Iran Vs Amerika Memanas
Dunia Bergejolak, Harga Minyak Global Melonjak 6 Persen setelah Eskalasi Iran dan UEA
Harga minyak dunia melonjak 6% usai Iran serang pelabuhan UEA dan kapal di Selat Hormuz, picu ancaman krisis energi global.
Pasar keuangan juga ikut tertekan, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Investor cenderung bersikap hati-hati, sementara negara-negara importir energi menghadapi tekanan tambahan pada neraca perdagangan.
Situasi ini menempatkan konflik di Timur Tengah tidak lagi sebagai isu regional, melainkan ancaman global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dunia.
Iran Membantah
Iran membantah dituduh menyerang fasilotas minyak UEA.
Iran bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) sebagai dalang di balik insiden tersebut.
Melansir laporan dari lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, seorang sumber militer menyebutkan bahwa kebakaran besar yang melanda zona minyak UEA adalah hasil dari "petualangan" militer Amerika.
Baca juga: Presiden Pezeshkian Kontras Serangan Iran ke UEA, Analis Peringatkan Beda Persepsi Picu Eskalasi
Tujuannya, kata sumber tersebut, untuk memaksakan pembukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang strategis.
"Iran sama sekali tidak punya rencana menyerang fasilitas minyak UEA. Ini adalah ulah militer AS yang ingin menciptakan jalur bagi kapal-kapal mereka."
"Washington yang harus bertanggung jawab," tegas sumber tersebut, mengutip Al Mayadeen.
Sebelumnya, otoritas UEA mengaitkan serangan terhadap Zona Industri Minyak Fujairah dengan Iran.
UEA menggambarkan serangan itu sebagai "eskalasi berbahaya", dan mengatakan mereka berhak untuk membalas.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian muncul dengan sikap yang kontras di tengah memanasnya konflik kawasan, memadukan retorika perlawanan dengan sinyal keterbukaan diplomasi terhadap Amerika Serikat.
Di saat ketegangan meningkat pasca serangan Iran ke kawasan Teluk, Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan asing.
Namun, dalam waktu bersamaan, ia juga mengirimkan pesan yang dinilai lebih moderat terkait kemungkinan dialog.
Seperti diberitakan oleh Iran International, Pezeshkian menyatakan Iran siap merespons setiap ancaman, tetapi tetap membuka ruang komunikasi jika dilakukan dengan dasar saling menghormati.