Hasil Pemilu Inggris: Partai Buruh yang Dipimpin Keir Starmer Babak Belur
Menanggapi hasil buruk tersebut, Starmer mengaku kecewa, namun tetap bersikeras tidak akan mundur dari jabatannya
Ringkasan Berita:
- Partai petahana pimpinan PM Keir Starmer mengalami kekalahan besar dalam pemilu Inggris
- Sementara itu, Partai sayap kanan Reform UK pimpinan Nigel Farage meraih kemenangan bersejarah
- Kepercayaan publik terhadap Starmer merosot tajam akibat kebijakan ekonomi yang kaku serta skandal penunjukan Peter Mandelson yang merupakan rekan Jeffrey Epstein sebagai duta besar untuk AS
- Posisi Starmer kini di ujung tanduk dengan munculnya spekulasi kudeta internal dari rekan separtainya
TRIBUNNEWS.COM - Hasil sementara pemilihan umum di Inggris menunjukkan kekalahan telak bagi Partai Buruh yang dipimpin Perdana Menteri (PM) petahana Keir Starmer.
Melansir dari data terbaru BBC, Partai Buruh diketahui meraih 253 kursi dalam penghitungan sementara.
Sebaliknya, partai sayap kanan Reform UK yang dipimpin oleh Nigel Farage justru meraih kemenangan besar dengan prediksi raupan suara sekitar 384-388 kursi
Kekalahan Starmer oleh Partai Reform UK yang juga didukung oleh Donald Trump ini diprediksi akan membuat posisi sang PM petahana makin terpojok.
Sebagai pemimpin yang saat ini kurang populer, muncul spekulasi bahwa rekan-rekan separtainya akan bergerak untuk melengserkannya dari jabatan PM.
Saat menanggapi hasil buruk tersebut, Starmer mengaku kecewa, namun tetap bersikeras tidak akan mundur.
“Hari-hari sulit seperti ini tidak melemahkan tekad saya untuk mewujudkan perubahan yang saya janjikan,” ujar Starmer seperti yang dilansir dari NBC News, Jumat (8/5/2026).
Starmer juga menyebut hasil pemilu ini sebagai hal yang menyakitkan dan “sangat berat” bagi dirinya
Partai Buruh Babak Belur
Baca juga: PM Keir Starmer Tegaskan Tak Akan Mundur di Tengah Pusaran Skandal Epstein
Meski sudah diprediksi akan turun, skala kekalahan Partai Buruh kali ini dianggap sangat luar biasa.
Partai pimpinan Keir Starmer ini diproyeksikan kehilangan 1.500–1.900 kursi dari total sekitar 5.066 kursi yang diperebutkan.
Hal ini bisa dilihat dari kesuksesan Partai Reform UK yang berhasil merebut ratusan kursi dewan daerah, termasuk di wilayah-wilayah yang selama ini dikenal sebagai "kandang" Partai Buruh.
Kesuksesan Partai Reform UK dalam "mengacak-acak" basis suara Partai Buruh ini bisa dilihat dari kemenangan mereka di Hartlepool, Sunderland, Barnsley, dan Wigan.
Empat wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai lumbung suara atau wilayah tradisional bagi basis pemilih Partai Buruh.
Menanggapi kemenangan tersebut, Nigel Farage menilai raihan yang didapatkan Reform UK ini sebagai perubahan bersejarah dalam politik Inggris.
Selain Reform UK, partai-partai lain juga berhasil "mencuri" suara Partai Buruh.
Hal ini bisa dilihat dari melonjaknya suara yang didapatkan Partai Hijau atau Green Party yang meraih suara dari kalangan anak muda yang kecewa karena Starmer dianggap terlalu kaku soal ekonomi dan imigrasi.
Alasan Starmer "Dimusuhi" Warga Inggris
Kepercayaan publik terhadap Starmer merosot akibat beberapa skandal dan kebijakan yang berubah-ubah.
Salah satunya adalah keputusan menunjuk Peter Mandelson sebagai duta besar untuk AS.
Hal ini menjadi sorotan publik mengingat Starmer mengakui tahu bahwa Mandelson memiliki hubungan dengan mendiang Jeffrey Epstein sebelum menunjuknya.
Epstein sendiri dikenal sebagai pelaku kejahatan seksual yang menyediakan jasa prostitusi ilegal menggunakan anak di bawah umur kepada sejumlah pejabat dunia, termasuk Mandelson.
Runtuhnya citra Starmer ini juga bisa dilihat dari hasil survei jelang pemilu.
Baca juga: Pangkalan Inggris Tampung C-130 Super Hercules AS dan Pembom B-1, Meski Trump dan Starmer Berselisih
Melansir dari Poll Politicio, 52 persen warga Inggris menganggap Starmer sebaiknya mundur akibat skandal ini, dengan disapproval rating atau tingkat penolakan mencapai 71 persen di beberapa survei.
Hanya 16 persen publik yang percaya Starmer jujur soal proses penunjukan Mandelson.
Saat menanggapi runtuhnya citra Starmer, Ben Ansell, seorang profesor dari Universitas Oxford turut buka suara
Ansell menilai saat ini Partai Buruh tengah menggodok nama baru yang dapat menggantikan sosok Keir Starmer guna memulihkan citra partai di masa yang akan datang.
Kini beberapa nama besar di internal partai seperti Menteri Kesehatan Wes Streeting dan Walikota Manchester Andy Burnham disebut-sebut sudah siap menggantikan posisi Starmer di pemilihan Perdana Menteri pada tahun 2029 mendatang.
Ansell juga menyangsikan sosok Starmer bisa bertahan sampai pemilu 2029.
“Jika dia mampu bertahan hingga 2029 maka itu akan mengejutkan sebagian besar analis politik dan itu mungkin akan mengejutkan sebagian besar anggota Partai Buruh pada saat ini,” pungkas Ansell.
(Tribunnews.com/Bobby)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Keir-Starmer-mengumumkan-Inggris-resmi-mengakui-Palestina.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.