Jumat, 15 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

AS dan China Bersatu Menentang Pungutan Iran di Selat Hormuz

China dan AS sepakat bahwa tidak ada negara yang boleh memungut bea pengiriman di Selat Hormuz, termasuk Iran.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Hasanudin Aco
Dok White House
AS DAN CHINA - Presiden AS Donald Trump menyapa Presiden Tiongkok Xi Jinping sebelum pertemuan bilateral di terminal Bandara Internasional Gimhae, Kamis, 30 Oktober 2025, di Busan, Korea Selatan. Dua negara sepakat tidak ada pungutan di Selat Hormuz. 
Ringkasan Berita:
  • Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi sepakat bahwa tidak ada negara yang boleh memungut biaya tol di Selat Hormuz.
  • Pertukaran ini menghadirkan titik temu langka antara AS dan Tiongkok di tengah meningkatnya tekanan terhadap Iran untuk memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.

TRIBUNNEWS.COM, CHINA - Pejabat senior Amerika Serikat (AS) dan China Tiongkok sepakat bahwa tidak ada negara yang boleh memungut bea pengiriman di Selat Hormuz, termasuk Iran.

Demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS kepada Reuters pada Kamis (14/5/2026).

Hal ini merupakan pertanda bahwa kedua negara sedang berupaya menemukan titik temu dalam upaya menekan Iran untuk melepaskan kendali atas jalur pelayaran vital dunia tersebut.

Pernyataan Departemen Luar Negeri AS  ini disampaikan menjelang pertemuan puncak penting antara Presiden Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Penutupan hampir total jalur perdagangan vital oleh Iran sejak serangan udara gabungan Israel-AS di negara itu pada 28 Februari telah menimbulkan guncangan di pasar energi global.

Dibahas Menlu AS dan China

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas masalah ini dalam percakapan telepon pada bulan April.

"Mereka sepakat bahwa tidak ada negara atau organisasi yang diizinkan untuk memungut biaya tol untuk melewati jalur perairan internasional seperti Selat Hormuz," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, kepada Reuters.

Kedutaan Besar China tidak membantah keterangan AS tentang diskusi tersebut dan mengatakan bahwa mereka berharap semua pihak dapat bekerja sama untuk melanjutkan lalu lintas normal melalui Selat Hormuz, yang sebelum perang menangani seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

"Menjaga keamanan dan stabilitas wilayah serta memastikan kelancaran lalu lintas merupakan kepentingan bersama komunitas internasional," kata Juru Bicara Kedutaan Liu Pengyu kepada Reuters.

Iran sebelumnya menuntut hak untuk memungut bea atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sebagai prasyarat untuk mengakhiri perang. 

AS telah memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran dan Trump telah mengemukakan kemungkinan untuk memberlakukan biaya sendiri pada lalu lintas atau bekerja sama dengan Iran untuk memungut bea masuk Selat Hormuz.

DITUTUP - Iran menutup Selat Hormuz buntut perang melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel. TRIBUNNEWS
DITUTUP - Iran menutup Selat Hormuz buntut perang melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel. TRIBUNNEWS (TRIBUNNEWS/)

Setelah mendapat penolakan dari dalam dan luar negeri, Gedung Putih kemudian mengatakan bahwa Trump ingin melihat Selat Hormuz dibuka untuk lalu lintas tanpa batasan apa pun.

Dua sumber yang mengetahui percakapan Wang-Rubio mengatakan bahwa Rubio mengemukakan kemungkinan kapal-kapal Tiongkok membayar tol, yang menurut mereka tampaknya bertujuan untuk mendorong Beijing agar memberikan lebih banyak tekanan pada Teheran untuk mengakhiri konflik tersebut.

China mempertahankan hubungan dengan Iran dan tetap menjadi konsumen utama ekspor minyaknya.

Trump telah 'menekan' China untuk menggunakan pengaruhnya guna mendorong Iran untuk membuat kesepakatan dengan AS.

Dalam pertemuan selanjutnya dengan menteri luar negeri Iran, Wang mengatakan bahwa komunitas internasional memiliki "keprihatinan bersama tentang pemulihan jalur normal dan aman melalui selat tersebut" sambil menegaskan kembali bahwa China mendukung Iran dalam "menjaga kedaulatan dan keamanan nasionalnya."

Bulan lalu, China memveto resolusi yang didukung AS di PBB yang mendorong negara-negara untuk bekerja sama melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz, dengan alasan resolusi tersebut bias terhadap Iran.

Hal itu mendorong duta besar AS untuk PBB, Mike Waltz, untuk berpendapat bahwa China mentolerir Iran yang mengancam perekonomian global.

AS bersama Bahrain telah menyusun resolusi PBB lainnya yang menuntut Iran menghentikan serangan dan penambangan di selat tersebut.

Akan tetapi para diplomat mengatakan bahwa resolusi ini kemungkinan besar juga akan menghadapi veto dari China dan Rusia jika sampai pada tahap pemungutan suara.

Resolusi itu juga menyerukan diakhirinya "upaya untuk memungut bea ilegal" di selat tersebut.

China telah memerintahkan perusahaan-perusahaannya untuk tidak mematuhi sanksi AS terhadap kilang minyak China terkait pembelian minyak mentah Iran, langkah-langkah yang dimaksudkan untuk mengisolasi dan menekan Iran. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved