Konflik China dan AS
Tarif, Chip, hingga Rare Earth: Timeline Lengkap Perang Dagang AS-China
Perang dagang AS-China kini bukan lagi sekadar perebutan pasar ekspor-impor namun berkembang menjadi pertarungan pengaruh.
Defisit perdagangan AS-China mulai menurun karena rantai pasok dipindahkan ke negara lain seperti Meksiko dan Vietnam.
Strategi ini dikenal sebagai near-shoring atau friend-shoring.
Artinya, AS mulai mengurangi ketergantungan langsung pada manufaktur China tanpa sepenuhnya memutus hubungan ekonomi.
Mei 2024: Tarif Teknologi Diperketat
- Biden menaikkan tarif:
- Kendaraan listrik (EV): 100 persen
- Sel surya: 50 persen
- Semikonduktor: 50 persen
- Baja dan aluminium: 25 persen
- Langkah ini memperlihatkan AS semakin agresif melindungi industri strategis domestiknya dari dominasi China.
Era Kedua Trump: Konfrontasi Makin Tajam
Januari 2025: Tarif 145 Persen
Pada awal masa jabatan keduanya, Trump mengenakan tarif menyeluruh 145 persen terhadap hampir seluruh impor China.
China membalas dengan tarif 125 persen terhadap produk AS, yang praktis menghentikan ekspor pertanian Amerika ke China.
Oktober 2025: “Busan Truce”
Setelah pasar global terguncang dan rantai pasok dunia mengalami kepanikan, Trump dan Xi Jinping bertemu di Busan, Korea Selatan.
Keduanya menyepakati “Busan Truce” selama satu tahun untuk meredakan tekanan ekonomi global.
Tarif AS terhadap impor China diturunkan dari 57 persen menjadi 47 persen.
Awal 2026: Perdagangan Tetap Melemah
Meski ada gencatan sementara, perdagangan bilateral tetap menurun.
Perdagangan AS-China turun 11 persen secara tahunan pada awal 2026.
Ini menunjukkan konflik ekonomi kedua negara telah berubah menjadi rivalitas struktural jangka panjang yang sulit dipulihkan sepenuhnya.
Bukan Sekadar Perebutan Pasar
Perang dagang AS-China kini bukan lagi sekadar perebutan pasar ekspor-impor.
Konflik telah berkembang menjadi pertarungan pengaruh global antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Amerika Serikat berusaha mengurangi ketergantungan terhadap China dalam teknologi dan rantai pasok strategis, sementara China berupaya mempertahankan posisinya sebagai pusat manufaktur dan kekuatan ekonomi dunia.
Ketegangan ini juga berdampak luas terhadap ekonomi global, mulai dari inflasi, harga komoditas, rantai pasok, hingga pergeseran investasi ke negara-negara lain di Asia Tenggara dan Amerika Latin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Donald-Trump-menyapa-Presiden-Tiongkok-Xi-Jinping-sebe.jpg)