Senin, 18 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Bukan Cuma Minyak, Iran Disebut Bisa Lumpuhkan Internet Dunia dari Selat Hormuz

Selain ancaman sabotase langsung, Iran juga disebut memiliki alat tekanan lain yang lebih halus: izin akses perbaikan kabel.

Tayang:
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
KABEL BAWAH LAUT - Ilustrasi kabel internet bawah laut yang menjadi tulang punggung komunikasi digital dan lalu lintas data dunia. Lebih dari 95 persen data internet global ditransmisikan melalui jaringan kabel bawah laut yang melintasi berbagai jalur strategis dunia. Kabel bawah laut di Selat Hormuz kini menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Iran dan Barat. 

Bukan Cuma Minyak, Iran Disebut Bisa Lumpuhkan Internet Dunia dari Selat Hormuz

Ringkasan Berita:
  • Media Iran menyoroti kemungkinan penggunaan kabel internet bawah laut di Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.
  • Jalur digital global sangat bergantung pada kabel bawah laut yang membawa lebih dari 95 persen lalu lintas data internasional.
  • Ancaman terhadap kabel tersebut dinilai bisa mengguncang ekonomi, komunikasi militer, hingga sistem keuangan dunia.

 

TRIBUNNEWS.COM - Selama puluhan tahun, Selat Hormuz dikenal sebagai jalur vital perdagangan minyak dunia. 

Namun di tengah memanasnya konflik Iran dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, ancaman baru mulai muncul: potensi gangguan terhadap infrastruktur internet global.

Media-media Iran dalam beberapa pekan terakhir menyoroti pentingnya kabel bawah laut di Teluk Persia dan Selat Hormuz sebagai titik strategis baru dalam persaingan geopolitik modern.

Isu tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik di kawasan tidak lagi sekadar menyasar jalur energi, tetapi juga dapat mengganggu sistem komunikasi dan ekonomi digital dunia.

Baca juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Kecuali untuk Negara yang Berperang dengan Teheran

Kabel Bawah Laut Jadi Titik Rawan Baru

Pada 24 April lalu, Kantor Berita Fars Iran menerbitkan artikel berjudul “Kemacetan Hormuz… di mana internet kawasan bergantung pada seutas benang.”

Dalam laporan itu, kabel serat optik bawah laut yang melintasi Selat Hormuz disebut sebagai “infrastruktur tersembunyi” yang bisa berubah menjadi titik kerentanan strategis.

Media Iran lainnya, Tasnim, bahkan mengangkat kemungkinan penerapan “tata kelola hukum” terhadap kabel-kabel tersebut, termasuk pengaturan jalur, perawatan, hingga potensi pengenaan biaya kepada operator internasional.

Nada pemberitaan kemudian meningkat dengan peringatan kalau gangguan terhadap kabel bawah laut di Hormuz dapat melumpuhkan sistem ekonomi dan pasar keuangan negara-negara Teluk.

Internet Dunia Bergantung pada Kabel Laut

Berbeda dari anggapan umum bahwa internet sepenuhnya berbasis satelit atau teknologi nirkabel, sebagian besar lalu lintas data global sebenarnya berjalan melalui kabel bawah laut.

Menurut berbagai laporan internasional dan data yang dikutip Reuters, lebih dari 95 persen komunikasi data internasional—bahkan mendekati 99 persen—ditransmisikan lewat lebih dari 500 kabel bawah laut di seluruh dunia.

Masalahnya, banyak kabel tersebut terkonsentrasi di titik geografis sempit seperti Laut Merah dan Selat Hormuz.

Kondisi ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai “digital chokepoints” atau titik cekik digital.

Negara-negara Teluk sendiri sangat bergantung pada kabel seperti AAE-1 dan Falcon untuk menopang layanan internet, transaksi keuangan, pusat data, hingga pengembangan kecerdasan buatan.

Konflik Iran Perbesar Risiko Kerusakan

Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat kawasan Hormuz semakin sensitif.

Selain ancaman langsung terhadap pelayaran minyak, para analis kini melihat kabel bawah laut sebagai bagian baru dari strategi tekanan geopolitik.

Peneliti Meredith Primrose Jones dalam analisanya menyebut konflik AS-Iran telah memperlambat pembangunan kabel baru dan memperbesar kerentanan sistem komunikasi kawasan.

Kekhawatiran juga muncul akibat meningkatnya risiko “kerusakan tidak disengaja.”

Pada 2024, misalnya, sebuah kapal yang hanyut di Laut Merah setelah serangan kelompok Houthi dilaporkan menyeret jangkar dan memutus kabel komunikasi vital di dasar laut.

Karena sebagian besar kerusakan kabel dunia memang sering disebabkan aktivitas manusia seperti penangkapan ikan atau jangkar kapal, pembuktian sabotase sengaja menjadi sangat sulit.

Kabel bawah laut di Selat Hormuz
KABEL BAWAH LAUT - Ilustrasi kabel internet bawah laut yang menjadi tulang punggung komunikasi digital dan lalu lintas data dunia. Lebih dari 95 persen data internet global ditransmisikan melalui jaringan kabel bawah laut yang melintasi berbagai jalur strategis dunia. Kabel bawah laut di Selat Hormuz kini menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Iran dan Barat.

Iran Punya “Senjata Senyap”

Selain ancaman sabotase langsung, Iran juga disebut memiliki alat tekanan lain yang lebih halus: izin akses perbaikan kabel.

Dalam praktik internasional, kapal perbaikan kabel memerlukan izin memasuki wilayah perairan tertentu. Penundaan izin dapat memperpanjang gangguan internet dan komunikasi selama berminggu-minggu.

Direktur riset TeleGeography, Alan Mauldin, mengatakan salah satu tantangan terbesar dalam perbaikan kabel adalah proses mendapatkan izin akses ke lokasi kerusakan.

Artinya, tanpa menembakkan rudal sekalipun, gangguan kecil di kabel bawah laut bisa berubah menjadi krisis digital besar jika proses perbaikannya tertunda.

Dampaknya Bisa ke Ekonomi dan Militer

Gangguan kabel bawah laut tidak hanya memperlambat internet masyarakat umum.

Forum Ekonomi Dunia (WEF) sebelumnya memperingatkan bahwa ekonomi modern sangat bergantung pada arus informasi digital.

Gangguan komunikasi dapat langsung memicu masalah pada sistem perbankan, transaksi pasar finansial, perdagangan internasional, hingga layanan cloud global.

Di sektor pertahanan, militer modern juga sangat bergantung pada jaringan kabel bawah laut untuk sistem komando, pengoperasian drone, komunikasi satelit, dan koordinasi antar sekutu.

Karena itu, ancaman terhadap kabel komunikasi kini dianggap setara dengan ancaman terhadap jalur energi strategis.

Dunia Masuk Era “Perang Komunikasi”

Perdebatan mengenai Selat Hormuz menunjukkan bahwa geopolitik global kini memasuki fase baru: perang bukan hanya soal wilayah dan energi, tetapi juga kendali atas jaringan komunikasi.

Jika dulu ancaman terbesar di Hormuz adalah terganggunya pasokan minyak dunia, kini muncul risiko “pencekikan digital” yang bisa melumpuhkan ekonomi global hanya dalam hitungan jam.

Iran tampaknya memahami bahwa kabel bawah laut adalah titik lemah baru dunia modern. Ancaman terhadap infrastruktur ini memberi Teheran alat tekanan strategis tambahan di tengah konflik dengan Barat.

Di sisi lain, ketergantungan dunia pada jalur digital sempit menunjukkan bahwa globalisasi teknologi ternyata menciptakan kerentanan baru yang sangat besar.

Dalam era “perang komunikasi”, negara yang mampu mengendalikan aliran data global bisa memiliki pengaruh strategis yang hampir setara dengan penguasaan jalur minyak dunia.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved