Kamis, 21 Mei 2026

5 Populer Internasional: Viral Kursi Trump Tampak Lebih Pendek - AS dan Iran Saling Lempar Ancaman

Rangkuman berita populer internasional, di antaranya AS dan Iran saling melempar ancaman di tengah kebuntuan diplomasi.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • AS dan Iran saling melempar ancaman di tengah kebuntuan diplomasi.
  • Video pertemuan Trump dan Xi Jinping viral karena kursi Trump tampak lebih rendah.
  • Media China menyoroti kunjungan Putin ke Beijing sebagai tanda China menjadi pusat diplomasi global.

TRIBUNNEWS.COM - Dinamika global mewarnai pemberitaan dunia sepanjang 24 jam terakhir.

AS dan Iran dilaporkan telah saling melempar ancaman satu sama lain di tengah kebuntuan diplomasi di antara keduanya.

Sementara itu, viral video posisi duduk Donald Trump dan Xi Jinping saat pertemuan di Beijing pekan lalu.

Kursi yang diduduki Xi terlihat lebih tinggi daripada kursi Trump.

Simak berita populer internasional selengkapnya.

1. Viral Kursi Trump Terlihat Lebih Pendek Dibandingkan Presiden China Xi Jinping, Sengaja?

Pertemuan resmi antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Beijing menjadi sorotan dunia maya.

Satu di antara yang menjadi sorotan yakni usai beredarnya video yang memperlihatkan keduanya duduk berdampingan di sofa berbeda tinggi. 

Dalam rekaman yang viral tersebut, Xi tampak duduk sedikit lebih tinggi dibandingkan Trump.

Meskipun Presiden AS itu diketahui memiliki postur lebih tinggi sekitar 10 sentimeter.

Perbedaan posisi duduk itu langsung memicu berbagai teori di media sosial X dan platform lainnya.

Seorang pengguna menuding pemerintah China sengaja mengatur detail tersebut demi memberi kesan Xi Jinping lebih dominan saat pertemuan berlangsung.

“Sofa harus dibuat khusus. Sofa Xi Jinping duduk jelas lebih tinggi dari sofa Trump, sementara Trump 10 cm lebih tinggi dari Xi Jinping,” tulis seorang pengguna X sambil membagikan video viral itu, mengutip The Economic Times, Senin (18/5/2026).

Namun, teori lain muncul dan menyebut situasi tersebut bukan rekayasa protokoler China.

BACA SELENGKAPNYA >>>

2. Media China Soroti Kunjungan Putin ke Beijing, Sebut China Kini Pusat Diplomasi Global

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertukar surat ucapan selamat pada Minggu (17/5/2026) menjelang pertemuan keduanya pekan ini.

Dilansir Guardian, kunjungan Putin ke Beijing dijadwalkan berlangsung pada Selasa (19/5/2026) dan Rabu (20/5/2026), hanya empat hari setelah Donald Trump meninggalkan China pekan lalu.

Xi mengatakan, kerja sama bilateral antara Rusia dan China terus diperdalam dan diperkuat.

Sebagai informasi, tahun ini menandai peringatan 30 tahun kemitraan strategis kedua negara, menurut media pemerintah China.

Selama kunjungan tersebut, Putin dan Xi Jinping akan membahas cara untuk semakin memperkuat kemitraan komprehensif dan kerja sama strategis antara kedua negara, lapor AFP, mengutip pernyataan Kremlin.

Putin dan Xi juga akan bertukar pandangan mengenai isu-isu internasional dan regional utama serta menandatangani deklarasi bersama pada akhir pembicaraan mereka, tambah laporan tersebut.

Sebagai bagian dari kunjungan itu, Putin juga dijadwalkan membahas kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Perdana Menteri China, Li Qiang.

Pandangan Media China

Sebuah artikel yang diterbitkan media pemerintah China Global Times pada Senin (18/5/2026) menyebut, kunjungan presiden AS dan Rusia secara berurutan menunjukkan bahwa China semakin muncul sebagai pusat diplomasi global.

“Kunjungan yang berurutan ini telah memicu perhatian luas. Para analis mencatat bahwa sangat jarang di era pasca-Perang Dingin suatu negara menjamu pemimpin AS dan Rusia secara berturut-turut dalam satu minggu,” tulis Global Times.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. AS dan Iran Saling Lempar Ancaman, Trump Beri Batas Waktu Diplomasi, Teheran: Hadapi Rudal Kami!

Genderang perang di Timur Tengah kembali terdengar, setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melempar ancaman.

Presiden AS, Donald Trump baru saja melayangkan ancaman paling agresifnya terhadap rezim Teheran.

Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump menegaskan bahwa waktu bagi Iran untuk berkompromi sudah hampir habis.

Jika Iran tidak segera mengajukan proposal perdamaian yang lebih masuk akal, Washington tidak akan ragu untuk meluncurkan gelombang serangan militer yang jauh lebih destruktif.

"Waktu terus berjalan bagi Iran," ujar Trump.

"Jika mereka tidak datang membawa tawaran kesepakatan yang lebih baik, mereka akan dihantam dengan jauh lebih keras!" tegasnya.

Sebelumnya, rencana gencatan senjata yang sempat diupayakan lewat jalur diplomasi Pakistan dikabarkan telah mati suri atau berada dalam kondisi kritis.

Hubungan kedua negara kian memburuk setelah Gedung Putih secara tegas menolak draf kesepakatan dari Iran yang dinilai "tidak pantas".

Pihak Teheran melalui media pemerintahnya meminta AS menghapus seluruh sanksi ekonomi, mencairkan aset yang dibekukan, serta menghentikan blokade laut di Selat Hormuz secara instan sebelum negosiasi dimulai.

Di sisi lain, Iran sama sekali tidak menawarkan konsesi apa pun terkait program nuklir mereka—sebuah sikap yang membuat Trump meradang.

"Saya tidak suka surat (tanggapan) mereka. Sangat tidak pantas," ucap Trump saat menolak mentah-mentah penawaran tersebut.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Iran Ancam Ubah Teluk Oman Jadi 'Kuburan' bagi Kapal-kapal AS: Kita Sudah Bersabar sampai Sekarang

Iran mengancam akan berkonfrontasi dengan Amerika Serikat (AS) terkait blokade Angkatan Laut (AL) AS.

Anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, Mayjen Mohsen Rezaei, memperingatkan Laut Oman dapat menjadi "kuburan" bagi kapal-kapal AS jika ketegangan terus meningkat.

Laut Oman atau sering disebut Teluk Oman merupakan sebuah teluk yang menghubungkan Laut Arab dengan Selat Hormuz, yang kemudian bermuara ke Teluk Persia.

Teluk ini membentangi Iran, Pakistan, Oman, dan Uni Emirat Arab.

Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu serangan balasan oleh Teheran dan gangguan di Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan yang langgeng.

Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.

Sejak 13 April 2026, AS telah memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di jalur perairan strategis tersebut.

“Saran saya kepada AS secara militer adalah untuk mundur sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda."

"Jika tidak, pemahaman kami adalah bahwa blokade angkatan laut adalah tindakan perang, dan menanggapinya adalah hak alami kami,” kata Mayjen Mohsen Rezaei dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Minggu (17/5/2026).

Rezaei menambahkan sikap menahan diri Iran tidak boleh diartikan sebagai penerimaan tekanan atau ancaman.

“Jika kita sudah bersabar sampai sekarang, bukan berarti kita sudah menerimanya,” tegasnya.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Perang Lawan Iran Buat Ekonomi Israel Ambruk, Minus 3,3 Persen di Kuartal I 2026

Ekonomi Israel mengalami tekanan besar pada awal tahun 2026 setelah perang melawan Iran memicu perlambatan aktivitas bisnis, konsumsi masyarakat, hingga gangguan perdagangan nasional.

Data terbaru Biro Pusat Statistik Israel menunjukkan produk domestik bruto (PDB) negara itu mengalami kontraksi atau minus 3,3 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026.

Angka tersebut menandai kemunduran ekonomi pertama Israel setelah sebelumnya sempat diperkirakan akan mengalami pemulihan kuat pascaperang Gaza.

Meski penurunan itu masih lebih baik dibanding prediksi para ekonom dalam survei Reuters yang memperkirakan kontraksi hingga 4 persen, akan tetapi kondisi tersebut tetap menunjukkan besarnya dampak konflik regional terhadap perekonomian Israel.

Sebelum konflik dengan Iran pecah, ekonomi Israel sebenarnya mulai menunjukkan tanda pemulihan. Pada 2025 lalu, ekonomi Israel tumbuh 2,9 persen dan diproyeksikan melonjak lebih dari 5 persen pada 2026 setelah gencatan senjata di Gaza mengurangi tekanan perang berkepanjangan.

Namun situasi berubah drastis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Sebagai balasan, Iran menembakkan ratusan rudal dan drone ke wilayah Israel. Di saat yang sama, kelompok Hizbullah di Lebanon juga meningkatkan serangan ke wilayah utara Israel.

Gelombang serangan rudal balistik selama berminggu-minggu membuat sekolah ditutup, aktivitas bisnis melambat, dan belanja masyarakat turun tajam. Banyak perusahaan membatasi operasional karena ancaman keamanan yang terus meningkat.

Konsumsi Warga dan Ekspor Turun Tajam

Tekanan perang mulai terlihat jelas pada sejumlah indikator ekonomi utama Israel.

Dalam laporan resmi biro statistik, pengeluaran konsumen turun 4,7 persen pada kuartal pertama 2026. Penurunan ini mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat akibat ketidakpastian situasi keamanan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved