Iran Vs Amerika Memanas
Media Inggris: Situasi di Pentagon Kacau, Menhan Amerika Pete Hegseth Semakin Terisolasi
Pentagon dilaporkan mengalami kekacauan total setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth melakukan "pembersihan" besar-besaran terhadap para jenderal.
Ringkasan Berita:
- Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah memecat atau memaksa pensiun 24 jenderal dan komandan senior militer AS sejak Januari 2025.
- Langkah ini dianggap sebagai upaya pembersihan ideologis untuk menghapus kebijakan "woke" (keberagaman dan inklusi) di tubuh militer.
- Sekitar 60 persen dari mereka yang didepak adalah perwira kulit hitam dan perempuan dengan reputasi yang sangat baik.
- Hegseth digambarkan semakin terisolasi dari birokrasi Pentagon.
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Media Inggris The Guardian melaporkan, kekhawatiran mendalam kini tengah menyelimuti koridor Pentagon, sebutan untuk markas besar Departemen Pertahanan Amerika Serikat di Arlington, Virginia.
Sejumlah orang dalam menggambarkan situasi di Departemen Pertahanan Amerika Serikat tersebut sebagai kekacauan total setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth melakukan "pembersihan" besar-besaran terhadap para perwira tinggi militer.
Sejak masa jabatan pertama Donald Trump, para jenderal senior sering dipandang sebagai "orang dewasa di dalam ruangan"—benteng terakhir yang melindungi negara dari desakan impulsif seorang presiden yang memegang kode nuklir.
Namun, gelombang pemecatan yang kini dibandingkan dengan pembersihan ala Stalin ini membuat militer AS tak lagi tampak seperti penahan yang andal.
Sejak Trump kembali menjabat pada Januari tahun lalu, Pete Hegseth, mantan pembawa acara Fox News, telah memecat atau memaksa pensiun 24 jenderal dan komandan senior tanpa alasan kinerja yang jelas.
Hegseth diketahui sedang menjalankan misi merombak etos militer yang ia sebut sebagai budaya "woke" (terlalu progresif).
Data menunjukkan sekitar 60 persen dari mereka yang didepak adalah perwira kulit hitam atau perempuan.
Langkah ini tampaknya didorong oleh upaya pemerintah untuk memerangi apa yang mereka sebut sebagai "perekrutan berbasis DEI" (keberagaman, kesetaraan, dan inklusi).
Padahal, para perwira yang dipaksa keluar memiliki reputasi yang sangat baik.
Korban terbaru adalah Jenderal Randy George, Kepala Staf Angkatan Darat, yang dicopot bulan lalu setelah dilaporkan menolak instruksi Hegseth untuk mencoret empat perwira—dua pria kulit hitam dan dua perempuan—dari daftar promosi jabatan.
"Rentetan pemecatan ini dimulai sejak Februari tahun lalu dengan pemberhentian Jenderal CQ Brown dari posisi Ketua Kepala Staf Gabungan," tulis The Guardian.
Brown, seorang komandan Angkatan Udara yang disegani, digantikan oleh Dan Caine, jenderal bintang tiga yang sempat pensiun dan harus dipromosikan secara kilat demi memenuhi syarat jabatan.
Hegseth sendiri bersikap tidak menyesal saat menghadapi pertanyaan dari komite militer Senat pekan lalu.
Ketika ditanya apakah Trump menginstruksikannya untuk mengincar perwira kulit hitam dan perempuan, Hegseth membantahnya namun memberikan pembelaan yang tajam.
"Tentu saja tidak. Anggota komite ini dan kepemimpinan departemen sebelumnya terlalu fokus pada rekayasa sosial, ras, dan gender dengan cara yang kami anggap tidak sehat," ujar Hegseth dengan nada menantang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menteri-Pertahanan-AS-Pete-Hegseth-mengurangi-setidaknya-20-persen-jenderal-dan-laksamana.jpg)