Konflik Rusia Vs Ukraina
WHO Bunyikan Alarm Krisis Kesehatan Mental Ukraina, Makin Parah Akibat Perang
Terkini, WHO alarm krisis mental Ukraina memburuk saat perang Rusia-Ukraina kembali memanas dan perdamaian makin jauh.
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1.543 dengan eskalasi baru setelah serangan rudal Rusia di Kyiv menewaskan 24 orang, termasuk tiga anak-anak.
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan akan membalas serangan tersebut dan Ukraina langsung menggempur kilang minyak Ryazan di Rusia.
- Di tengah konflik yang terus memanas, WHO memperingatkan krisis kesehatan mental warga Ukraina semakin parah akibat perang berkepanjangan.
TRIBUNNEWS.COM - Konflik Rusia-Ukraina memasuki hari ke-1.543 pada Sabtu (16/5/2026) dengan ketegangan yang kembali meningkat di tengah belum pastinya kelanjutan negosiasi gencatan senjata antara Moskow dan Kyiv.
World Health Organization (WHO) memperingatkan kondisi kesehatan mental masyarakat Ukraina terus memburuk akibat perang yang berkepanjangan.
Perwakilan WHO di Ukraina, Jarno Habicht, mengungkapkan sekitar 71 persen warga mengalami gangguan kecemasan, stres, hingga kesulitan tidur.
Perang Rusia-Ukraina pecah sejak Februari 2022 ketika Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan invasi militer besar-besaran ke Ukraina.
Meski demikian, ketegangan kedua negara sebenarnya telah berlangsung sejak Rusia mencaplok Krimea pada 2014 serta konflik bersenjata di Donbas yang melibatkan kelompok separatis pro-Moskow.
Sampai sekarang, konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda karena Rusia dan Ukraina masih berseteru terkait wilayah pendudukan, keamanan kawasan, dan peran negara-negara Barat dalam perang tersebut.
Berikut perkembangan terbaru perang Rusia-Ukraina pada hari ke-1.543, Sabtu (16/5/2026):
Baca juga: Rusia-Ukraina Tukar Tawanan Perang, 205 Warga Ukraina Dibebaskan
Zelenskyy Murka, Ukraina Siapkan Balas Dendam
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy murka setelah serangan rudal Rusia menghantam apartemen di Kyiv dan menewaskan 24 orang, termasuk tiga anak-anak.
Zelenskyy datang langsung ke lokasi serangan dan meletakkan mawar merah di reruntuhan gedung.
“Ukraina tidak akan membiarkan serangan agresor yang merenggut nyawa rakyat kami lolos tanpa hukuman,” katanya.
Ia kemudian menggelar rapat dengan pejabat militer dan intelijen untuk membahas serangan balasan jarak jauh terhadap Rusia.
Dalam pidato malamnya, Zelenskyy memastikan operasi balasan telah disetujui.
Tak lama kemudian, Ukraina melancarkan serangan ke kilang minyak Ryazan di Rusia tengah hingga memicu kebakaran besar.
Ukraina Balas Rusia dengan Serangan Drone Besar
Ukraina melancarkan serangan drone jarak jauh ke sejumlah wilayah Rusia setelah Moskow menggempur Ukraina selama tiga hari berturut-turut menggunakan rudal dan drone.
Salah satu target utama adalah kilang minyak besar di Ryazan, Rusia tengah.
Serangan tersebut disebut menjadi bagian dari operasi balasan besar Ukraina.
Eskalasi terbaru itu juga membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengatakan perdamaian Rusia-Ukraina sudah dekat.
Sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyatakan perang kemungkinan segera berakhir.
Trump Khawatir Perdamaian Ukraina Gagal Total
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai serangan Rusia terhadap Kyiv dapat menggagalkan upaya diplomatik mengakhiri perang Ukraina.
Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah gencatan senjata tiga hari yang dimediasi AS berakhir.
Trump mengatakan eskalasi terbaru berpotensi memperumit negosiasi damai antara Moskow dan Kyiv.
Rusia Tuntut Euroclear Rp4.000 Triliun
Pengadilan Rusia memerintahkan perusahaan keuangan Belgia Euroclear membayar ganti rugi sekitar 250 miliar dolar AS.
Tuntutan itu berkaitan dengan pembekuan aset Rusia di Uni Eropa sejak perang Ukraina pecah.
Baca juga: 2 Gubernur Perbatasan Rusia-Ukraina Mundur, Putin Tunjuk Jenderal Tempur Pimpin Belgorod
Namun Euroclear menolak mengakui yurisdiksi pengadilan Rusia.
Perusahaan tersebut menyebut klaim bank sentral Rusia tidak berdasar.
Hingga kini belum jelas bagaimana Moskow akan memulihkan dana tersebut.
Drone Ukraina Bikin Produksi Minyak Rusia Terpukul
Ukraina meningkatkan serangan drone terhadap infrastruktur energi Rusia sejak awal tahun 2026.
Sejumlah kilang minyak besar menjadi sasaran utama.
Data pejabat Rusia menunjukkan jumlah fasilitas energi yang diserang meningkat tajam.
Serangan tersebut mulai menekan produksi minyak Rusia yang merupakan terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi.
Kondisi itu juga menambah tekanan terhadap anggaran federal Moskow.
WHO Alarm, Mental Warga Ukraina Kian Hancur
World Health Organization memperingatkan krisis kesehatan mental di Ukraina semakin memburuk akibat perang berkepanjangan.
WHO menyebut dampaknya bisa dirasakan hingga beberapa generasi mendatang.
Perwakilan WHO di Ukraina, Jarno Habicht, mengatakan 71 persen warga mengalami kecemasan, stres, dan sulit tidur.
Menurut WHO, perang yang terus berlangsung memicu tekanan psikologis berat bagi masyarakat.
Drone Peledak Diduga dari Ukraina Gegerkan Yunani
Penyelidik Yunani menduga drone militer bermuatan bahan peledak yang ditemukan di Pulau Lefkada mengalami kegagalan teknis hingga keluar jalur.
Reuters melaporkan drone itu ditemukan di pantai pada 7 Mei 2026.
Yunani menduga drone tersebut milik Ukraina, namun tuduhan itu dibantah Kyiv.
Baca juga: Ukraina Usulkan Gencatan Senjata Bandara dengan Rusia, Minta Eropa Turun Tangan
Penemuan drone tersebut memicu ketegangan diplomatik baru antara Athena dan Ukraina.
Rusia Hantam Terminal Gandum Ukraina
Serangan Rusia menghantam terminal gandum di sebuah pelabuhan Ukraina dan melukai tujuh orang.
Kementerian Pembangunan Ukraina mengatakan serangan tersebut juga merusak fasilitas pelabuhan.
Namun pihak Ukraina belum mengungkap lokasi pelabuhan yang diserang.
Serangan terbaru kembali memicu kekhawatiran terhadap rantai pasokan pangan dunia.
Warga Ukraina Diduga Jadi Mata-mata Rusia
Jaksa Jerman mengungkap seorang warga Ukraina ditangkap atas dugaan menjadi mata-mata Rusia.
Tersangka yang diidentifikasi sebagai Sergey N sebelumnya ditahan di Spanyol pada akhir Maret.
Ia kemudian diekstradisi ke Jerman pada Kamis waktu setempat.
Pihak berwenang menuding tersangka melakukan aktivitas spionase untuk kepentingan Rusia.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.