasi ketegangan Teluk.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan sistem pertahanan udaranya telah “menghadapi” 19 rudal dan drone yang diluncurkan Iran pada Senin (4/5/2026).
Serangan tersebut disebut terdiri dari rudal balistik, rudal jelajah, dan kendaraan udara tanpa awak (UAV).
Kementerian Pertahanan UEA dalam pernyataannya mengatakan, “pertahanan udara UEA menghadapi 12 rudal balistik, 3 rudal jelajah, dan 4 UAV yang diluncurkan dari Iran, yang mengakibatkan 3 luka sedang.”
Namun, belum ada penjelasan rinci mengenai jumlah proyektil yang berhasil dihancurkan.
Sebelumnya, otoritas di Fujairah melaporkan serangan drone ke fasilitas pelabuhan minyak yang memicu kebakaran dan menyebabkan tiga warga negara India mengalami luka-luka.
Sumber yang dikutip CNN menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel digunakan untuk membantu mencegat proyektil di wilayah udara UEA. CNN telah meminta tanggapan resmi dari Kementerian Luar Negeri UEA terkait laporan tersebut.
Axios sebelumnya melaporkan bahwa Israel secara diam-diam telah mengerahkan Iron Dome untuk membantu UEA, yang dinilai mencerminkan semakin eratnya hubungan kedua negara sejak menjalin hubungan diplomatik sekitar enam tahun lalu.
Hingga kini, situasi di kawasan Teluk masih berada dalam kondisi siaga tinggi di tengah eskalasi serangan lintas negara.
Baca juga: UEA Siap Balas Serangan Iran, Kebakaran di Fujairah Picu Lonjakan Harga Minyak
UEA Alihkan Sekolah ke Pembelajaran Daring
Sekolah-sekolah di Uni Emirat Arab (UEA) kembali beralih ke sistem pembelajaran jarak jauh setelah adanya serangan terbaru yang dikaitkan dengan Iran di kawasan Teluk.
Kementerian Pendidikan UEA dalam pernyataannya menyebut bahwa seluruh sekolah dan taman kanak-kanak akan menjalankan pembelajaran secara daring mulai Selasa hingga Jumat “demi keselamatan siswa serta seluruh pihak yang bekerja di sektor pendidikan.”
“Situasi saat ini akan dievaluasi kembali pada Jumat, 8 Mei 2026, jika diperlukan perpanjangan periode,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Kebijakan ini diberlakukan di tengah meningkatnya ketegangan regional yang kembali memengaruhi aktivitas masyarakat sipil, termasuk sektor pendidikan.
Sebelumnya, banyak sekolah dan universitas di kawasan Teluk, termasuk UEA, juga sempat beralih ke pembelajaran daring ketika konflik mulai pecah pada akhir Februari.
Qatar bahkan lebih awal menerapkan kebijakan serupa pada hari pertama pecahnya pertempuran.
Hingga kini, otoritas pendidikan di UEA masih terus memantau situasi keamanan dan menyesuaikan kebijakan sesuai perkembangan kondisi di lapangan.
(BBC/CNN/Tribunnews)