Minggu, 17 Mei 2026

Perang Iran Belum Kelar, Invasi AS Menghantui Kuba, Aktivitas Militer Meningkat

Di saat perang Iran belum selesai, invasi militer Amerika Serikat (AS) sudah menghantui wilayah Kuba. Aktivitas militer terus meningkat.

Tayang:
Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Febri Prasetyo

Ringkasan Berita:
  • Situasi memanas di Kuba setelah muncul sebuah laporan bahwa warga tengah bersiap menghadapi kemungkinan invasi militer dari Amerika Serikat (AS).
  • Ketegangan ini mencuat menyusul rangkaian pernyataan agresif dari Presiden AS, Donald Trump, serta peningkatan aktivitas pengintaian militer di sekitar wilayah pulau tersebut.
  • Kekhawatiran juga semakin memuncak setelah Departemen Kehakiman AS (DOJ) bakal merilis dakwaan kriminal terhadap mantan Presiden Kuba, Raul Castro (94).

TRIBUNNEWS.COM - Situasi memanas tengah terjadi di wilayah Kuba.

Muncul sebuah laporan bahwa warga Kuba mulai bersiap menghadapi kemungkinan invasi militer dari Amerika Serikat (AS).

Ketegangan ini mencuat menyusul rangkaian pernyataan agresif dari Presiden AS Donald Trump serta peningkatan aktivitas pengintaian militer di sekitar wilayah pulau tersebut.

Krisis ini merupakan kelanjutan dari kampanye tekanan ekonomi berkepanjangan yang dijalankan oleh Washington.

Sejak awal tahun ini, AS telah memberlakukan blokade pasokan minyak yang mencekik perekonomian Kuba, memperparah krisis energi yang berujung pada pemadaman listrik massal di seluruh negeri.

CNN melaporkan tekanan tersebut kian diintensifkan setelah AS mengirim Direktur CIA John Ratcliffe ke Havana guna menyampaikan peringatan langsung agar pemerintah Kuba tunduk pada tuntutan Washington dan tidak menjadi basis bagi kekuatan asing yang memusuhi AS.

Berdasarkan analisis data penerbangan militer, jumlah jet pengintai dan misi intelijen udara AS di lepas pantai Kuba dilaporkan melonjak drastis sejak Februari lalu.

Pentagon dikabarkan telah menyiapkan berbagai rencana kontingensi taktis jika perintah operasi militer resmi diturunkan oleh Gedung Putih.

Saat merespons ancaman tersebut, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam.

Dalam pernyataan resminya, ia memastikan rakyat Kuba siap angkat senjata dan memberikan perlawanan habis-habisan guna mempertahankan tatanan konstitusional dan kedaulatan tanah air mereka dari agresi eksternal.

Kendati demikian, sejumlah pengamat internasional dan mantan pejabat pertahanan AS justru mengkhawatirkan dampak buruk dari strategi tekanan ekstrem ini.

Baca juga: Trump Utus Direktur CIA ke Havana Saat Kuba Kehabisan Minyak

Mereka menilai bahwa alih-alih mencapai perubahan rezim secara damai, agresi militer atau blokade total justru berpotensi memicu keruntuhan negara secara menyeluruh.

Jika hal tersebut terjadi, dunia diprediksi akan menghadapi krisis kemanusiaan baru berupa eksodus massal puluhan ribu pengungsi Kuba yang nekat menyeberangi lautan menuju pesisir AS demi menyelamatkan diri.

Jelang Dakwaan Raul Castro

Kekhawatiran juga semakin memuncak setelah Kementerian Kehakiman AS (DOJ) bakal merilis dakwaan kriminal terhadap mantan Presiden Kuba Raul Castro (94).

Warga lokal kini dihantui ketakutan bahwa langkah hukum Washington ini merupakan kedok atau "pembenaran legal" bagi AS untuk melancarkan operasi militer atau invasi ke pulau komunis tersebut.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved