5 Populer Internasional: Iran Serang UEA dengan Rudal Balistik - IRGC Dituding Bertindak Sendiri
Iran melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke Uni Emirat Arab, namun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
"Tentu saja, kejahatan mereka akan berkurang."
Ia menekankan bahwa Iran sepenuhnya menyadari tekanan yang kini dihadapi AS.
"Kami tahu betul bahwa kelanjutan situasi saat ini tidak tertahankan bagi Amerika Serikat, sementara kami bahkan belum memulai," tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Iran memberlakukan blokade terhadap pelayaran asing yang melintasi Selat Hormuz setelah konflik dimulai dengan serangan AS-Israel pada 28 Februari, yang menewaskan mantan pemimpin tertinggi negara tersebut.
4. Eks Pengacara Trump Blak-blakan soal Kesehatan Mental Sang Presiden AS
Di tengah perang melawan Iran yang kembali memanas, Mantan Pengacara Donald Trump bersuara.
Dia mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) itu harus mundur dari jabatannya.
Alasannya terjadi penurunan serius kondisi kesehatan mental Donald Trump.
Pernyataan tersebut menambah daftar tokoh di AS yang ingin Trump mundur dari jabatannya menggunakan Konstitusi AS yakni Amandemen ke-25.
Ty Cobb, yang bekerja di tim hukum Trump dari Juli 2017 hingga Mei 2018, mengatakan saat pertama kali menjabat presiden AS, Trump kerap diperingatkan oleh para pembantunya mengenai kebijakan ekstrem atau saat mengambil keputusan yang tidak bijaksana atau ilegal.
Dan tampaknya saat itu masih berhasil.
Tetapi pada masa jabatan keduanya yan dimulai 2024 lalu, kata Cobb, Trump telah mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang terlalu takut untuk menantangnya sama sekali.
Sehingga saran dari pembantu terdekatnya saat ini tidak mempan lagi untuk memperingatkan sang presiden.
Menurut The Mirror, Cobb juga percaya bahwa Trump menunjukkan tanda-tanda "penurunan fungsi lobus frontal" dan "kemungkinan demensia."