Iran Vs Amerika Memanas
Perang Iran Hari ke-72: Israel Bombardir Lebanon, Teheran Belum Jawab Proposal Damai AS
Perang Iran makin panas. Israel serang Lebanon, AS tunggu jawaban Teheran soal proposal damai terbaru.
Al Jazeera melaporkan Teheran masih meninjau sejumlah poin penting dalam proposal tersebut, terutama terkait program pengayaan uranium dan pencabutan sanksi ekonomi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan kembali mengancam akan menyerang kapal dan kepentingan AS di Timur Tengah jika tanker Iran menjadi target serangan.
Media Iran juga melaporkan pemerintah memperingatkan negara-negara yang mendukung sanksi AS dapat menghadapi gangguan saat melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan Moskow sebagai pihak pengawas pemindahan dan penyimpanan stok uranium Iran yang diperkaya.
Pakistan juga terus melanjutkan upaya mediasi antara Washington dan Teheran.
Panglima militer Pakistan, Field Marshal Asim Munir, mengatakan negaranya akan terus berupaya mendorong keberhasilan diplomasi.
“Kami akan melakukan segala upaya untuk menyukseskan mediasi ini,” ujarnya.
Baca juga: Analis: AS Dapat Bertindak Cepat untuk Melumpuhkan Militer Iran jika Perundingan Gagal
Selat Hormuz Kembali Memanas
Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah sebuah kapal pengangkut barang dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di dekat perairan Qatar.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyebut insiden itu terjadi sekitar 43 kilometer timur laut Doha.
Di sisi lain, sebuah kapal tanker LNG Qatar berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Pakistan.
Pelayaran itu menjadi transit pertama kapal LNG Qatar sejak perang AS-Israel terhadap Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Reuters melaporkan Inggris dan Prancis kini tengah menyiapkan misi keamanan maritim baru untuk melindungi jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) juga mengklaim telah mencegah puluhan kapal komersial memasuki pelabuhan Iran sejak pertengahan April.
Situasi tersebut kembali memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengangkut hampir seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Gangguan terhadap kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga energi dan memperburuk ketidakstabilan ekonomi global.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)