5 Populer Internasional: Kontroversi Kunjungan Netanyahu ke UEA - Sosok Pebisnis China Zhou Qunfei
Kumpulan berita populer internasional, di antaranya Netanyahu diklaim melakukan kunjungan rahasia ke UEA di tengah perang Iran
Ringkasan Berita:
- Netanyahu diklaim melakukan kunjungan rahasia ke UEA di tengah perang Iran, tetapi pemerintah UEA membantah laporan tersebut.
- Xi Jinping menyinggung jebakan Thucydides saat bertemu Donald Trump, yang dianggap sebagai peringatan atas kebangkitan China dan potensi konflik dengan AS.
- Zhou Qunfei menarik perhatian publik karena duduk di antara Elon Musk dan Tim Cook dalam jamuan Xi Jinping.
TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.
PM Israel Benjamin Netanyahu diklaim melakukan kunjungan rahasia ke UEA di tengah perang Iran, tetapi dibantah pemerintah UEA.
Sementara itu, pebisnis Zhou Qunfei menjadi sorotan dalam jamuan Xi Jinping karena duduk di antara Tim Cook dan Elon Musk.
Berikut berita populer internasional selengkapnya.
1. Netanyahu Diam-Diam Berkunjung ke UEA di Tengah Perang, UEA Membantah, Iran Keluarkan Peringatan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diklaim melakukan perjalanan rahasia ke Uni Emirat Arab di tengah perang Iran, untuk bertemu Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
“Kunjungan ini telah menghasilkan terobosan bersejarah dalam hubungan antara Israel dan UEA,” kata kantor Perdana Menteri Israel pada Rabu (13/5/2026) malam.
Kedua pemimpin dilaporkan bertemu selama beberapa jam di Al Ain, kota oasis di perbatasan Oman, pada 26 Maret lalu, menurut laporan Reuters.
Seorang sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Direktur Mossad, David Barnea, melakukan setidaknya dua kunjungan ke UEA selama perang dengan Iran untuk mengoordinasikan aksi militer.
Kunjungan kepala intelijen tersebut pertama kali dilaporkan oleh media AS The Wall Street Journal.
Kunjungan itu disebut menjadi tonggak terbaru dalam aliansi Timur Tengah yang berkembang pesat.
Pada Selasa (12/5/2026), Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengungkapkan bahwa Israel telah berbagi sistem pertahanan udaranya dengan UEA, termasuk mengirim baterai Iron Dome dan personel militer untuk mengoperasikannya selama perang.
“Ada hubungan yang luar biasa antara UEA dan Israel,” kata Huckabee, mengutip The Guardian.
UEA Membantah
Namun, Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab membantah laporan mengenai kunjungan Netanyahu ke negara tersebut, dengan menyebut klaim itu tidak berdasar.
Mengutip NPR, kantor berita resmi UEA, WAM, juga menerbitkan laporan yang membantah informasi yang beredar mengenai kunjungan Netanyahu.
2. Xi Jinping Singgung Jebakan Thucydides dalam Pertemuannya dengan Donald Trump, Apa Artinya?
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan di tengah perang di Timur Tengah dan ketegangan seputar Taiwan.
Mengutip Guardian, dalam pidato pembukaannya pada Kamis (14/5/2026) di Beijing, Xi Jinping justru menyinggung perang lain, yakni Perang Peloponnesia di Yunani Kuno.
Peloponnesia (Peloponnese) adalah sebuah semenanjung besar di bagian selatan Yunani yang menjadi pusat penting sejarah, budaya, dan militer Yunani Kuno.
Perang antara Athena dan Sparta itu berlangsung selama beberapa dekade sejak tahun 431 SM.
Athena dan Sparta merupakan dua negara-kota (polis) besar Yunani Kuno yang terkenal karena perbedaan budaya dan sistem sosialnya.
Athena menonjol dalam seni, filsafat, dan demokrasi, sedangkan Sparta dikenal sebagai masyarakat militer yang disiplin dan keras.
Xi bertanya apakah AS dan China dapat menghindari "jebakan Thucydides".
Thucydides adalah seorang sejarawan sekaligus jenderal Athena.
“Bisakah China dan Amerika Serikat melampaui apa yang disebut ‘Perangkap Thucydides’ dan membentuk paradigma baru bagi hubungan kekuatan besar?” ujarnya.
Lantas, Apa Maksud Perangkap Thucydides?
Menurut mantan Kepala Strategi Gedung Putih, Steve Bannon, Perangkap Thucydides merujuk pada gagasan bahwa ketika kekuatan yang sedang bangkit mengancam untuk menggantikan kekuatan yang sudah mapan, hasilnya sering kali adalah perang.
“Kebangkitan Athena dan ketakutan yang ditimbulkannya pada Sparta-lah yang membuat perang tak terhindarkan,” tulis Thucydides dalam bukunya Sejarah Perang Peloponnesia.
Sama seperti Athena pernah berperang dengan Sparta, implikasinya adalah kebangkitan China memicu kecemasan dan potensi konflik dengan AS.
Para pengamat menyebut Xi telah menggunakan istilah tersebut selama bertahun-tahun, tetapi penggunaan referensi klasik itu dalam kunjungan Trump mungkin menjadi pertanda sikapnya terkait Taiwan.
3. Sosok Zhou Qunfei, Wanita yang Duduk di Antara CEO Apple dan Pendiri Tesla di Jamuan Xi Jinping
Zhou Qunfei, wanita yang memimpin perusahaan manufaktur raksasa Lens Technology, menjadi sorotan saat duduk di posisi strategis dalam jamuan makan malam kenegaraan yang diselenggarakan Presiden China Xi Jinping untuk Presiden AS Donald Trump pada Kamis (14/5/2026) malam.
Ia duduk di antara dua klien terpenting perusahaannya, pendiri Tesla Elon Musk dan CEO Apple Tim Cook.
Sejumlah pebisnis besar China menghadiri jamuan makan malam tersebut bersama para eksekutif dan pejabat AS, seperti dilaporkan South China Morning Post.
Dilansir vietnam.vn, Zhou Qunfei saat ini menempati peringkat kedua dalam Daftar Pengusaha Wanita Hurun 2025 yang diterbitkan oleh Hurun Research Institute.
Kisah hidup Zhou yang berawal dari desa miskin di China hingga menjadi pengusaha sukses telah menginspirasi banyak pekerja migran di negara dengan populasi lebih dari satu miliar jiwa itu.
Zhou Qunfei pertama kali menarik perhatian publik di China pada tahun 2015 sebagai wanita terkaya di negara tersebut ketika perusahaannya melantai di Bursa Saham Shenzhen dan membuatnya mengumpulkan kekayaan hingga 50 miliar yuan.
Namun, perjalanan hidupnya dimulai dari kemiskinan yang sangat berat.
Zhou lahir pada tahun 1958 di keluarga miskin di pedesaan bersama tiga saudara kandung.
Sejak kecil, ia dan saudara-saudaranya harus memelihara bebek dan babi untuk membantu menghidupi keluarga.
4. Trump Kecolongan, Iran Klaim Sedang Bongkar Teknologi Rudal Tomahawk AS untuk Dijadikan Senjata Baru
Iran tengah melakukan rekayasa balik atau reverse engineering terhadap rudal Tomahawk buatan Amerika Serikat yang ditemukan dalam kondisi belum meledak selama perang Iran melawan AS-Israel.
Langkah tersebut disebut menjadi bagian dari upaya Teheran memperkuat teknologi persenjataan domestik di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Laporan itu mencuat setelah kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, mengungkap bahwa militer Iran kini memanfaatkan rudal-rudal yang jatuh namun gagal meledak sebagai sumber pembelajaran teknologi militer.
Dalam laporannya, Mehr menyebut beberapa rudal Tomahawk ditemukan dalam kondisi sebagian utuh setelah berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran atau mengalami kegagalan detonasi saat menghantam target.
Situasi tersebut langsung dimanfaatkan oleh militer Iran. Pasukan keamanan dan unit teknis disebut segera mengamankan serpihan serta komponen utama rudal untuk dipelajari lebih lanjut oleh para insinyur pertahanan.
Menurut Mehr, perang yang berlangsung selama 40 hari melawan AS dan Israel telah menjadi sumber pengalaman teknologi baru bagi Iran, khususnya dalam pengembangan sistem rudal dan perang elektronik.
“Setiap rudal Tomahawk yang mendarat dan tidak meledak menjadi buku teks tingkat lanjut bagi para insinyur Iran,” tulis Mehr, dikutip dari Middle East Eye.
Iran juga mengklaim kemampuan perang elektronik mereka berperan penting dalam mengganggu sistem peledak beberapa rudal tersebut, sehingga gagal meledak secara sempurna saat mencapai target.
5. Rahasia Bocor! China Disebut Raup Untung Besar Dari Perang Iran vs AS
Laporan intelijen rahasia Amerika Serikat mengungkap kekhawatiran baru terkait dampak perang Iran terhadap keseimbangan kekuatan global.
Dalam laporan tersebut, China disebut berhasil memanfaatkan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran untuk memperkuat posisi strategisnya di berbagai bidang.
Laporan intelijen yang disusun oleh direktorat intelijen Staf Gabungan militer Amerika Serikat menggunakan kerangka analisis “DIME” mengungkap sejak perang antara AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, China aktif mengambil berbagai keuntungan strategis dari konflik tersebut.
Menurut para pejabat AS yang mengetahui isi dokumen rahasia itu, juga mengatakan Beijing tidak hanya memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, tetapi juga memanfaatkan situasi tersebut untuk memperluas pengaruh globalnya di tengah meningkatnya tekanan terhadap Amerika Serikat.
Beijing dinilai aktif membangun citra sebagai negara yang mendukung perdamaian dan stabilitas dunia.
Tak hanya itu, Pemerintah China secara terbuka mengkritik perang Iran dan menyebut konflik tersebut sebagai tindakan ilegal.
Sikap tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi diplomatik Beijing untuk melemahkan citra Amerika Serikat sebagai penjaga tatanan internasional berbasis aturan.
(Tribunnews.com)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.