Minggu, 10 Mei 2026

Kapal Pesiar MV Hondius dan Ancaman Virus di Benua Beku Antartika, Pariwisata Jadi Sorotan

Para ilmuwan memperingatkan ancaman serius meningkatnya risiko kontaminasi penyebaran penyakit, hingga kerusakan permanen kepada ekosistem Antartika..

Tayang:
Editor: willy Widianto
cruisemapper
KAPAL MV HONDIUS. Tiga penumpang tewas di kapal pesiar Atlantik akibat dugaan hantavirus, WHO selidiki wabah langka di tengah laut. 

Ringkasan Berita:
  • Para ilmuwan memperingatkan ancaman serius meningkatnya risiko kontaminasi penyebaran penyakit, hingga kerusakan permanen pada ekosistem Antartika.
  • Lonjakan kunjungan ini terjadi meskipun perjalanan ke Antartika dikenal mahal dan memakan waktu panjang.
  • Rute pelayaran umumnya dimulai dari Argentina menuju Antartika

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bentang alam Antartika yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah paling murni dan tak tersentuh di bumi kini menghadapi tekanan baru dari lonjakan pariwisata global. Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan dampak perubahan iklim yang mempercepat pencairan es, semakin banyak wisatawan berbondong-bondong mengunjungi benua beku tersebut sebagian bahkan terdorong oleh fenomena 'wisata kesempatan terakhir' untuk menyaksikan lanskap yang dikhawatirkan akan hilang selamanya. 

Baca juga: Panduan WHO untuk Hadapi Ancaman Hantavirus Setelah Penyebaran di Kapal Pesiar

Namun dibalik pesona itu, para ilmuwan memperingatkan ancaman serius meningkatnya risiko kontaminasi penyebaran penyakit, hingga kerusakan permanen pada ekosistem Antartika yang sangat rapuh.

Lonjakan kunjungan ini terjadi meskipun perjalanan ke Antartika dikenal mahal dan memakan waktu panjang. Data dari Asosiasi Internasional Operator Tur Antartika mencatat, lebih dari 80.000 wisatawan mendarat langsung di wilayah tersebut pada 2024, sementara sekitar 36.000 lainnya hanya menyaksikan dari atas kapal. Dalam 30 tahun terakhir, jumlah kunjungan bahkan disebut meningkat hingga sepuluh kali lipat.

Sebagian besar ekspedisi berfokus pada Semenanjung Antartika—salah satu wilayah dengan pemanasan tercepat di dunia. Data Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) menunjukkan, antara 2002 hingga 2020, Antartika kehilangan sekitar 149 miliar metrik ton es setiap tahunnya. Kondisi ini semakin memicu minat wisatawan yang ingin melihat langsung perubahan tersebut.

Rute pelayaran umumnya dimulai dari Argentina menuju Antartika, lalu berlanjut ke utara menyusuri pantai Afrika jalur yang juga ditempuh kapal pesiar MV Hondius, yang belakangan menjadi sorotan akibat dugaan wabah hantavirus di atas kapal selama pelayaran.

Direktur eksekutif Antarctic and Southern Ocean Coalition, Claire Christian, menyebut daya tarik Antartika memang sulit ditandingi. Lanskap yang dipenuhi gunung es, serta keberadaan paus, anjing laut, dan penguin, memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi pengunjung.

Baca juga: Panduan WHO untuk Hadapi Ancaman Hantavirus Setelah Penyebaran di Kapal Pesiar

Namun, di balik keindahan tersebut, para ahli mengingatkan risiko yang menyertai meningkatnya aktivitas manusia. Kehadiran wisatawan dapat membawa spesies invasif, mikroorganisme, hingga penyakit ke lingkungan yang selama ini relatif terisolasi. Dalam beberapa tahun terakhir, misalnya, burung migrasi dilaporkan membawa flu burung dari Amerika Selatan ke Antartika.

Kasus dugaan wabah hantavirus di kapal MV Hondius semakin menyoroti potensi bahaya tersebut, meski hingga kini belum ada bukti langsung adanya kontaminasi terhadap lingkungan Antartika. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih menyelidiki kemungkinan penularan, termasuk potensi transmisi antar manusia di atas kapal.

Untuk meminimalkan risiko, operator tur dan otoritas terkait telah memperketat aturan. Wisatawan diwajibkan menjaga jarak dari satwa liar, tidak menyentuh tanah selain dengan alas kaki, serta menjalani prosedur pembersihan ketat. Sepatu dan peralatan harus dibersihkan menggunakan disinfektan untuk menghindari masuknya mikroba, biji tanaman, atau serangga asing.

Meski demikian, tantangan ke depan diperkirakan akan semakin besar. Seiring kemajuan teknologi dan bertambahnya kapal yang mampu menjelajahi perairan es, biaya perjalanan berpotensi menurun, sehingga jumlah wisatawan bisa meningkat drastis. Akademisi dari Universitas Tasmania bahkan memprediksi kunjungan tahunan ke Antartika dapat melonjak hingga lebih dari 400.000 dalam dekade mendatang.

Antartika sendiri diatur oleh Perjanjian Antartika tahun 1959 yang menetapkan wilayah tersebut sebagai kawasan untuk tujuan damai dan penelitian ilmiah. Namun, perjanjian itu dibuat saat jumlah wisatawan masih sangat sedikit, sehingga kini dinilai perlu penyesuaian.

Para pemerhati lingkungan pun menyerukan penguatan regulasi untuk melindungi ekosistem Antartika, termasuk spesies kunci seperti penguin, paus, burung laut, anjing laut, hingga krill yang menjadi dasar rantai makanan.

Di tengah berbagai kekhawatiran tersebut, daya tarik Antartika tampaknya belum akan surut. Namun, para ahli mengingatkan bahwa jejak manusia di wilayah itu bisa bertahan sangat lama—bahkan puluhan tahun.

“Anda bisa meninggalkan jejak kaki di Antartika, dan itu masih terlihat 50 tahun kemudian,” ujar Claire Christian.

Baca juga: Dua Kru Kapal Pesiar MV Hondius Mengeluh Sakit, Korban Tewas Infeksi Hantavirus Bisa Bertambah?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved