Iran Vs Amerika Memanas
Iran Kirim Pesan Keras ke AS Lewat Forum BRICS: Siap Berperang, Tapi Tetap Utamakan Diplomasi
Araghchi juga mengirim pesan langsung kepada Amerika Serikat dengan menegaskan bahwa Iran siap menghadapi konflik jika diperlukan.
Iran Kirim Pesan Keras ke AS Lewat Forum BRICS: Siap Berperang, Tapi Tetap Utamakan Diplomasi
Ringkasan Berita:
- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meminta negara-negara BRICS mengecam dugaan pelanggaran hukum internasional oleh Amerika Serikat dan Israel.
- Iran menyatakan siap menghadapi konflik, tetapi tetap ingin mempertahankan jalur diplomasi.
- Teheran menilai BRICS merupakan simbol lahirnya tatanan dunia baru yang dapat mengakhiri dominasi Barat.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi menyerukan negara-negara BRICS untuk secara tegas mengecam dugaan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pidatonya pada Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di India, Kamis (14/5/2026), Araghchi menyebut Iran menjadi korban “agresi brutal dan ilegal” dari Washington dan Tel Aviv.
Baca juga: Amerika Siapkan “Operation Sledgehammer”, Sinyal Perang Iran Potensial Berlanjut
Ia mengatakan Iran menghadapi apa yang disebutnya sebagai ekspansionisme dan politik perang Barat, sekaligus meminta negara-negara BRICS membantu menghancurkan “rasa superioritas palsu Barat”.
“Iran tidak dapat dipatahkan dan justru menjadi lebih kuat serta lebih bersatu ketika berada di bawah tekanan,” ujar Araghchi.
Kirim Pesan ke AS: Iran Siap Bertempur
Dalam pernyataannya, Araghchi juga mengirim pesan langsung kepada Amerika Serikat dengan menegaskan bahwa Iran siap menghadapi konflik jika diperlukan.
Namun di saat yang sama, Teheran tetap membuka ruang diplomasi.
“Iran siap bertempur, tetapi juga siap mengejar dan mempertahankan diplomasi,” katanya.
Menurut Araghchi, konfrontasi Iran dengan Barat bukan sekadar konflik regional, melainkan bagian dari perjuangan lebih besar melawan “hegemoni Barat”.
Ia menyebut perjuangan Iran berkaitan langsung dengan kepentingan negara-negara BRICS dan negara berkembang di kawasan Global South.
BRICS Disebut Simbol Tatanan Dunia Baru
Dalam forum tersebut, Araghchi menggambarkan BRICS sebagai simbol munculnya tatanan dunia baru yang dipimpin negara-negara Selatan Global.
Ia mengatakan dunia saat ini tengah bergerak menuju sistem multipolar yang lebih adil, meski masih rapuh.
“Yang dulu hanya menjadi idealisme ambisius kini telah menjadi kenyataan. Namun kenyataan itu masih rapuh,” ujarnya.
Menurut Araghchi, kekuatan-kekuatan lama yang disebutnya sebagai “imperialis” kini berusaha mempertahankan dominasi global melalui tekanan dan agresi.
Iran Klaim Perjuangannya Adalah Perjuangan BRICS
Araghchi juga menegaskan bahwa perlawanan Iran terhadap Barat tidak hanya untuk kepentingan nasional Teheran, tetapi juga demi mempertahankan visi dunia baru yang sedang dibangun BRICS+.
Ia mengklaim banyak tentara Iran telah mengorbankan nyawa dalam menghadapi dominasi Barat dan apa yang disebutnya sebagai rasa kebal hukum Amerika Serikat.
Iran pun meminta negara-negara anggota BRICS memperkuat solidaritas dalam menghadapi tekanan ekonomi dan politik dari Washington.
Menurut Araghchi, banyak negara anggota BRICS telah lama merasakan tekanan dan kebijakan koersif Amerika Serikat.
Pertemuan BRICS Digelar di Bawah Kepemimpinan India
Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS berlangsung pada 14–15 Mei 2026 di bawah kepemimpinan India.
India resmi memegang presidensi BRICS sejak 1 Januari 2026 setelah mengambil alih posisi tersebut dari Brasil.
Forum tersebut membahas berbagai isu global, mulai dari tata kelola dunia, pembangunan ekonomi, hingga tantangan geopolitik internasional.
Ujian Diplomatik
Pidato Iran di forum BRICS menunjukkan bagaimana kelompok negara berkembang semakin aktif menantang dominasi politik dan ekonomi Barat dalam sistem internasional.
Bagi Iran, BRICS bukan sekadar forum ekonomi, melainkan kendaraan geopolitik untuk membangun blok alternatif yang dapat mengurangi pengaruh Amerika Serikat dan sekutunya.
Pernyataan “siap bertempur tetapi membela diplomasi” juga mencerminkan strategi ganda Teheran: mempertahankan citra kuat di tengah tekanan militer dan sanksi Barat, sambil tetap menjaga ruang negosiasi agar tidak terisolasi sepenuhnya.
Di sisi lain, forum BRICS kini semakin berkembang dari aliansi ekonomi menjadi ruang koordinasi politik negara-negara Global South yang memiliki kepentingan bersama dalam mendorong dunia multipolar.
Bagi India, pertemuan ini sekaligus menjadi ujian diplomatik. New Delhi harus menjaga keseimbangan antara hubungan strategisnya dengan Barat dan posisinya sebagai pemimpin BRICS yang kini semakin vokal menentang hegemoni Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menteri-Luar-Negeri-RI-Sugiono-Abbas-Araghchi-Xu-Feihong-BRICS-India.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.