Iran Vs Amerika Memanas
Arab Saudi Berperan dalam Penangguhan Operasi Project Freedom, Trump Berbohong?
Arab Saudi dan Kuwait disebut menjadi alasan utama penangguhan operasi Project Freedom oleh AS.
Mereka juga mendukung upaya Pakistan untuk menengahi kesepakatan guna mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Alasan lainnya, Arab Saudi khawatir akan menghadapi keterlibatan kelompok Houthi di Yaman dalam konflik tersebut, menurut laporan The Guardian.
Arab Saudi telah bekerja keras di balik layar untuk mencegah kelompok bersenjata dan politik itu ikut terlibat dalam konflik.
Penutupan jalur Laut Merah akibat intervensi Houthi hanya akan memperburuk ancaman terhadap pasokan minyak global.
Arab Saudi juga telah mencapai kesepakatan dengan Iran yang melindungi jalur pipa menuju Yanbu sehingga mereka tetap dapat mengekspor hingga 50 persen produksinya melalui Laut Merah.
Setelah Proyek Kebebasan Diluncurkan
Mengutip The New York Post, Proyek Kebebasan Diluncurkan pada Senin (4/5/2026),sangat bergantung pada pesawat Amerika yang berbasis di Arab Saudi dan Kuwait untuk memberikan perlindungan bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Meski setidaknya dua kapal Amerika berhasil melintasi selat pada hari pertama operasi penuh, kapal-kapal Iran dan AS sempat saling baku tembak.
Amerika kemudian menenggelamkan enam kapal serang kecil, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa perang akan kembali berkobar.
Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya, yang sebelumnya telah dibombardir serangan balasan Iran, diduga khawatir AS tidak akan mampu melindungi mereka jika perang berlanjut, kata seorang pejabat kepada WSJ.
Kekhawatiran itu meningkat setelah Uni Emirat Arab menuduh Iran menyerang kapal tanker dan fasilitas minyak utama mereka di dekat Selat Hormuz awal pekan ini.
AS menepis serangan Iran tersebut sebagai bentuk pelecehan tingkat rendah yang tidak melanggar gencatan senjata.
Saat mengumumkan penundaan Proyek Kebebasan, Trump mengatakan ada kemajuan besar yang dicapai dengan perwakilan Iran.
Trump tidak menyinggung Arab Saudi maupun penolakan negara tersebut terhadap penggunaan wilayah udaranya.
Presiden AS itu kemudian memperingatkan bahwa jika Iran tidak kembali ke meja perundingan, maka pemboman akan dimulai.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut menggemakan peringatan tersebut.
“Kami lebih memilih ini menjadi operasi damai, tetapi kami siap siaga untuk membela rakyat kami, kapal kami, pesawat kami, dan misi ini tanpa ragu-ragu,” kata Hegseth.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)