Rabu, 20 Mei 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Siap Gugat AS-Israel ke Pengadilan Internasional Gara-gara Serang 149 Tempat Budaya

Iran akan menggugat AS dan Israel atas serangan terhadap situs-situs budaya. Setidaknya 149 situs budaya rusak karena serangan AS dan Israel.

Tayang:
Editor: Nuryanti
IRNA
DAMPAK SERANGAN AS-ISRAEL - Tangkapan layar IRNA memperlihatkan kerusakan di Kompleks Budaya dan Sejarah Saadabad setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 16 Maret 2026. Iran akan menggugat AS dan Israel atas serangan terhadap situs-situs budaya. Setidaknya 149 situs budaya rusak karena serangan AS dan Israel. 

Namun, dalam banyak kasus tersebut, AS tidak pernah benar-benar dimintai pertanggungjawaban secara hukum di tingkat internasional maupun domestik.

Hal ini terjadi karena adanya prinsip hukum internasional yang dikenal sebagai “kekebalan kedaulatan”, yang membuat negara berdaulat sulit dituntut di pengadilan negara lain, ditambah dengan sikap AS yang tidak selalu mengakui yurisdiksi wajib lembaga hukum global.

Di tengah ketegangan geopolitik yang terus berlangsung, pernyataan Presiden AS Donald Trump pada awal April kembali memicu kontroversi.

Ia memperingatkan bahwa “seluruh peradaban Iran akan mati” jika negara tersebut tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat.

Ucapan ini menuai kritik keras dari berbagai pihak internasional.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan dirinya “sangat prihatin” terhadap pernyataan tersebut, sementara Paus Leo XIV menyebutnya “benar-benar tidak dapat diterima” karena dianggap memperburuk ketegangan dunia.

Trump kemudian kembali melontarkan ancaman serupa pada hari Minggu, dengan mengatakan bahwa Iran akan menghadapi kehancuran total jika tidak segera memberikan konsesi kepada Amerika Serikat.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pertahanan Iran menegaskan bahwa pihaknya “sepenuhnya siap” untuk menghadapi dan menangkis kemungkinan serangan baru dari Amerika Serikat maupun Israel, menandakan bahwa situasi ketegangan antara kedua pihak masih sangat tinggi, lapor Russia Today.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan mulai meletus pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas strategis di Iran.

Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal mencapai kesepakatan baru terkait program nuklir Iran.

AS dan Israel menuduh Teheran tengah mengembangkan senjata nuklir, namun Iran membantah keras dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan energi dan penelitian sipil.

Situasi kemudian meningkat tajam setelah serangan awal tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Iran juga menghentikan perundingan nuklir dan memperketat blokade di Selat Hormuz, yang berdampak pada terganggunya distribusi energi global serta naiknya harga minyak dunia.

Setelah sekitar 40 hari pertempuran, kedua pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan. Namun ketegangan belum mereda sepenuhnya, karena Amerika Serikat sempat menjalankan operasi militer bertajuk “Project Freedom” di Selat Hormuz, sebelum kemudian dihentikan untuk membuka ruang diplomasi.

Upaya perdamaian kembali mengalami hambatan pada 10–11 Mei, ketika Iran menolak proposal terbaru dari pemerintahan Donald Trump, terutama terkait tuntutan pemindahan cadangan uranium ke luar negeri yang dianggap melanggar kedaulatan Iran. Di sisi lain, setelah pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping, Donald Trump menyatakan bahwa China disebut menyetujui untuk tidak memasok peralatan militer ke Iran serta mendukung upaya pencegahan Iran memiliki senjata nuklir.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved